Kedai Tok Awang

Yang Menggebrak Saat Kritis

Menang, kalah, bahagia, nestapa, gelak tawa dan airmata. Juga kejutan-kejutan. Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Pun sepak bola.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/MARTIN MEISSNER
LOLOS - Para pemain dan ofisial Tim Nasional Denmark meluapkan kegembiraan usai memastikan kemenangan atas Rusia pada laga terakhir Grup B Euro 2020 di Stadion Parken, Copenhagen, 21 Juni. Kemenangan ini membuat Denmark naik ke posisi dua klasemen Grup B sekaligus memastikan tiket ke Babak 16 Besar 

DI antara sebab sepak bola menjadi tontonan paling masyhur adalah kemiripannya dengan bagaimana kehidupan ini berjalan. Menang, kalah, bahagia, nestapa, gelak tawa dan airmata. Juga kejutan-kejutan. Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Pun sepak bola. Ikhtiar demi ikhtiar: memilih pelatih, menentukan pemain, menuntaskan racikan sendiri sembari mengintip strategi lawan. Lalu doa-doa dan dan semua upaya berhenti sampai di sini. Perkara hasil, entah menang entah kalah atawa imbang belaka, ada yang lebih punya kuasa.

Maka memang seringkali yang terjadi bukan lagi sekadar kejutan. Barangkali tidak berlebihan jika disebut "di luar nalar". Grup B Euro 2020, setidaknya sampai pertandingan berjalan 73 menit, komposisi klasemen adalah Belgia dengan torehan poin tujuh (selisih gol +5), disusul Finlandia empat poin (selisih gol 0), Denmark tiga poin (selisih gol -1) dan Rusia tiga poin (selisih gol -2).

Denmark, sampai menit 73 itu telah unggul 2-1 dari Rusia dan naik ke posisi tiga. Regulasi peringkat ketiga terbaik (komposisi 16 besar = 12 peringkat 1 dan 2 tiap grup + empat peringkat tiga terbaik) membuat peluang Denmark tetap hidup meski sudah dua kali kalah.

Namun dalam posisi seperti ini, rasa-rasanya akan tetap sulit bagi mereka bersaing memperebutkan jatah empat tiket itu. Tiga poin dengan selisih gol minus satu merupakan modal yang buruk. Maka di Stadion Parken, Copenhagen, suporter-suporter Denmark meniti tiap aliran bola dengan air muka harap-harap cemas. Di sudut-sudut kota Copenhagen, di bar-bar yang menggelar nonton bareng, juga di tempat-tempat lain di Denmark, kecemasan serupa membekap. Makin tak keruan.

Berselang satu menit, arah angin mulai berbalik. Di Stadion Krestovsky, Saint Petersburg, Lukas Hradecky, kiper Finlandia melakukan gol bunuh diri. Belgia unggul 1-0, menjadikan poin mereka sembilan. Adapun nilai Finlandia kembali tiga, dengan selisih gol minus satu.

Kabar ini sampai ke Parken dan membuat para suporter Denmark sedikit terlonjak. Iya, sedikit, lantaran belum cukup. Finlandia masih di peringkat dua. Nilai mereka sama dengan selisih gol yang juga sama, tapi Finlandia unggul head to head. Pada laga pembuka yang diwarnai insiden jatuhnya Christian Eriksen, mereka menang 1-0.

"Awak yang nonton pertandingan itu pun ikut deg-degan juga. Padahal waktu Indonesia tekincit-kincit dibantai Vietnam dan Uni Emirat Arab, malah biasa-biasa aja. Apa karena sudah biasa kalah mungkin, ya? Tapi jujur, kemarin ikut-ikutan pulak awak nengok jam. Eh, masih ada enam belas menit. Masih cukup waktu. Portugal aja bisa cetak dua gol dalam lima menit, walau ke gawang sendiri," ucap Mak Idam seraya tertawa.

"Aku juga yakin begitu," sahut Sudung. "Mungkin karena tahu Belgia sedang unggul, pemain-pemain Denmark main kayak kesetanan gitu. Ngeri kali serangan mereka. Ibarat kata tinggal nunggu nasib aja mereka ini. Kalok nasib baik, pasti gol?

Nasib baik itu ternyata memang datang. Lima menit setelah gol bunuh diri Hradecky, di Stadion Parken, Andreas Christensen mencetak gol ketiga Denmark, membuat selisih gol mereka jadi nol dan naik ke peringkat dua. Dan begitulah, sorak-sorai di stadion, juga denting-denting gelas bir yang diadu di bar-bar, tidak lagi tertahankan ketika hanya dua menit setelahnya terbetik lagi kabar dari Saint Petersburg: Belgia menggandakan keunggulan lewat Romelu Lukaku. Finlandia makin jauh tertinggal. Dan jalan-jalan pun segera dipenuhi warga Denmark, baik yang berseragam tim nasional maupun tidak, tatkala di menit 82, Joakim Pedersen menegaskan kemenangan Denmark.

TERIAK - Suporter Denmark berteriak saat Tim Nasional Denmark mencetak gol ke gawang Rusia pada laga terakhir Grup B Euro 2020 kontra Rusia di Stadion Parken, Copenhagen, 21 Juni.
TERIAK - Suporter Denmark berteriak saat Tim Nasional Denmark mencetak gol ke gawang Rusia pada laga terakhir Grup B Euro 2020 kontra Rusia di Stadion Parken, Copenhagen, 21 Juni. (AFP PHOTO/Jonathan NACKSTRAND)

"Betul-betul sangat kritis posisi Denmark itu," kata Jontra Polta. "Sudah sedikit sekali yang meramalkan mereka bisa lolos. Lebih banyak yang menjagokan Rusia. Urut-urutannya Belgia, Rusia, dan Finlandia. Hubar-habir semua prediksi. Eh, kembali ke posisi awal, sebenarnya. Denmark, kan, memang dijagokan mendampingi Belgia karena punya tradisi bola yang lumayan di Eropa. Pernah juara jugak, kan. Cumak, setelah Si Eriksen tumbang, dan kalah lagi sama Belgia di pertandingan kedua, telak pula, hampir enggak ada lagi yang berani pegang orang itu."

Keseruan juga terjadi di Grup D. Sampai pertandingan kedua, Republik Ceko memimpin. Namun torehan empat poin mereka sama sekali belum aman lantaran di peringkat kedua ada Inggris yang mengekor dengan poin sama. Hanya beda selisih gol. Ceko plus dua sedangkan Inggris plus satu. Adapun peringkat ketiga dan keempat diduduki Kroasia dan Skotlandia yang masing-masing mengemas poin satu, dengan selisih gol masing-masing minus satu dan minus dua.

"Sebenarnya kalok Ceko dan Inggris mau main selo, ya, udah aman mereka. Seri-seri aja. Enggak usah paksa kali. Melanggar orang itu berdua ke enam belas besar," ucap Leman Dogol.

Pak Udo yang sedang main catur dengan Wak Razoki menyergah. "Ini Euro, Man. Piala Eropa. Bukan Copa America. Mana ada setting tipu-tipu kayak gitu di sini."

"Ah, kurang jauh main Pak Udo," kata Sudung. "Ada juga, Pak Udo, cumak mungkin agak cantek sikit mainnya. Lebih halus sunglapnya. Ingat Pak Udo Michael Platini? Presiden UEFA? Kalok bersih sepak bola Eropa ini, tak akan masuk bui Si Platini ini."

Tok Awang menyela. Menurutnya, pada Grup D yang terjadi memang bukan upaya pengaturan hasil pertandingan dalam rangka suap, melainkan strategi memilah-pilih lawan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved