Breaking News:

Kedai Tok Awang

Harry Kane Vokalis Van Halen

Sebagaimana Mak Idam, baik Jek Buntal maupun Pace Pae sepakat Panama tidak cukup kuat untuk mengadang langkah Inggris memastikan tiket ke fase kedua.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/MARK RALSTON
HARRY Kane 

SEMBARI mengunyah Roti Ketawa, Jek Buntal mengakui sebelum ada ribut-ribut soal skandal keuangan yang melibatkan banyak orang dari banyak negara sekitar dua tahun lalu, pengetahuannya tentang Panama memang berhenti pada sekadar lagu Van Halen, band heavy metal dari Amerika Serikat.

Tahun 1984, Van Halen mengeluarkan album yang diberi judul sama dengan tahun peluncurannya --mereka menuliskannya dalam angka latin, MCMLXXXIV. Satu di antara sembilan lagu di album ini berjudul Panama, track ketiga pada side A.

Bukan semata karena termasuk satu di antara lagu terbaik Van Halen, Panama juga dikenang lantaran aksi terbang vokalis David Lee Roth dalam video lagunya. Dikerjakan, tentunya, dengan teknologi era lampau yang mengandalkan seutas kawat baja tipis, Lee Roth "terbang" pada saat intro dan interlude lagu.

"Baru tahu awak kalok ternyata orang Panama jago-jago juga main bola," kata Jek Buntal seraya terkekeh.

"Sa juga sama, Kaka Jek," sahut Pace Pae. "Sa dulu sangka itu Venezuela isinya cewek-cewek cantik saja. Ternyata mereka jago main bola. Bahkan jauh lebih jago dari kita."

"Mungkin kalau yang ditanya orang Panama dan Venezuela, mereka juga tidak sangka kita bisa main bola mesti enggak pernah lolos ke Piala Dunia. Mereka kira kita cuma bisa korupsi dan ribut-ribut soal pemilu saja."

Keduanya tertawa-tawa, dan baru berhenti, untuk kemudian meledak lebih keras lagu, setelah Mak Idam mengemukakan pendapat yang tak disangka-sangka.

"Kalau rambutnya lebih gondrong sikit, dalam bayanganku, Harry Kane kelihatan mirip-mirip Lee Roth."

"Mantap kali imajinasi Mamak," kata Jek Buntak setelah tawanya reda. "Jadi, pas terbang-terbangnya itu Si Kane pakai jaket dan celana ketat atau kostum timnas Inggris?"

kane1
DAVID Lee Roth (int/youtube)

"Bah, tak pulak sampai ke sini bayangan awak tadi. Yang pasti, Kane akan bawa Inggris menyusul Belgia lolos dari grup. Tinggal siapa yang juara siapa runner up."

Maka percakapan pun bergeser ke Inggris. Sebagaimana Mak Idam, baik Jek Buntal maupun Pace Pae sepakat Panama tidak cukup kuat untuk mengadang langkah Inggris memastikan tiket ke fase kedua. Panama masih terlalu hijau, terlalu anak bawang, di hadapan sesepuh sepakbola.

Benar bahwa dalam sepakbola hukum ironi sering terjadi. David berkali-kali membunuh Goliath. Para kurcaci sering mempecundangi dan mempermalukan kaum raksasa. Namun, sekali lagi, tidak untuk Panama.

"Mereka mungkin punya peluang saat melawan Tunisia. Kelasnya memang masih sampai di sini. Inggris, walaupun sebenarnya enggak bagus-bagus amat, berada di kelas lain," ucap Mak Idam.

"Sa izin interupsi ini dulu," ujar Pace Pae menimpali. "Maksud Mamak Idam, di antara tim-tim di kelas yang lain, Inggris termasuk yang paling jelek kah?"

Mak Idam nyengir seraya mengangkat bahunya. "Awak mau bilang begitu, tapi nanti takutnya banyak yang sakit hati pulak. Banyak fan klub Liga Inggris di sini, kan?"

"Padahal memang kenyataannya kayak gitu. Liga Inggris banyak menyumbang bintang untuk tim nasional negara lain. Sedangkan untuk negara sendiri, hanya tiga empat orang yang boleh dibilang bintang, selebihnya pemain rata-rata air, kelas dua dan bahkan kelas sekadar."

Mak Idam sejenak menghentikan cerocos untuk meminta tambahan es batu pada Ocik Nensi. "Kalau dingin-dingin jambu kayak gini rasanya jadi tak enak. Tambahkanlah sikit biar mantap lagi."

"Enggak sekalian sama gulanya, Dam? Jangan bolak-balik aku kau bikin nanti," sahut Ocik Nensi tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang sedang mengalirkan acara gerebek-menggerebek pasangan selingkuh.

"Memang Ocik paling mengerti hatiku."

"Makjang, manis kali mulut kau itu kalok ada mau. Tapi sebentar dululah, ya. Lagi tanggung kali ini."

Mak Idam sejatinya masih ingin bercanda-canda dengan Ocik Nensi. Namun, Jek Buntal sudah keburu memotong. "Jadi bagaimana, Mak, kalok menurut Mamak, Inggris paling jauh sampai mana?" tanyanya.

"Dari grup pasti lolos. Di babak kedua juga lolos. Nah, kalok bisa lolos juga dari perdelapan final awak rasa sudah bagus kali. Berat bagi Inggris untuk melewati perempat final."

STRIKER tim nasional Inggris, Harry Kane (keempat dari kanan), merayakan gol yang dicetaknya bersama rekan-rekannya pada laga kontra Tunisia, 19 Juni.
STRIKER tim nasional Inggris, Harry Kane (keempat dari kanan), merayakan gol yang dicetaknya bersama rekan-rekannya pada laga kontra Tunisia, 19 Juni. (AFP PHOTO/MARK RALSTON)

"Kan, ada Harry Kane, Mamak Idam. Dia akan terbang-terbang kayak David Lee Roth," kata Pace Pae.

"Iya, mungkin betul begitu. Masalahnya, di timnas Inggris enggak ada Eddy van Halen. Raheem Sterling bahkan enggak bisa main gitar."

Pace Pae dan Jek Buntal tertawa lagi. Sejurus itu, datang Ocik Nensi membawakan es batu dan gula setengah gelas kecil.

"Ocik pernah dengar lagu Van Halen?" tanya Jek Buntal seraya memperdengarkan lagu Panama yang dibukanya di youtube.
Ocik Nensi mengangguk-angguk mengikuti hentakan nada dan lengking suara David Lee Roth. "Mantap juga, ya," katanya. "Apa ada versi Via Valen?" (t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Minggu, 24 Juni 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved