Kedai Tok Awang
Makin Dekat ke Jalan Pulang
SATU cita-cita besar Inggris yang sampai sekarang belum kesampaian adalah memulangkan sepak bola ke “tanah airnya”.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Setelah sejenak terjeda oleh rambasan gitar Mak Idam yang ternyata dengan agak canggih disambut Tante Sela (seturut gaya Jessica Bunga alias Jebung [... Bang Toyib kenapa tak pulang-pulang, anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu...] yang katanya ditontonnya berulangkali di YouTube), percakapan mengenai Inggris berlanjut lagi.
Sepak bola Inggris berada di titik nadir pada medio 1980-an sampai awal 1990-an.
Stadion-stadion yang buruk; tua dan tidak memenuhi standar keamanan.
Suporter-suporter perusuh.
Hooliganisme menyebar dan merasuki hampir semua klub.
Nyaris tiap pertandingan berkesudahan dengan kerusuhan.
Mobil-mobil dibakar.
Fasilitas-fasilitas publik dibakar dan dirusak.
Dan entah berapa banyak nyawa melayang.
Satu yang terparah adalah kerusuhan yang dipicu suporter Liverpool [berdasarkan penyidikan polisi] pada final Piala Champions kontra Juventus di Stadion Heysel, Brussel, Belgia, tahun 1985.
Atas tragedi ini, UEFA melarang seluruh klub Inggris dari semua kasta untuk bermain di semua kompetisi Eropa.
Lalu The FA, asosiasi sepak bola Inggris, melakukan langkah revolusioner.
Banyak pihak dilibatkan.
Pemerintah, perusahaan-perusahaan swasta nasional, sampai investor asing.
Kompetisi yang kolot diubah jadi modern.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/inggris-vs-ukraina_harry-kane_perempat-final-euro-2020.jpg)