Kedai Tok Awang

Emas Jangan Jadi Suasa Lagi

Belgia pernah digasak Italia dan membuat kiper Thibault Curtois mengakui mereka kalah segalanya. Bagaimana sekarang? Apakah akan terulang?

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO
FOTO kombo pemain Tim Nasional Belgia Romelu Lukaku diapit dua pemain Tim Nasional Italia Leonardo Bonucci (kiri) dan Giorgio Chiellini. Belgia dan Italia akan berhadapan dalam laga Perempat Final Euro 2020 di Stadion Alianz Arena, Munich, Jerman, Sabtu (3/7/2021) dinihari WIB ini. 

Kiper Belgia Thibaut Courtois, dalam wawancara dengan ESPN beberapa pekan setelah kejuaraan selesai, secara jujur mengakui bahwa di hadapan Italia mereka memang kehilangan segala gaya. Italia unggul segala-galanya, baik segi teknik, organisasi permainan, dan juga secara taktikal. Italia menunjukkan pada Belgia, di kompetisi seketat dan seprestisius Piala Eropa, ada modal lain yang harus mereka miliki: mental bertanding.

Belajar dari kekalahan ini, Belgia membaik kala datang ke Rusia 2018. Skuat belum banyak berubah. Hanya nakhoda yang berganti, dari Marc Wilmots ke Roberto Martínez. Belgia hampir kalah melawan Jepang di babak 16 besar dan terus berada dalam tekanan ketika berhadapan dengan Brasil di perempat final.

"Kurasa lawan Jepang yang paling gawat," kata Leman Dogol. "Udah ketinggalan dua gol, bisa dibalekkan orang itu jadi 3-2. Selain strategi Si Martinez, mental kurasa jugak penting perannya di sini. Semantap apapun strateginya nggak akan jalan kalok pemainnya mental tempe."

"Kayak Timnas Indonesia, lah, ya," sergah Mak Idam. "Mental tempe rata-rata pemainnya. Kalok begini, ya, bagus enggak usah diusaha-usahakan lagi. Mending konsentrasi main patok lele aja. Cemana, mau siapa pun pelatihnya, mau Mourinho, mau Guardiola, mau Zidane, atau sekaligus orang itu tiga, enggak akan jauh beda. Lawan Vietnam aja sampek tekincit-kincit kayak gitu. Belum lagi lawan..."

"Sorry, sorry, Mak. Tunggu dulu," potong Sangkot. "Jangan ngerusak suasana, lah. Sedang serius-seriusnya, kok, belok ke Indonesia pulak. Bikin sakit hati aja, Mak, kalok becakap soal sepak bola Indonesia. Jadi balik lagi, lah, kita ke Belgia tadi, ya. Kelen tengok, cemana sekarang Belgia ini? Makin mantap? Masalahnya, kan, nanti Italia lagi lawan orang itu. Dan Italia sekarang beda sama Italia tahun 2016."

Lima tahun lalu Italia bermain di bawah Antonio Conte. Sebagai pelatih Italia era modern, pada dasarnya, racikan Conte dan pelatih Italia sekarang, Roberto Mancini, tidak terlalu menunjukkan beda yang signifikan. Hanya saja, Mancini lebih halus dalam memasukkan gaya tradisional Cattenacio. Dengan kata lain, pemaduan Cattenacio dengan unsur-unsur sepak bola di luar Italia peninggalan Conte dapat disempurnakan dengan baik oleh Mancini.

LINE up pertandingan Belgia versus Italia di Perempat Final Euro 2020
LINE up pertandingan Belgia versus Italia di Perempat Final Euro 2020 (TRIBUNNEWS)

"Oke, jadi cemana kesimpulannya?" tanya Jontra Polta. "Kukasih sikit gambaran sama kelen. Di Belgia, De Bruyne belum tentu main. Eden Hazard juga belum tentu main. Kalok Italia, siapa, ya, mungkin Chiellini. Mungkin masih belum pulih betul cederanya. Jadi terserah kelen. Mana yang kelen anggap lebih penting, De Bruyne dan Hazard untuk Belgia, atau Chiellini untuk Italia."

"Chiellini kudengar mungkin bisa main, Ketua," sergah Mak Idam lagi. "Kemarin sudah ikut latihan dia. Tapi, ya, mau diturunkan mau enggak itu urusan Mancini."

Jontra Polta mengangguk. "Ya, iya, lah, masak pulak urusan Jokowi. Pastinya Mancini punya pertimbangan matang, lah. Dengan kondisi kaki setengah sengklek, apa sanggup Chiellini itu lawan Lukaku. Di Liga Italia aja, pas Juventus main sama Inter maksudku, enggak sanggup dia. Bolak-balik dia dan Bonucci kena pelpeli. Padahal waktu itu kondisi Chiellini baik-baik saja."

Oke, oke, udah dapat aku gambarannya. Kalok pertandingan yang satu lagi cemana? Spanyol lawan Swiss? Kira-kira berat ke mana?" tanya Lek Tuman.

"Ini seru juga, Pak Kep," kata Leman Dogol. "Spanyol yang datang tanpa satu orang pun pemain Real Madrid mulai stabil. Mulai dapat ritme orang itu. Ujiannya kemarin pas lawan Kroasia. Lini tengah dan depan sudah bagus, tapi di belakang ada sikit masalah. Kipernya itu. Kalok blunder sudah, lah. Semua kiper lejen pun pernah bikin blunder. Bahkan ada yang lebih memalukan. Nah, masalahnya di dua gol lain. Kalok aku yang ditanya, aku lebih pilih De Gea ketimbang dia. Enrique harus hati-hati kali, lah. Swiss ini mirip Kroasia. Main kencang dan enggak gampang menyerah. Kroasia blunder di babak perpanjangan waktu. Kalok aja Morata enggak berada di posisi yang pas, bisa jadi hasilnya lain. Bukan begitu, Ketua?"

FOTO kombo penjaga gawang Tim Nasional Spanyol Unai Simon, saat berlaga kontra Kroasia pada babak 16 Besar Euro 2020 di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, 28 Juni 2021.
FOTO kombo penjaga gawang Tim Nasional Spanyol Unai Simon, saat berlaga kontra Kroasia pada babak 16 Besar Euro 2020 di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, 28 Juni 2021. (AFP PHOTO/WOLFGANG RATTAY/STUART FRANKLIN)

Jontra Polta mengangkat bahu. "Terserah Dek Leman saja. Mana baiknya. Mana yang soor. Sebagai pengelola bursa saya tidak bisa memberikan petunjuk terlalu jauh. Tidak bisa mengarah-ngarahkan."

Dari balik steling, Ocik Nensi berseru. "Ah, makin lama makin kayak politisi cakap ketua. Enggak jelas. Pemilu masih lama, Ketua. Dan kalok pun pemilu yang main nanti tetap Jokowi dan Prabowo juga."

Sudung menyahut. "Jokowi enggak bisa lagi, Cik. Enggak boleh jadi presiden tiga periode."

"Kata siapa? Itu Suharto sampai 32 tahun bisa, kok."(t agus khaidir)

Pernah dimuat Harian Tribun Medan
Jumat 2 Juli 2021
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved