Kedai Tok Awang
Demi Cita-cita Captain Tsubasa
Jangan sepelekan Jepang. Payah carik imbang semangat orang tu. Semangat Tsubasa itu.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
LIMA tim negara Asia (empat Asia + Australia) datang ke Rusia dan hingga pekan terakhir Juni 2018, empat di antaranya telah pulang kandang, walau Korea Selatan, satu dari empat tim itu, sempat mencatat pencapaian aduhai sebelum beranjak pulang. Mereka menjadi bagian dari sejarah, yakni siklus 40 tahunan keterpurukan tim nasional Jerman di Piala Dunia.
Iya, Jerman, untuk kali ketiga sejak 1938 dan 1978 gagal di fase awal. Keberhasilan Korea Selatan menjaga gawangnya tetap steril dan melesakkan dua gol di penghujung waktu, membuat Jerman terpuruk di posisi juru kunci. Kekalahan Meksiko tiga gol tanpa balas dari Swedia jadi tak berarti sama sekali.
Di lain sisi, Piala Dunia 2018, kembali mengulang kecenderungan yang terjadi sejak 2002: juara bertahan tersingkir pagi-pagi. Tahun 2002, Perancis juara Piala Dunia 1998 gagal melewati babak penyisihan grup. Periode berikutnya, Brasil memang selamat. Mereka juara tahun 2002 dan tahun 2006 bisa bertahan sampai perempat final.
Namun di dua Piala Dunia berikutnya, "kutukan" juara berlanjut. Juara periode 2006, Italia, jeblok di tahun 2010, dan juara 2010, Spanyol, hancur lebur di 2014.
"Betul jugaklah cakap Pak Udo semalam, baya'e," kata Tok Awang. "Masih jugak pakai minyak campur Mercedes Jerman itu."
"Kurasa minyak campurnya pun subsidi itu, Tok," sahut Jek Buntal.
"Iya, bikin marah Pak Jokowi aja. Hahaha..."
Memang tidak ada duka bagi skuat Jerman yang rusak luar dalam itu di kedai Tok Awang. Satu- satunya pendukung Jerman yang sering singgah di kedai, Pak Udo, hari ini tidak kelihatan batang hidungnya. Barangkali sedang sembunyi dalam gua.
Sedangkan Mak Idam yang juga menjadikan Bayern Munchen sebagai klub favorit keduanya setelah AC Milan, memilih untuk bersikap selo. Kilah Mak Idam, dibanding tim nasional Jerman, dia lebih condong ke tim nasional Italia. Jadi, lantaran tak ada Italia di Piala Dunia, katanya, dia menempatkan diri sekadar sebagai penikmat sepakbola, tidak mendukung siapa-siapa.
Maka alih-alih membicarakan duka Jerman, para pengunjung tetap kedai Tok Awang lebih riuh memperbincangkan Jepang, wakil terakhir Asia di Rusia. Menjalani dua pertandingan di Grup H, Jepang untuk sementara memimpin klasemen bersama Senegal, berbagi angka dan selisih gol yang persis sama.
Pada pertandingan terakhir malam nanti, Jepang menghadapi Polandia yang sudah lebih dulu tersingkir. Adapun Senegal berduel dengan Kolombia. Duel ini akan sengit lantaran Kolombia masih memiliki peluang. Kolombia mengemas poin tiga berkat kemenangan atas Polandia.
"Untunglah Jepang lawan Polandia. Sudah tersingkir, jadi agak lebih gampang," kata Sudung, lalu menyeruput kopi susu pesanannya yang baru berselang detik diantarkan Ocik Nensi. "Ah, ini salah satu yang awak rindukan selama di kampung," ujarnya.
Sudung mahasiswa, satu kampus dengan Pace Pae. Mereka tinggal di kamar kos yang sama, di bagian belakang rumah Lek Tuman. Sejak awal Ramadan kemarin, dia pulang ke kampungnya di Mandailing Natal dan baru kembali ke Medan Rabu malam, kurang lebih satu jam setelah Korea memulangkan Jerman.
Ocik Nensi yang mendengar kalimat Sudung mendengus sembari memonyongkan bibir. "Banyak kali cakap kau, Sudung. Tak perlu kali kau puji-puji kopiku. Yang penting kau bayar. Udah banyak kali utang kau."
"Adoh, selolah, Cik. Pastilah kubayarnya itu. Besokpun kubayar kalok menang Jepang."
"Jangan kau yakin kali, Sudung. Tebuntang pulak nanti macam Pak Udo," kata Mak Idam.
"Kenapa gitu, Mamak?"
"Ah, iyalah. Enggak kau tontonnya main Korea semalam? Korea sudah tersingkir tapi gilak kali main mereka lawan Jerman. Tak mau mereka kalah. Pinomat dapat satu poin pun jadilah. Eh, ternyata malah menang karena Jerman cacingan. Piala dunia ini, Sudung, bukan kejuaraan kaleng-kaleng."
"Jepang pun bukan kaleng-kaleng. Timnya Captain Tsubasa ini."
"Tsubasa? Alamak, kebanyakan nonton pilim karton kau, bah!"
"Iyah, cemananya Mamak ini. Tsubasa memang pilim karton, tapi bukan karton sembarang karton. Tsubasa itu karton visioner."
Lalu Sudung mengoceh tentang Captain Tsubasa, karakter Manga, animasi Jepang yang pertama kali digambar Yoichi Takahashi di tahun 1981. Waktu itu, sepakbola Jepang belum seperti sekarang. Masih sebangsa semenjana yang lebih sering dipermalukan dan merana.
Padahal mereka bukan tidak punya bintang. Ada Kazuyoshi Miura dan Musashi Mizushima, dua pemain muda yang sempat disebut prodigy, anak ajaib, dan dilirik sejumlah klub di Eropa dan Amerika Selatan. Namun di Jepang, antusiasme terhadap mereka mandek. Biasa-biasa saja. Tidak meletus jadi kehebohan. Secara umum, sepakbola di Jepang bahkan kalah populer dibanding baseball.
Takahashi kemudian menggambar Tsubasa Oozora, bocah SD Nankatsu berusia 11. Sebagaimana Miura dan Mizushima, Takahsahi membayangkan Oozora sebagai prodigy yang bercita-cita bermain untuk tim nasional Jepang dan menjuarai Piala Dunia.
"Mamak tahu, sebagian kisah dalam karton ini benar-benar terjadi. Jepang benar-benar ke final Piala Dunia, walaupun cumak Piala Dunia junior. Tahun 1999, Jepang masuk final dan kalah empat kosong dari Spanyol. Junichi Inamoto dan Naohiro Takahara, dua bintang di kejuaraan itu, mengidolakan Tsubasa. Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, Shinji Ono, sampai bintang- bintang sekarang seperti Keisuke Honda dan Shinji Kagawa, memutuskan untuk jadi pemain bola juga karena baca komik-komik Captain Tsubasa. Dari tim ecek-ecek Jepang sekarang jadi langganan Piala Dunia. Cumak juaranya aja yang belum."
"Jadi kau mau bilang kalau tahun ini Jepang berpeluang jadi juara dunia?" tanya Jek Buntal.
Sudung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak gitu. Kalok juara, ya, masih jauh lah. Belum saatnya. Masih banyak yang punya pengalaman. Aku cumak mau bilang, jangan sepelekan Jepang. Payah carik imbang semangat orang tu. Semangat Tsubasa itu."
Ocik Nensi yang duduk berbalas-balasan WhatsApp dengan kawan-kawannya di grup 'Omak- omak Owner Kede Kopi', menimpali Sudung. "Mantapnya pilimnya itu?"
"Mantap kalilah, Cik," sahut Sudung. "Kenapa, Cik?"
"Kalok mantap tolonglah kau donlotkan untuk Ocik kau ini."
"Oh, siap! Boleh, boleh, Cik."
"Sekalian jugak kau donlotkan pilim yang lain."
"Pilim apa, Cik?"
"Tak tahu Ocik judulnya. Cumak ada Ocik dengar-dengar nama bintang pilimnya dari anak-anak lajang yang sering kemari. Kayaknya terkenal kali orang tu. Pasti mantap jugaklah pilim- pilimnya."
"Siapa, Cik?"
"Sora Aoi dan Miyabi."
Bukan cuma Sudung yang sedang menegak kopi susunya. Jek Buntal, Mak Idam, dan Tok Awang yang tidak sedang minum apa-apa juga ikut tersedak.
"Jadi kau donlotkan lah, ya. Kalok udah, bilang sama Ocik, nanti Ocik kasih plesdisnya." (t agus khaidir)
Telah Dimuat Harian Tribun Medan
Kamis, 28 Juni 2018
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jepang3_20180628_151252.jpg)