Kedai Tok Awang
Tentang Neraka yang tak Terlalu Asing
Rekor pertemuan memang Perancis unggul. Namun jangan dilupa, di EuroChampionship; Piala Eropa, Jerman adalah rajanya.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Euro 2020
- Perancis vs Jerman
TIM lain barangkali akan merasa gentar (betul-betul gentar!) jika harus berhadapan dengan tim nasional Jerman di kandangnya. Terlebih-lebih di stadion-stadion angker macam Volksparkstadion, Olimpiastadion, Veltins Arena, Signal Iduna Park, atau Alianz Arena. Yang terakhir disebut adalah kandang Bayern Munchen, dan stadion inilah yang ditunjuk UEFA sebagai satu di antara venue Euro 2020.
Alianz Arena kerap dipandang sebagai "neraka" bagi lawan-lawan Jerman. Ukurannya yang raksasa dan dapat memuat tak kurang 70 ribu orang, menjadi satu di antara sebabnya. Walau tak sebrutal suporter-suporter bola di Serbia, Kroasia, atau Polandia, atau juga Yunani, Turki, Inggris dan Italia, suporter di Jerman –para hooligan– tetap termasuk dalam jajaran paling berbahaya di Eropa. Apalagi, mereka nyaris selalu dikaitpautkan pula dengan (sebagian pentolan) Neo Nazi, gerakan politik garis keras yang jadi bayang-bayang masa lalu getir.
Faktor ini, di lain sisi, berandil besar memberi pengaruh pada psikologis pemain-pemain Der Panzer –julukan tim nasional Jerman. Mereka jadi begitu bersemangat dan solid, hingga sukar dikalahkan.
"Memang kuat, tapi terbuntang jugak orang itu digas Makedonia Utara kemarin pas Kualifikasi Piala Dunia. Di kandang pulak,” kata Lek Tuman.
Mak Idam yang sedang memelototi lembaran halaman koran setelah tanpa sengaja terperogok pada satu berita berjudul 'Pak Sekda Tertelan 1/4 Butir Ekstasi', sambil lalu menanggapi. "Ah, kebetulan itu. Mungkin lagi sial aja."
"Kalau kalah dari Inggris di tahun 2001 cemana, Mak?" sahut Sudung. "Kalah 1-5. Telak kali itu. Mainnya di Berlin, stadion keramat. Kebetulan juga?"
Mak Idam menggeleng kuat-kuat. "Beda, lah. Melawan Inggris. Melawan Perancis, beda cara pandang kita, untuk melihatnya harus berbeda. Bukan semata sport. Ada politik di sana. Ada ideologi dan sejarah. Dendam masa lalu. Maka sebrutal apapun suporter Jerman memberi tekanan, Inggris dan Perancis tidak pernah takut. Lapangan, bagi mereka sudah tak ubahnya Medan perang."
"Betul, saya sepakat," ujar Zainuddin menimpali. "Namun untuk kali ini ada yang membuatnya lebih beda. Ketidaktakutan pemain-pemain Perancis tak melulu lantaran sayatan luka lama yang tak kunjung sembuh, lebih jauh juga karena perasaan dekat, familiar. Bagi sebagian pemain di skuat Perancis, Alianz Arena bukanlah neraka yang menakutkan."
Iya, neraka yang tak asing. Terdapat lima pemain Perancis yang merumput di klub Jerman. Empat di antaranya bahkan "berumah" di Alianz Arena. Benjamin Pavard, Lucas Hernandez, Corentin Talisso, dan Kingley Coman. Satu pemain lagi Marcus Thuram yang sejak 2019 bermain untuk Borussia Monchengladbach.
Lalu ada Karim Benzema. Eh, bukanlah Benzema tidak bermain di Jerman? Memang betul. Benzema yang baru dipanggil kembali oleh Didier Deschamps setelah “diasingkan” selama enam tahun, merumput di La Liga bersama Real Madrid. Lantas, kenapa dia juga dimasukkan ke dalam kelompok pemain yang tak asing pada Alianz?
Tentu saja lantaran pengalamannya. Selama berseragam Madrid, Benzema delapan kali berhadapan dengan Munchen. Empat di antaranya di Alianz. Dua laga lagi dijalaninya kala masih berseragam Olympique Lyonnais. Total Benzema melesakkan empat gol.
"Terlepas dari keberadaan Benzema, juga pemain-pemain yang merumput di Bayern Munchen, saya kira skuat Perancis sekarang lebih mengerikan dibanding di Piala Dunia 2018. Boleh dibilang, mereka datang ke Euro dengan skuat yang telah sampai di usia emas. Pemain-pemainnya matang di semua lini, dari mulai bawah mistar sendiri sampai ke dekat mistar gawang lawan," kata Zainuddin.
"Berarti Pak Guru mau bilang kalok Perancis nanti akan menang lawan Jerman?" ucap Sangkot menembak langsung.
Zainuddin mengangguk. "Saya bukan peramal, Kot. Bukan juga orang yang lenggang kangkung keluyuran ke masa depan. Namun kalok kita tengok dan cermati indikator-indikatornya, maka boleh, lah, dibilang potensinya memang mengarah ke sana. Dengan catatan, Perancis bermain dingin, dan Jerman belum sampai pada top form-nya. Jerman biasanya lambat panas. Namun kalau mereka langsung tune in, ya, payah juga."
"Agak mengambang-ngambang cakap Pak Guru kurasa. Tak tegas. Tak jelas entah Perancis entah Jerman. Orang-orang ini pun ikut bingung jadinya," kata Jontra Polta dengan tersungut-sungut. Sampai pagi ini, kurang 24 jam sebelum laga panas digelar, para pengadu nasib belum banyak yang merapat padanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/latihan-perancis.jpg)