Kedai Tok Awang

Jangan Yakin Kali, Nanti Bisa Nangis

Kalaulah ada skenario yang mudah kenapa ambil yang payah. Peluang mesti dihitung dengan cermat.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/FRANCISCO LEONG
PEMAIN Portugal, Cristiano Ronaldo (kiri), bercanda dengan rekannya Pepe pada sesi latihan tim nasional Portugal jelang laga kontra Iran yang digelar 26 Juni 2016 dinihari WIB. 

PIALA Dunia 2018 sudah masuk pada saat-saat yang menegangkan. Beberapa negara sudah mengepak koper dan siap-siap pulang walau masih harus bermain. Arab Saudi dan Mesir sama- sama sudah tak lagi punya peluang lolos dari grup A. Grup ini akan mengirim Uruguay dan tuan rumah Rusia sebagai wakil. Tinggal menentukan siapa yang jadi juara dan siapa runner up.

Situasi berbeda terjadi di Grup B dan Grup C. Di Grup B, hanya Maroko yang sudah memastikan pulang ke negaranya. Tiga negara lain, yaitu Portugal, Spanyol, dan Iran masih berpeluang. Pula demikian Grup C. Perancis, Denmark, dan Australia berebut dua tiket.

Perancis sebenarnya sudah pasti lolos. Mereka sudah mengemas enam poin. Hanya saja, Perancis bisa lolos sebagai runner up apabila di laga terakhir kalah dari Denmark yang sudah mengemas poin empat. Sebaliknya, Denmark bisa tidak lolos jika kalah dari Perancis dan di saat yang sama, Australia menang lebih dari dua gol melawan Peru yang sudah lebih dulu masuk kotak.

"Perancis dan Denmark sebenarnya di atas angin. Cukup main seri masuklah barang itu dua- duanya. Cuma, ini, kan, Piala Dunia. Gengsi main juga. Perancis enggak akan lepas pertandingan ini. Mereka mau masuk 16 besar dengan penuh gaya. Begitu juga Portugal dan Spanyol," kata Wak Razoki.

Lek Tuman yang sedang bermain catur dengan Zainuddin menyahut. "Gaya tinggal gaya, Wak. Kalau kebanyakan gaya juga bisa tesungkur. Ini Piala Dunia, hitung-hitungannya ngeri. Silap sikit malah hancur."

Zainuddin menimpali. "Saya sepakat dengan Pak Kep. Sepakat juga sama Wak Razoki. Perancis pastilah sudah lihat kekuatan di grup sebelah. Kaloklah jadi runner up, Kroasia yang dihadapi. Mereka akan main lebih hati-hati."

"Itu dia, Pak Guru," kata Wak Razoki. "Kroasia sedang gila-gilanya. Aku rasa bukan cuma Perancis, bukan cuma Denmark dan Australia. Sekarang ini tim manapun pasti akan mencoba menghindari mereka."

FOTO combo pemain Perancis, Denmark, dan Australia
FOTO combo pemain Perancis, Denmark, dan Australia (AFP PHOTO/HECTOR RETAMAL/FABRICE COFFRINI)

Lek Tuman menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau saya melihatnya berbeda. Kalaulah ada skenario yang mudah kenapa ambil yang payah. Betul, kalok menang, Denmark akan jadi juara grup dan terhindar dari Kroasia. Bagaimana kalok kalah? Bisa nangis mereka kalok Australia menang dari Peru. Runner up pun tak dapat."

"Jadi menurut Pak Kep, Perancis dan Denmark akan main aman?" tanya Wak Razoki.

"Kurasa begitu."

Ocik Nensi yang datang mengantarkan mi instan rebus pesanan Lek Tuman ikut nimbrung. "Kalok Grup B macam mana pulak, Pak Kep?"

"Eh, dengaren Ocik mau tahu?" sahut Lek Tuman.

Ane Selwa yang sedari tadi sibuk berbalas-balasan pesan WhatsApp dengan seorang entah siapa lewat telepon selularnya, menjawab pertanyaan itu. "Ah, Pak Kep tak tahu apa purak-purak enggak tahu? Ocik bukan mau tahu soal peluang-peluang tim di Grup B. Ocik cumak mau tahu, sampai kapan Ronaldo main di Piala Dunia."

Lek Tuman, Zainuddin, dan Wak Razoki tertawa berbarengan. Ocik Nensi tersenyum kecut, lalu berlalu setelah mencibir ke arah Ane Selwa. "Yang tak bisanya kau memang lihat Ocik kau ini senang. Kelewatan!"

"Ocik jangan galaulah. Masih panjang lagi napas Ronaldo di Rusia. Paling enggak bisalah sampai tanggal enam atau tujuh Juli," kata Ane Selwa.

"Maksud Ane, Portugal bisa lolos sampai perempat final?" tanya Zainuddin.

"Oh, iyalah, Pak Guru. Rusia atau Uruguay bisanya mereka lewati itu. Skor tipis-tipis saja, tapi Portugal yang menang."

"Kekmana kalok nanti mereka kalah dari Iran?"

"Kalah dari Iran? Enggak mungkinlah!"

PEMAIN Iran duduk lesu di lapangan usai dikalahkan Spanyol pada laga kedua mereka di Grup B Piala Dunia 2018, 21 Juni.
PEMAIN Iran duduk lesu di lapangan usai dikalahkan Spanyol pada laga kedua mereka di Grup B Piala Dunia 2018, 21 Juni. (AFP PHOTO/SAEED KHAN)

"Kok, enggak mungkin pulak? Spanyol hampir tekapar dijajar orang itu. Maroko dibikin tewas."

Ane Selwa tertawa ngakak. Lalu, dengan lagak para komentator sepakbola Indonesia yang memang sungguh-sungguh aduhai, memberikan penjelasan panjang lebar pada Zainuddin. Menurut Ane Selwa, menghadapi Spanyol maupun Maroko sesungguhnya Iran kalah segala- galanya. Kalah teknik, kalah strategi, kalah stamina. Hanya menang semangat. Itu pun, terutama saat menghadapi Spanyol, baru muncul setelah tertinggal gol.

Portugal, menurut Ane Selwa, sepantaran dengan Spanyol. Lini belakang, tengah, dan depan sama baiknya. Plus mereka memiliki pemain dari galaksi lain bernama Cristiano Ronaldo yang saat ini sedang ganas-ganasnya.

"Kuncinya di Fernando Santos. Aku kira dia sudah belajar dari pengalaman Spanyol yang hampir tebuntang gara-gara mandang sepele. Mereka kasih angin sama Iran. Main-main setelah menang satu gol."

"Portugal cuma perlu main aman. Main posisi, jaga organisasi permainan jangan sampai rusak. Iran enggak mungkin berani main terbuka sejak awal. Tapi, kalau itu mereka lakukan, lebih bagus lagi. Intinya Portugal bisa siap-siap. Jadi enggak tekejut lagi kayak Spanyol."

Ocik Nensi yang diam-diam rupanya terus menguping percakapan, menyeduh teh, lantas memberinya susu. Teh ini diberikannya pada Ane Selwa.

"Apa cerita ni, Cik? Awak, kan, tak ada pesan."

"Untuk kau."

"Ah, nanti Ocik masukkan pulak ke daftar utang."

"Banyak kali cakap kau. Gratis itu. Sering-seringlah kau senangkan hati Ocik kau ini."

"Sedap!" seru Ane Selwa, seraya menyeruput teh susu yang masih panas berkepul-kepul itu.(t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Senin, 25 Juni 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved