Kedai Tok Awang
Makin Dekat ke Jalan Pulang
SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.
Begitulah Inggris selalu melempar klaim bahwa Inggris merupakan asal-muasal olahraga ini.
Meski klaim ini telah kerap mendapat bantahan; Bill Muray dalam The World Game: A History of Soccer menyebut, sesuatu yang mirip sepak bola telah dimainkan oleh orang-orang di era Mesir Kuno, Yunani, dan Cina (dibuktikan berbagai gambar di atas kulit binatang maupun ukiran di dinding batu), Inggris tetap bersikukuh.
Argumen mereka, sepak bola yang dimaksud adalah sepak bola sebagaimana yang dimainkan saat ini.
Sepak bola modern.
Sepak bola sebelas lawan sebelas dengan lapangan dan dua gawang, dan dengan bola yang bukan tengkorak kepala manusia.
Aturan ini memang ditetapkan di Inggris pada tahun 1863 –meski dalam satu artikel di L´Osservatore Romano, edisi 28 Juni 2010, disebut bahwa permainan yang mirip sepak bola modern sudah dimainkan orang-orang dari Suku Guarani di Paraguay pada 1793 atau 70 tahun sebelum klaim Inggris.
Namun katakan sajalah Inggris benar.
Katakanlah mereka memang “nenek moyang” sepak bola.
Maka sampai di sini akan mencuat ironi.
Betapa sebagai “penemu”, sebagai “nenek moyang”, atau pionir atau tanah air atau entah apalah namanya, Inggris tertinggal jauh dari negara-negara yang justru lebih belakangan mengenal sepak bola.
Inggris baru satu kali menjuarai Piala Dunia dan bahkan belum pernah sekali pun menyentuh laga puncak Piala Eropa.
“Makanya Inggris tu bolak-balik sebut ‘Football Coming Home’. Sepak bola pulang ke rumah. Cumak masalahnya, slogan aja. Enggak pulang-pulang jugak barang itu,” kata Jek Buntal.
“Lebih parah dari Bang Toyib berarti, ya, Mak?” ujar Mak Idam menyambung.
“Bang Toyib cumak tiga kali puasa tiga kali lebaran enggak pulang. Sepak bola enggak pulang ke Inggris dari tahun 1966. Udah setengah abad lebih.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/inggris-vs-ukraina_harry-kane_perempat-final-euro-2020.jpg)