Kedai Tok Awang
Emas Jangan Jadi Suasa Lagi
Belgia pernah digasak Italia dan membuat kiper Thibault Curtois mengakui mereka kalah segalanya. Bagaimana sekarang? Apakah akan terulang?
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Perempat Final Euro 2020
- Belgia vs Italia
TAHUN 2018, Piala Dunia, Belgia nyaris sampai di puncak. Sayang di semi final langkah mereka terhenti oleh Perancis. Pada laga perebutan posisi tiga, versus Inggris, mereka menang. Inilah pencapaian tertinggi Belgia di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, pada edisi 1986, mereka berada di posisi empat, lagi-lagi setelah tersungkur di semi final; dikalahkan Argentina lewat dua gol Diego Maradona.
Di kejuaraan regional Eropa, Belgia setingkat lebih baik. Runner up, di tahun 1980. Jerman (Barat) memupus harapan mereka.
"Setelah itu sepak terjang Belgia memang hampir-hampir senyap. Ikut memang orang itu main, tapi, ya, gitu, lebih banyak kalahnya dari menangnya. Kalok istilah penulis-penulis bola di koran dulu, jadi lumbung gol," kata Lek Tuman.
"Eh, di Piala Eropa malah sering enggak ikut, Pak Kep,” ucap Sangkot menimpali. "Setelah runner up itu memang sempat ikut lagi di tahun 1984, tapi langsung gugur di babak grup. Abis itu ngilang."
Piala Dunia 1986 menjadi puncak dari eksistensi satu generasi pemain-pemain terbaik Belgia di era 1980-an. Eric Gerets, Rene Vandereycken, dan sudah barang tentu Jan Ceulemans. Kejuaraan ini juga menandai lahirnya superstar baru, Enzo Scifo. Namun dengan pemain-pemain seperti Scifo, atau Marc Wilmots dan Wesley Sonck yang belakangan juga melejit di level klub, "suara" Belgia justru makin sayup.
Memang, di Piala Dunia mereka tetap lolos, tapi entah kenapa, Piala Eropa seperti sangat sulit tembus. Selepas edisi 1984, mereka gagal melewati fase kualifikasi Euro 1988, 1992, dan 1996. Sempat lolos tahun 2000 untuk kemudian "hilang" lagi di edisi 2004, 2008, dan 2012.
Belgia mulai menunjukkan tanda kebangkitan pada Piala Dunia 2014. Dengan rata-rata pemain berusia di bawah 25 tahun, Die Roten Teufel alias Setan Merah –julukan Tim Nasional Belgia– menembus babak perempat final. Mereka diadang Argentina.
Dua tahun berselang, dengan materi pemain yang hampir sama, Belgia lolos ke putaran final Piala Eropa di Perancis, dan langsung ditempatkan sebagai favorit juara –bersama tuan rumah, dan tim yang dianggap punya skuat paling solid saat itu, Jerman.
"Ngeri-ngeri pemain Belgia waktu itu," ujar Jontra Polta. "Beda sama tim mereka di era 1980-an dan 1990-an yang rata-rata pemainnya merumput di klub dalam negeri, di era ini, Belgia seperti pasukan multinasional."
Skuat Belgia di Piala Eropa 2016 berkekuatan 23 pemain yang merumput untuk 18 klub di delapan negara berbeda. Dan di antara pemain-pemain ini, hanya empat yang berasal dari Belgia. Empat dari empat klub; Mechelen, Club Bruge, Genk, dan Oostende. Selebihnya di klub-klub besar, dan hampir semuanya merupakan penggawa-penggawa utama.
Namun dengan materi yang serba mengkilap ini Belgia ternyata finish di perempat final juga. Mereka dibekap Wales 3-1.
"Ingat aku pertandingan itu. Padahal Belgia diunggulkan. Wales 'di bawah', banding pulak. Iya, lah, kalok dibanding-bandingkan, ya, memang harus gitu. Harus Belgia yang 'di atas'. Belgia punya Hazard, Lukaku, De Bruyne, Meunier, Curtois, Origi, ada Radja Nainggolan juga. Sedangkan Wales paling-paling Ramsey dan Gareth Bale. Eh, malah kalah. Cumak, sebenarnya, kalok mau jujur-jujuran ini enggak terlalu mengejutkan jugak. Gelagat Belgia enggak akan sampai ke final, apalagi juara, sudah kelihatan di laga pertama orang itu," kata Leman Dogol.
Lek Tuman mengangguk. "Pas! Belgia main sama Italia. Satu grup mereka. Ingatku, kayak diajari main bola orang itu. Padahal, Italia pun enggak paten-paten kali timnya. Enggak ada bintang yang betul-betul bintang. Enggak ada superstar. Rata-rata aer aja. Kalok dibanding Belgia, ya, memang kalah gaya," ujarnya.
"Kalah gaya, tapi menang angka, ya, Pak Kep," ucap Sangkot menyergah, lalu tertawa ngakak. Mak Idam, yang duduk di meja seberang sambil memetik gitar –memainkan 'Volare' dari Domenico Modugno (tentu dengan lirik yang asal-asalan belaka kecuali pada bagian reffrein)– ikut tertawa. Bilangnya kemudian, Belgia di tahun itu cuma keberatan nama.
"Orang-orang bilang 'Generasi Emas'. Menurut awak, di tahun 2016 itu belum cocok disebut emas. Masih suasa. Emas campur. Sama warnanya memang, tapi beda kilatnya. Yang satu kilat betulan, satunya lagi cumak kilat-kilat jambu," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/belgia-vs-italia-2021.jpg)