Kedai Tok Awang

Kayak Mercedes Pakai Minyak Campur

Skuat Jerman yang bagus akan jadi juara dunia, yang tidak bagus masuk final.Bagaimana skuat yang gagal masuk final?

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/ODD ANDERSEN
PELATIH tim nasional Jerman, Joachim Loew bersama Toni Kroos usai laga kontra Swedia, 24 Juni 2018. 

JARANG-jarang Jerman kayak begini. Seolah sudah jadi suratan takdir, sejak ikut pertama kali di tahun 1934, Jerman hampir selalu mampu petentengan di Piala Dunia. Hanya dua kali mereka jeblok, yakni di tahun 1938 dan 1978. Tahun 1938 di Perancis mereka angkat koper di putaran pertama, sedangkan 1978 di Argentina tersisih di fase kedua.

Selebihnya, Jerman juara empat kali, runner up empat kali, semifinalis lima kali, dan perempatfinalis tiga kali. Satu-satunya negara yang boleh disetarakan dengan mereka. Koleksi tropi Brasil memang lebih banyak satu, tetapi dari sisi "konsistensi" di turnamen, Jerman tetap unggul. Dari 20 keikutsertaan, Brasil lima kali gugur di babak-babak awal.

Reputasi mentereng inilah yang membuat Jerman harus ditempatkan sebagai unggulan tiap kali piala dunia diselenggarakan. Orang Jerman pun jemawa. Mereka bilang, skuat Jerman yang bagus akan jadi juara dunia, yang tidak bagus masuk final. Bagaimana skuat yang gagal masuk final? Skuat itu disebut wie ein toter frosch, seperti katak mati.

Tahun ini naga-naganya pun begitu. Siapa berani meragukan Jerman? Mereka melewati babak kualifikasi dengan catatan yang sungguh-sungguh aduhai: 10-10-0-0, mencetak 43 gol dan hanya kebobolan empat gol.

Namun begitulah, memang jarang-jarang Jerman kayak begini. Jarang-jarang Jerman ngos-ngosan di babak awal.

"Ibarat mobil, Jerman ini Mercedes. Mobil kuat, canggih, kencang pulak. Jangankan Si Lewis Hamilton, yang bawak Tok Awang atau Pak Guru pun bisa jujut kali," kata Pak Udo, pemilik kedai ayam bakar di ujung jalan. Sesekali dia datang ke kedai Tok Awang untuk minum kopi pancong bikinan Ocik Nensi, yang selalu disebutnya lebih mantap dari racikan Starbuck.

"Jadi kenapa sekarang Jerman tesendat-sendat gitu, Pak Udo? Apanya yang salah?" sahut Jek Buntal yang sedang main leng dengan Jontra Polta, Zainuddin, dan Tok Awang.

"Ontahlah jang. Kurasa Mercedesnya pakai minyak campur."

Jawaban Pak Udo membubarkan permainan leng. Jek Buntal, Jontra Polta, Zainuddin, dan Tok Awang tertawa berderai-derai. Beberapa mahasiswa perantauan dan pegawai kantoran yang datang untuk makan mi instan dan nasi kucing lima ribuan sekadar sebagai pengganjal perut di bulan tua, juga ikut tertawa.

"Pak Udo ini ntah hapa-hapa," kata Jontra Polta setelah tawanya reda. "Yang Pak Udo pikirnya Mercedes itu kereta dua tak."

Pak Udo menggaruk-garuk kepalanya yang ditumbuhi rambut keriting pendek bertabur uban. "Ya, cemanalah. Palak kali awak nengok main orang tu. Oper sana oper sini, tak gol-gol. Malah Meksiko yang cetak gol. Lawan Swedia juga kayak gitu. Untunglah ada Si Kroos."

Sebagai suporter Bayern Muchen Pak Udo juga pecinta Jerman. Jika Tok Awang menjadi pendukung garis keras Brasil sejak Piala Dunia 1978, Pak Udo memulainya empat tahun lebih lambat. Kala itu masih Jerman Barat dan dua pemain membuatnya terpesona. Dua pemain yang mewakili dua generasi berbeda: Paul Breitner dan Pierre Littbarski.

PEMAIN tim nasional Jerman era 1980-1990an, Pierre Littbarski
PEMAIN tim nasional Jerman era 1980-1990an, Pierre Littbarski (thesefootballtimes.com)

Pesona ini tidak pernah pergi lagi dari Pak Udo. Dari piala dunia ke piala dunia dia selalu memegang Jerman. Termasuk di Piala Dunia 2006. Piala Dunia yang berlangsung di Jerman, tetapi menjadi Piala Dunia yang paling disambut pesimistis oleh orang-orang Jerman sendiri.

