Kedai Tok Awang
Spaghetti Rasa Lamborghini
Sejak 2018, Mancini melewati 32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan, tujuh imbang dan hanya dua kali mengalami kekalahan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Lalu Lippi diganti Cesare Prandelli, disusul Antonio Conte, Gian Piero Ventura, dan sejak 2018 sampai hari ini, Roberto Mancini.
"Prandelli itu bisa bawa Italia ke final Euro 2012, Conte perempat final Euro, dan Ventura yang paling burik. Di tangannya, Italia gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2018. Kalah dari Swedia di babak playoff. Nah, Si Mancini ini memang belum kasih apa-apa. Cumak aku yakin dia bisa lebih baik," kata Mak Idam.
"Enggak kayak spaghetti lagi, Friend?" tanya Leman Dogol.
"Spaghetti, pasti. Tapi sekarang ini Spaghetti rasa Lamborghini."
"Alamakjang, macam mana pulak itu rasa Lamborghini?" tanya Ocik Nensi yang sedang meracik mi instan untuk dimakan sendiri. "Setahu ocik, yang ada itu rasa Ayam Bawang, Kari Ayam, Soto Medan, Kaldu...."
"Ini Spaghetti, Cik. Bukan Indomi," potong Jek Buntal diikuti tawa terkekeh.
Spaghetti pun tentu tidak ada rasa Lamborghini. Beda alam. Satu makanan satunya lagi mobil super kencang. Pengibaratan yang dikemukakannya, bilang Mak Idam, adalah untuk menggambarkan betapa Mancini meramu taktik dan strateginya dengan sangat cerdas dan berani.
Sembari tetap mempertahankan tradisi sepak bola Italia, Mancini memasukkan berbagai unsur modern untuk memperkayanya: menurunkan empat bek sejajar dalam sistem pertahanan gerendel, tapi memasang tiga gelandang untuk menopang tiga penyerang. Italia di bawah Mancini memainkan sepak bola terbuka yang tajam dan agresif.
Sejauh ini, hasilnya maut. Sejak 2018, Mancini melewati 32 pertandingan dengan catatan 23 kemenangan, tujuh imbang dan hanya dua kali mengalami kekalahan. Persentase kemenangannya mencapai 71 persen. Lebih baik dibanding catatan dua pelatih legendaris Italia, Vittorio Pozzo dan Arrigo Sachi.
"Nanti malam sudah main Piala Eropa. Pertandingan pertama, Italia main sama Turki," kata Leman Dogol. "Aku enggak jagokan Italia sampai ke final. Apalagi juara. Tapi kalok untuk pertandingan ini tetap belum berani aku pegang Turki."
"Aku terbalik, Bang," ujar Jek Buntal menyambung. "Turki sekarang lagi bagus di kualifikasi Piala Dunia [2022]. Bisa jadi ini terbawa-bawa, kan?"
Sejauh ini kualifikasi Piala Dunia 2020 Zona Eropa baru memainkan tiga laga. Turki tergabung di Grup G dan sedang memuncaki klasemen. Mereka menorehkan dua kemenangan, masing-masing dari Belanda dan Norwegia. Namun di lain sisi, terhadap Italia mereka punya rekor buruk. Pertama kali berlaga pada tahun 1962, Turki inferior. Mereka kalah lima kali dari delapan laga, dan dari laga-laga ini, Italia mencetak 11 gol lebih banyak.
Leman Dogol, Mak Idam, Wak Razoki, Jek Buntal, dan Tok Awang masih berkutat dengan argumentasi pilihan-pilihan mereka ketika Jontra Polta masuk kedai. Wajahnya berseri-seri. Sebentuk buku kecil diletakkannya di meja. "Yok, mulai hari ini kita buka lapak!" katanya.(t agus khaidir)
Pernah dimuat di Harian Tribun Medan
Jumat, 11 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/timnas-italia.jpg)