Kedai Tok Awang

Asalkan Messi tak Galau

Kalau Messi masih saja terbawa-bawa pada persaingan pribadi dengan Ronaldo, maka celakalah Argentina.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/MLADEN ANTONOV
PEMAIN tim nasional Argentina, Lionel Messi 

SEJAK Argentina bermain imbang 1-1 melawan Islandia, tidak ada seorangpun di Kedai Tok Awang yang berani mengejek-ejek Lionel Messi di depan Ane Selwa. Tidak juga mereka yang mengidolakan Cristiano Ronaldo. Mereka seolah-olah paham, betapa sebagai pecinta garis keras, kegagalan Messi menuntaskan eksekusi penalti menjadi pukulan tersendiri bagi Ane Selwa.

Iya, seolah-olah, barangkali lantaran segan saja, atau memang demi menghindarkan ledak amarah yang bisa berujung pada dendam kesumat berusia paling cepat satu kali puasa satu kali lebaran. Karena sesungguhnya, di belakang Ane Selwa, bukan cuma para fan Ronaldo dan suporter Real Madrid, suporter-suporter klub seperti Atletico, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Liverpool, Bayern Muenchen, Paris Saint Germain, bahkan AC Milan, Inter, dan Arsenal, membicarakan kegagalan tersebut dengan sangat riang, bersemangat, dan kreatif.

Tak cukup meramaikan di kedai, atas usul Wak Razoki, mereka juga membuat grup WhatsApp untuk melakukannya. Grup ini mereka beri nama "Save Messi"

Maka, tatkala Ane Selwa datang ke kedai Tok Awang dan mulai membuka cakap perihal Piala Dunia, Lionel Messi, tim nasional Argentina dan peluang mereka di laga kedua grup D kontra Kroasia, dinihari nanti, sejumlah anggota grup WhatsApp "Save Messi" yang kebetulan sedang berada di kedai, langsung menyambutnya dengan antusias.

"Ini akan jadi pertandingan yang berbeda untuk Argentina. Secara teknis, Kroasia lebih kuat dari Islandia. Namun karena itu potensi peluang mengalahkan mereka justru lebih besar," kata Ane Selwa.

"Lho, kok, bisa begitu, Ne? Kalau makin kuat lawannya makin payahlah Argentina menang. Macam mananya Ane ini? Jangan mentang-mentang Ane pencinta Messi, ya. Objektif sikit, lah," kata Pak Ko, pedagang buah potong yang biasa nongkrong di samping kantor ranting organisasi kepemuduaan yang terletak persis bermuka-muka dengan kedai Tok Awang. Saat Ane Selwa mengutarakan pendapatnya, Pak Ko datang mengantarkan pesanan Ocik Nensi. Bersama-sama Wak Razoki, Pak Ko menjadi pengelola grup WhatsApp "Save Messi".

"Objektif, Pak Ko. Objektif kali pun," sahut Ane Selwa. "Begini, ya, siapapun yang menonton pertandingan itu pasti sepakatlah kalau dibilang Argentina sepantasnya menang. Argentina sepenuhnya berkuasa atas lapangan dan pemain Islandia. Di babak kedua, mereka melepaskan 16 tendangan ke gawang sementara Islandia tidak ada sama sekali."

"Jadi Ane menyalahkan dewi fortuna, nih, ceritanya? Maksudku, Ane mau bilang Argentina tidak beruntung?"

"Tidak beruntung juga betul. Namun lebih tepatnya, hasil seri itu terjadi karena ada satu tim yang masuk lapangan untuk cari menang dan tim yang lain berpikir asal tidak kalah. Itulah sebabnya mereka menumpuk sampai sepuluh pemain di sekitar area kotak penalti sendiri. Kalah Jose Mourinho mereka bikin. Mereka bukan lagi parkir bus. Mereka parkir kereta api."

"Okelah kalau itu. Soal Kroasia bagaimana? Mereka nyata-nyata lebih kuat dari Islandia. Ada banyak pemain hebat di sana. Kalau melawan Islandia saja Argentina tak telap, konon pulak mereka bisa lebih gampang menang dari Kroasia?"

"Nah, inilah bedanya orang yang cuma menonton bola dengan orang yang menonton sekaligus mengerti bola. Orang yang mengerti tidak memandang hanya berdasarkan emosi," katanya.

Sejurus itu, Ane Selwa menjulurkan tangannya, mengambil batangan lidi punusuk buah dari piring yang diletakkan Ocik Nensi di hadapan Tok Awang. "Bagi, ya, Tok. Jadi masam pulak mulutku gara-gara ini," ucapnya. Ane Selwa menusukkan lidi itu ke potongan nanas, mencelupkannya ke bumbu, lantas menguyah dengan cepat. Selesai dengan nanas, dia mengambil potongan buah lain. Kali ini jambu klutuk.