Pasalnya, Juergen Klinsmann, pelatih Jerman, memasukkan sepuluh pemain berusia 25 tahun ke dalam skuat. Pilihan yang awalnya diragukan bakal bisa membangkitkan Jerman dari kehancuran di Euro 2004.

Situasi di Piala Dunia 2018, setidaknya sampai laga kedua di babak penyisihan grup, terbalik. Walau bercokol di peringkat dua, posisi Jerman masih genting. Jumlah poin yang sama dan selisih gol yang juga sama dengan Swedia, bukan saja mengharuskan Jerman menang dari Korea Selatan. Jika mau aman, mereka mesti menang dengan selisih lebih dua gol. Itu pun dengan catatan Swedia tidak melakukan hal yang sama terhadap Meksiko.

Foto combo pemain tim nasional Swedia dan Meksiko
Foto combo pemain tim nasional Swedia dan Meksiko (AFP PHOTO/EMMANUEL DUNAND/YURI CORTEZ)

"Terus terang awak agak khawatir kali ini. Memang sudah pastinya Korea itu pulang, tapi, ya, tetap aja enggak gampang jugak ngalahin mereka. Swedia dan Meksiko aja sempat kocar-kacir kok digas orang tu."

"Jadi cemana, Pak Udo, kayaknya gugur Jerman kali ini, ya," sebut Jek Buntal.

"Kalok kita nengok ilmu cocokloginya bisa masuk memang, Pak Udo," ujar Zainuddin menimpali.

"Hah, macam mana pulak itu, Pak Guru?"

"Iya, tahun 1934 Jerman out di babak awal. Tahun 1978, kejadiannya terulang. Dari 1934 ke 1978 itu ada selang 40 tahun, Pak Udo."

"Jadi?"

"Dari 1978 ke 2018 juga 40 tahun."

Pak Udo melibaskan tangan. "Ah, tak ada lah itu, Pak Guru. Cumak kebetulan ajanya itu."

"Iya, saya pun sebenarnya enggak serius-serius kalinya. Tapi, Pak Udo, bagaimanapun harus diakui juga kalau Jerman ini memang bermasalah."

"Apa masalahnya?"

"Nah, itulah masalahnya. Kayaknya pelatih Jerman itu, Si Loew, enggak tahu di mana letak masalah timnya. Mungkin ini juga yang membuat dia mendengarkan omongan pemain-pemain legenda Jerman."

PEMAIN tim nasional Jerman, Mesut Oezil dalam sesi latihan jelang laga kontra Korea Selatan.
PEMAIN tim nasional Jerman, Mesut Oezil dalam sesi latihan jelang laga kontra Korea Selatan. (AFP PHOTO/NELSON ALMEIDA)

Pascakekalahan Jerman dari Meksiko, sejumlah pemain Jerman bersuara keras. Terutama Lothar Matthaus dan Mario Basler. Mereka mengkritik pilihan pemain Joachim Loew untuk mengisi komposisi di lini tengah. Terutama menyangkut Mesut Oezil. Menurut mereka, Oezil sudah tidak memiliki semangat untuk menang dan patut didepak dari starting eleven.

Loew kemudian menuruti desakan itu. Melawan Jerman, dia menukar Oezil dengan Marco Reus, dan Reus, memang menjadikan permainan Jerman lebih tajam. Masalahnya, walau tajam, laju mesin Mercedes Jerman tetap saja tersendat-sendat. Jerman harus menunggu sampai menit 95 untuk memastikan kemenangan.

"Jerman sekarang punya Timo Werner. Pemain kencang dan jago sprint. Jarang ada pemain kayak gini di Jerman. Ibarat mesin, dia mesin turbo. Kalok Mercedes dengan mesin turbo bisa dibayangkan lah itu, kan, kencangnya. Tapi dua pertandingan, Si Timo ini bisanya cumak lari-lari enggak jelas," ucap Zainuddin.

"Mesin turbo pun kalau cuma pakek minyak campur percuma aja," sahut Jek Buntal. "Iya, kan, Pak Udo? Harus diganti lah. Harus pakai bahan bakar yang bagus. Jangan pulak pakai bensin subsidi."

Ocik Nensi yang baru kembali dari pasar langsung nyeletuk. "Kenapa bensin subsidi? Sudah pulak mau naik lagi? Ini semua gara-gara Jokowi."(t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Rabu, 27 Juni 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved