Kedai Tok Awang
Sampai Kapan Jadi Singa yang Manis?
Untuk kali kesekian Inggris kembali ke "penyakit kambuhan" itu. Padahal fase kualifikasi mereka hampir tidak tertandingi.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Kebingungan? Iya, kesan bingung memang jelas tertangkap. Mings dan Stone mungkin memang pilihan terbaik dalam kondisi terjepit. Southgate, apa boleh buat, tidak punya pilihan lain. Alih-alih mencoba pemain lain, sudahlah, tempatkan saja pemain yang pernah merasakan atmosfer pertandingan babak kualifikasi. Namun, apabila memang itu alasannya, sebuah ambugi segera melesat. Southgate menunjuk Mings dan Stone sebagai penggawa benteng pertahanan, tapi di depan dia meminggirkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho.
Di fase kualifikasi, Rashford bermain tiga kali sebagai starter. Sancho empat kali. Klasifikasi mereka jelas mencukupi. Namun Gareth Southgate justru memilih Phil Foden dan menempatkannya di jajaran starting eleven. Padahal di babak kualifikasi, Foden tak sekali pun pernah bermain sejak menit pertama.
"Tahu kelen yang lebih membingungkan?" tanya Jek Buntal. "Skema tim Inggris. Di kualifikasi, Southgate favorit kali pakai 4-3-3. Biasanya yang di depan itu Kane, Sterling, dan Sancho, atau nggak Si Rashford. Nah, di dua pertandingan kemarin, dia pakai 4-2-3-1."
Tidak ada Sancho. Tidak ada Rashford. Adanya Foden. Dia dipasangkan tiga serangkai di belakang Kane, bersama Raheem Sterling dan Mason Mouth. Kenapa Foden?
"Mungkin karena runner up itu kemarin City di Liga Champions," kata Ane Selwa.
Sudung menyergitkan kening. "Apa hubungannya, Ne?"
"Musim ini, kan, bagus main Phil Foden ini. Di Liga bagus. Di Liga Champions, walaupun enggak juara, tetap bagus. Paling stabil dia mainnya. Makanya jadi kesayangan Guardiola."
"O, jadi maksud Ane, ada dibisikkan Guardiola sama Southgate biar dimainkannya Si Foden ini?" tanya Leman Dogol pula.
Pertanyaan berbalas jawab, dan makin riuh lantaran Mak Idam, Jek Buntal, Sudung, dan Lek Tuman ikut mengutarakan pendapat, terutama setelah Jontra Polta yang baru tiba di kedai bersama Tok Awang, menyodorkan buku kecilnya.
"Sudah, lah, inti-intinya saja. Yang mudah jangan kelen persulit, jangan dirumit-rumitkan. Supaya cepat, Ceko atau Inggris, yang mana kelen pegang?" tanyanya.
Kegagalan menuntaskan Skotlandia menyeret Inggris ke situasi tak nyaman. Republik Ceko sementara di peringkat pertama karena unggul selisih gol. Andaikata Inggris kalah, dan Kroasia menang dari Skotlandia, maka mereka bakal melorot lagi ke posisi tiga dan tinggal berharap pada “nasib baik” untuk lolos ke 16 besar.
Apakah skenario seperti ini mungkin terjadi? "Tahu kelen, yang tak mungkin di sepak bola itu cuma Indonesia jadi Macan Asia seperti cita-cita Pak Prabowo," kata Tok Awang. “Bolak-balik ganti pelatih, tetap lapuk juga. Bentar lagi sama Laos dan Brunei pun kalah kita."(t agus khaidir)
Pernah dimuat Harian Tribun Medan
Selasa, 22 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ceko-vs-inggris-combo.jpg)