Kedai Tok Awang

Apakah Mesin Jerman Masih Dingin?

Siapapun yang menyukai sepakbola pastinya paham, bahwa Jerman sejak Piala Dunia 1954 telah diidentikkan dengan diesel

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: AbdiTumanggor
DOK.TRIBUN MEDAN
Mesut Ozil 

SEBAGAI agen dunia yang sudah barang tentu berkecimpung juga di bisnis jual beli mobil, terutama mobil bekas, Jontra Polta, paling fasih berbicara perihal mesin. Jika memang tak memiliki modal pengetahuan yang cukup, jangan coba-coba berdebat dengan dia. Kuping akan panas mendengar ejekannya.

Barangkali lantaran sadar betul pada reputasi ini, Jon sengaja mengedepankan mesin sebagai analogi untuk memaparkan perihal tim nasional Jerman.

Tentang ini sebenarnya bukan hal baru.

Siapapun yang menyukai sepakbola pastinya paham bahwa Jerman sejak Piala Dunia 1954 telah diidentikkan dengan diesel --mengacu pada julukan mereka yang lain: Der Panzer alias tim Panser.

Namun untuk membuatnya jadi terkesan sulit dan rumit, dan supaya sempurna pula asas pemerataan kebingungan, Jontra Polta mengaitpautkannya dengan pelarangan operasional mobil-mobil bermesin diesel di seluruh kota besar di Jerman.

"Barangkali karena ini Jerman mainnya kayak gitu. Kan, tahunya kelen macam mana mobil mesin diesel. Mesti dipanaskan dulu baru paten larinya. Kalok ada pelarangan-pelarangan kayak gitu, ya, enggak bisa maksimal lah. Pas lawan Meksiko kemarin masih dingin mesinnya."

Jon terus mengoceh dan orang-orang di kedai Tok Awang mendengarnya sembari mengangguk-anggukkan kepala, melulu karena tidak mengerti. Beberapa yang lain, yang tidak malu pada ketidaktahuannya, menggaruk-garuk kepala mereka. Sampai datanglah Lek Tuman.

"Orang sana bilang, Jon. It's not whether you win or lose, it's how you play the game," katanya.

Sekarang, giliran Jontra Polta yang garuk-garuk kepala. "Apa pulak maksudnya itu, Pak Kep?"

Walau sejak empat tahun lalu diangkat jadi Kepling, Lek Tuman tak pernah melupakan cita-citanya menjadi seorang tokoh kaliber internasional yang kalimat-kalimatnya dikutip orang lain.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sejak muda dia melatih diri dengan banyak mengutip kalimat para tokoh, mulai dari filsuf, sastrawan, politisi, komedian, sampai wartawan.

Kalimat yang bikin Jontra Polta garuk-garuk kepala dicupliknya dari Alumnus of Football, puisi yang ditulis tahun 1941 oleh Grantland Rice, wartawan olahraga Amerika Serikat.

Foto Abdi Tumanggor.

Tentu, football yang dia maksud di sini adalah sepakbola Amerika yang serba aneh itu --sepakbola dengan bola lonjong dan pemain berhelm yang lebih banyak menggunakan tangan daripada kaki.

"Maksudnya, dalam sepakbola, menang atau kalah itu sebenarnya tidak terlalu penting. Paling penting adalah prosesnya. Bagaimana jalan menuju kemenangan atau kekalahan. Jadi, kalah pun, pada dasarnya masih bisa dihargai asalkan jalannya benar."

"Masih belum paham aku, Pak Kep."

Lek Tuman membetulkan letak duduknya.

"Jadi begini. Tiap-tiap tim bola itu, kan, punya filosofi. Terlebih-lebih tingkat negara, di tingkat klub saja punya. Begitu pula Jerman. Sepakbola Jerman tidak banyak cengkunek. Sederhana dan solid. Seperti kata Friedrich Nietzsche, my idea of paradise is a straight line to goal," katanya sembari mengusap-usap lencana di dadanya.

"Sepakbola Jerman tidak seperti, misalnya, Brasil. Tidak ada Zinga yang penuh gaya. Dalam sepakbola Jerman, organisasi permainan jadi yang paling utama, bagaimana bola dialirkan secepat mungkin untuk satu tujuan, gawang lawan. Kurang lebih mirip kick and rush-nya Inggris, hanya saja Jerman tidak banyak memakai umpan-umpan jauh." 

Lek Tuman mengatur nafas. Kopi Pancong yang diantarkan Tok Awang segera diseruputnya.

Serupa Jontra Polta, Lek Tuman juga pelanggan eksklusif kedai.

Baik Tok Awang maupun Ocik Nensi sudah hapal mati minuman kesukaannya dan akan membuatkannya tanpa perlu diminta.

"Mantap, Tok," katanya sembari mengecap lidah dan menarik bibir.

"Semantap Brasil tadi malam. Neymar juga sudah mulai lumayan saya tengok."

"Sa rasa ada yang sampaikan ke dia apa yang dibilang Ocik Nensi semalam itu, Bapa Kepling," sahut Pace Pae.

"Dipotongnya dia punya rambut."

Tok Awang hanya tersenyum, lalu buru-buru menjauh tanpa menimpali kata-kata Lek Tuman maupun Pace Pae.

Foto Abdi Tumanggor.

Apa boleh buat, walau sudah berlalu empat tahun, pukulan atas kekalahan Brasil 1-7 dari Jerman di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, masih terasa.

Tok Awang masih trauma, masih bergidik, setengah benci setengah ngeri, tiap kali bicara tentang sepakbola Jerman.

"Kita sebenarnya sependapat, Jon. Jerman bermasalah, dan masalahnya kurang lebih sama dengan Brasil. Main Brasil waktu lawan Swiss, ibarat kopi encer yang dingin. Sepat dan cuma bikin sakit perut. Malam tadi, kopi mereka sudah kental lagi. Kayak Kopi Pancong ini. Menari-nari di lidah," kata Lek Tuman menyambung analisisnya.

"Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah Jerman bisa keluar dari tekanan sebagaimana Brasil? Seharusnya, bagi tim sekelas Jerman, enggak masalah. Mereka bukan anak kemarin sore di Piala Dunia. Sudah bolak-balik juara."

Jontra Polta mengerjap-ngerjapkan mata. Barangkali lega lantaran cerocosnya yang panjang ternyata tidak dimaksudkan Lek Tuman untuk mendebatnya.

"Aku rasa juga bisa, Pak Kep."

"Tetapi, Kaka Jon, barangkali saja Kaka Jon lupa. Jerman, kan, juara dunia," kata Pace Pae.

"Iya, betul. Kenapa rupanya?"

"Lha, biasanya, juara dunia, kan, selalu sial di piala dunia berikutnya."

"Kali ini berbeda, Pace. Aku yakin itu. Iya, kan, Pak Kep?"

Lek Tuman mengangguk.

"Bisa, tetapi ada satu lagi pertanyaan penting harus dijawab. Apakah mesin Jerman masih dingin? Kalau masih, bisa-bisa nasib mereka malah lebih tragis dari Argentina. Pelatih Jerman harus sadar kalok timnya bermasalah. Jangan terlalu selo, asyik garuk-garuk dan korek hidung. Meksiko kemarin menunjukkan organisasi permainan mereka tidak berimbang. Ozil dan Toni Kross entah cemana selalu ragu-ragu. Pemain-pemain belakang hobi menyerang, tapi kalok sudah naik sering lupa balik."

"Cocok, Pak Kep!"

Jontra Polta memukul meja, lalu bangkit dari duduknya.

"Jadi, ngomong-ngomong, Pak Kep berani kasih Swedia poin berapa?"

Lek Tuman tak menjawab pertanyaan Jontra Polta.

Dia berdiri, menggamit lengan Jon, lalu melangkah meninggalkan kedai Tok Awang. Jon mengikutinya.

(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved