Breaking News:

Kedai Tok Awang

Sampai Kapan Jadi Singa yang Manis?

Untuk kali kesekian Inggris kembali ke "penyakit kambuhan" itu. Padahal fase kualifikasi mereka hampir tidak tertandingi.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/PAUL ELLIS/JUSTIN TALLIS
Foto Combo pemain dan pelatih Republik Ceko dan Inggris jelang pertandingan lanjutan Euro 2020. 

DIBANDING negara-negara kuat sepak bola di Eropa, pada dasarnya Inggris tidak pernah tercecer jauh. Terutama jika tolok ukurnya adalah melahirkan talenta-talenta berbakat. Nyaris dalam setiap musim muncul pemain muda yang menonjol dengan performa sangat mengesankan, lalu mulai diberi label rising star. Atau kadangkala ada juga pemain yang tidak lagi muda tapi secara menakjubkan meroket –tidak disangka-sangka; sebangsa mutiara yang ditemukan terlambat. Yang terakhir ini, misalnya, Jamie Fardy.

“Inggris ini cemana, lah, mau dibilang, ya. Enggak pernah nggak bagus timnya. Selalu jadi unggulan, tapi, ya, gitu. Kalok udah main di putaran final, kok, jadi lemas,” kata Leman Dogol.

“Di babak-babak kualifikasi kayak singa. Seperti julukannya yang bikin segan itu; Tiga Singa. The Three Lions,” ujar Sangkot menimpali. “Garang dan menakutkan. Semua dilibas orang itu. Eh, pas sampai putaran final malah jadi singa yang manis. Hilang ganasnya.”

Udah kayak penyakit aja, memang. Kambuh tiap dua tahun. Sekali di Piala Eropa, sekali lagi di Piala Dunia. Makanya enggak juara-juara sejak 1966. Itu pun karena waktu itu nggak ada VAR. Kalok ada mungkin Jerman yang juara,” kata Mak Idam pula.

Dan tahun ini, untuk kali kesekian Inggris kembali ke "penyakit kambuhan" itu. Di fase kualifikasi Euro 2020 mereka hampir tidak tertandingi. Menyapu tujuh dari delapan laga Grup A, melesakkan 37 gol dan hanya kebobolan enam gol. Selisih gol plus (+) 31. Hanya Belgia dan Italia yang mencetak kemenangan dan gol lebih banyak. Belgia plus 37, Italia plus 33, tapi perlu dicatat, keduanya memainkan pertandingan lebih banyak (10 berbanding delapan).

Catatan lain, penyerang utama Inggris, Harry Kane menjadi top skor kualifikasi dengan torehan 12 gol. Kane menorehkan rata-rata 1,5 gol per-laga.

Jadi apa lagi yang kurang? Saking banyaknya talenta, Pelatih Tim Nasional Inggris Gareth Southgate kesulitan untuk memilih 26 pemain untuk dibawanya ke putaran final Euro. Inggris termasuk di antara kontestan yang paling akhir menyetorkan daftar pemainnya ke UEFA.

“Tapi itu pulak, lah, ya, kurasa. Saking banyak pilih-pilih, akhirnya malah jadi berantakan. Ada banyak pemain, malah empat pemain cedera yang dimasukkan Si Southgate ini. Pemain yang baik-baik saja kondisi engkel dan dengkulnya malah ditinggal," ucap Lek Tuman yang diamini Sudung dan Ane Selwa yang sedang berhadap-hadapan duel Ludo yang seru.

Zainuddin yang belum lama datang dan sekilas pintas sempat mendengar percakapan awal menimpali. "Agak aneh memang pilihan Southgate ini. Harusnya, kan, untuk kejuaraan periodik sebesar ini dia membawa pemain yang betul-betul bugar. Karena sekiranya sampai ke final, Inggris bertanding tujuh kali. Terlalu riskan untuk memasukkan pemain yang sedang dalam masa penyembuhan cedera. Apalagi yang masih cedera," katanya.

"Betul, Pak Guru," sambung Ane Selwa. "Jatah pemain tiap skuat 26 orang. Kalok empat orang tidak bugar, artinya, kan, cumak punya 21 pemain orang itu."
Dari empat pemain cedera ini paling disorot tentulah Harry Maguire. Sepanjang kualifikasi, Maguire tidak tergantikan sebagai orang terakhir di jantung pertahanan Inggris. Delapan laga kualifikasi Maguire main penuh. Duetnya bersama Michael Keane sangat solid.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved