Kedai Tok Awang
Grup Neraka Cuma Hiperbola
Portugal didepak Belgia, Perancis ditekuk Swiss, dan Jerman bertekuk lutut dari seteru abadinya Inggris. Padahal ketiganya kandidat kuat juara.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Jelang 8 Besar Euro
AKHIRNYA, kejutan yang sungguh-sungguh kejutan menang benar-benar terjadi di Euro 2020. Tak tanggung. Empat tim yang berada di jajaran teratas sebagai favorit juara telah angkat koper. Padahal kejuaraan baru sampai di fase delapan besar.
Belanda sudah pulang. Pun Portugal, Perancis, dan Jerman. Tiga yang disebutkan terakhir, pada babak penyisihan grup sama-sama tergabung di Grup F, grup yang dengan gagah disebutkan sebagai 'grup neraka'.
Entah sejak kapan pengistilahan ini muncul dan mulai dipakai. Entah apa pula latar belakangnya, hingga kata 'neraka' yang berkecondongan pada kematian dan kehidupan setelah mati dan ketersiksaan dan kengerian, dikaitpautkan dengan sepak bola, wa bil khusus kompetisinya.
Namun di Euro 2020, kata 'neraka' ini pada akhirnya sekadar jadi kata hiperbola yang diolok-olok. Betapa tidak. Alih-alih menyiratkan kengerian, atau katakan sajalah penggambaran persaingan sengit menuju tangga juara, neraka grup F hanya menjadi semacam jalan pulang.
Satu per-satu mereka mengepak koper. Hongaria tentu saja. Disusul Portugal, lalu Perancis, dan yang teranyar Jerman. Portugal didepak Belgia, Perancis ditekuk Swiss, dan Jerman bertekuk lutut dari seteru abadinya Inggris.
"Kalok Portugal sebenarnya kemarin itu fifty-fifty. Lawannya Belgia, keras kali juga, kan. Jadi memang beda peluang antara menang sama kalah, ya, setipis kulit bawang," kata Jontra Polta.
Leman Dogol mengangguk. "Awak lihat pun gitu, Ketua. Imbang-imbang, lah, mainnya. Enggak jelek main Portugal itu. Malah kalok tak silap lebih banyak orang itu pun yang nyerang. Lebih banyak pegang bola, lebih banyak nendang ke gawang. Cumak, ya, memang serangan Belgia yang jadi gol. Itulah sepak bola. Yang main bagus belum tentu menang."
"Betul, setuju saya," ucap Zainuddin menyambung. "Portugal atau Belgia, siapa pun masuk, atau sebaliknya, siapa yang tersingkir, memang enggak terlalu mengejutkan sebenarnya. Beda sama Belanda, Perancis, dan Jerman."
Jek Buntal yang sedang menggenjrang-genjrengkan gitar mengikuti tutorial lagu Satru dari Denny Caknan yang ditontonnya di YouTube, cepat menyergah.
"Belanda udah kita bahas kemarin. Memang dongok Frank de Boer itu. Pas yang dibilang Mourinho. Kenak sama Ceko yang mainkan strategi paten bingung dia, enggak tahu mau bikin apa."
"Perancis cemana, Ketua?" tanya Leman Dogol. "Apa Si Deschamps itu sama dongoknya?"
Jek menggeleng. "O, enggak. Masalah Perancis bukan di Deschamps, tapi di pemain-pemainnya. Apa, ya? Kalok menurutku, arogan-arogan kali. Sok! Banyak gaya!"
"Aih, kok, jadi emosi gitu, Ketua? Selo, Ketua, nanti naik gula darah," seru Ocik Nensi dari meja seberang. Setelah sepekan terakhir menonton film-film di Netflix, hari ini ia kembali ke selera asal. Bersama Tante Sela, sinetron berjudul Aku Terpaksa Merebut Suami Sahabatku, ditonton sembari dibahas dengan tingkat keseriusan yang menggetarkan.
Ane Selwa yang sedari tadi serius menonton duel Tok Awang dan Wak Razoki di papan catur ikut menyeletuk.
"Ketua kalah berapa rupanya? Banyak? Memang agak lucu-lucu sekarang, Ketua. Unpredictable. Marvelous. Bukan cumak ketua aja, setahuku banyak yang lebih rusak."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/grup-neraka-1.jpg)