Sembari terus mengunyah, Ane Selwa menjelaskan kekuatan Kroasia. Terutama di lini tengah, di sentral lapangan, ada dua gelandang terbaik yang bermain di dua klub terkuat di dunia, Real Madrid dan Barcelona: Luka Modric dan Ivan Rakitic. Jangan lupa, imbuhnya pula, di lini yang sama masih ada nama Ivan Perisic, satu di antara pemain yang paling diincar klub-klub besar Eropa di bursa transfer.

"Di depan, walau sudah agak berumur, Mario Mandzukic, masih sangat berbahaya. Pemain- pemain lain di pos-pos lain juga rata-rata bagus. Dibanding Islandia, levelnya jauh. Dengan modal seperti ini, Kroasia mustahil bermain seperti Islandia. Mereka akan keluar menyerang dan di sinilah Argentina punya kesempatan. Dalam permainan yang lebih terbuka, Argentina akan jauh lebih berbahaya," ujar Ane Selwa.

Berselang detik Ane Selwa menyelesaikan kalimatnya, Zainuddin tiba di kedai. "Pas kali datang Pak Guru. Macam mana, sepakat, kan?" kata Ane.

"Apanya yang sepakat? Apa cerita?"

"Argentina lawan Kroasia. Aku bilang, ini akan jadi pertandingan yang seru karena Kroasia pasti tidak akan bermain seperti Islandia."

"O, cocok!"

"Dan Argentina akan menang."

Zainuddin tergelak. "Kalau ini tunggu dulu, Ne," katanya setelah tawa reda. "Saya sepakat pertandingan akan seru. Saya juga sepakat Argentina berpeluang menang. Namun, peluang ini bisa terwujud bisa juga tidak. Asalkan Lionel Messi tak galau lagi, Argentina menang. Sebaliknya kalau masih galau, bisa-bisa malah mereka yang digulung Kroasia."

LIONEL Messi menendang bola saat menjadi eksekutor penalti pada laga pertama Argentina di grup D Piala Dunia kontra Islandia, 16 Juni 2018.
LIONEL Messi menendang bola saat menjadi eksekutor penalti pada laga pertama Argentina di grup D Piala Dunia kontra Islandia, 16 Juni 2018. (AFP PHOTO/MLADEN ANTONOV)

"Kenapa Messi sampai galau, Pak Guru?" kata Jontra Polta yang sekonyong-konyong sudah berada di kedai dan tanpa basa-basi langsung menimpali percakapan.

Jontra Polta, tiada jelas apakah ini nama asli atau sekadar alias. Barangkali memang nama asli. Barangkali dulu orang tuanya suka berdisko dan jadi fan berat John Travolta, tetapi kemudian keliru menulis ejaannya saat membuat kartu keluarga. Satu hal yang lebih jelas, orang-orang di kedai Tok Awang mengenalnya sebagai agen dunia, pebisnis apa saja, mulai dari jual beli mobil bekas, penadah ludah walet, empedu ular dan racun kalajengking, sampai makelar tanah spesialis sengketa. Sejak Piala Dunia 2018 berputar, dia membuka bursa taruhan keliling.

"Macam kids jaman now saja, ah, pakai galau-galauan segala," ujarnya pula.

"Galau-galau jambulah, Jon. Kau tahu, kan, bagaimana persaingan Messi dan Ronaldo? Satu dengan yang lain tak pernah mau kalah. Di Liga Spanyol sering mereka berbalas-balasan gol. Ronaldo bikin gol Messi juga bikin gol. Ronaldo cetak dua gol Messi cetak tiga gol. Begitu terus tak putus-putus. Persoalannya, sampai sejauh ini, Messi belum bisa bikin apa-apa di Rusia. Ronaldo sudah cetak empat gol. Kalau Messi masih saja terbawa-bawa pada persaingan pribadi begini, maka celakalah Argentina."

"Ya, ya, ya, masuk akal juga. Masuk akal," kata Jontra Polta, lantas menyeruput kopi ginsengnya yang diantar Ocik Nensi. Sebagai pelanggan tetap, Jon memang tak perlu repot-repot memesan. Ocik Nensi dan Tok Awang sudah hapal minuman pilihannya.

Lepas dari seruputan pertama, lalu kedua, dan ketiga, dan setelah menghempaskan nafasnya sembari mengangguk-anggukkan kepala, Jontra Polta bangkit dari duduknya, mendekati Ane Selwa dan menepuk punggungnya.

"Aku tahu bagaimana caranya supaya Messi enggak galau lagi, Ne. Bisikkan ke Messi, dia punya yang Ronaldo enggak punya. Brewok yang lebat itu. Selain kelihatan tampan, dia juga cocok jadi bintang iklan obat penumbuh bulu."(*)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Kamis, 21 Juni 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved