Kedai Tok Awang
Sampai Kapan Inggris Bertahan?
BAHWA mendadak Pak Udo mengatakan 'Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis', janganlah disangka dia telah menjadi seorang Sukarnois.
Penulis: T. Agus Khaidir |
TRIBUN-MEDAN.com-BAHWA mendadak Pak Udo mengatakan 'Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis', janganlah disangka dia telah menjadi seorang Sukarnois.
Sama sekali tidak. Pak Udo tetap pada posisinya semula: memandang politik sekadar sebagai lelucon yang sering kali tak lucu.
Adapun kalimatnya, tentu, tiada lain dan tiada bukan berhubungan dengan Inggris saja. Toh Amerika tidak ikut Piala Dunia dan konon ini mengecewakan Vladimir Putin.
Sebagai pendukung Jerman garis keras, Pak Udo merasa terlinggisnya Inggris akan jadi pelampiasan paling sempurna. Walau pasti tidak akan tuntas, setidaknya, jika Inggris ikut pulang, sakit hatinya atas terdepaknya Jerman pagi-pagi dari Piala Dunia 2018 bisa terobati.
Persoalannya, apakah Inggris juga akan kena linggis? Apakah Inggris juga akan ikut pulang bersama Jerman dan tiga mantan juara dunia lainnya --Argentina, Portugal, dan Spanyol?
Kecuali Mak Idam, tak ada pengunjung tetap kedai Tok Awang yang berada satu gerbong dengan Pak Udo. Umumnya berpendapat Inggris akan bertahan. Setidaknya sampai babak perempat final. Bahkan Wak Razoki, Ane Selwa, dan Lek Tuman, punya satu pandangan, Inggris akan mengulang pencapaian di Italia 1990, yakni lolos ke semifinal.
Namun ternyata, walau hanya berdua, Pak Udo dan Mak Idam bersikukuh dengan pendapat mereka. Tak ayal debat pun terjadi. Riuh dan panas, mirip betul dengan acara debat di televisi.
"Ari tu Mamak pernah bilang kalok di antara negara-negara yang kelas, Inggris yang paling enggak bekelas. Awak setuju itu, awalnya. Namun makin ke sini kayaknya Si Southgate bisa bentuk tim kelas. Maksud awak benar-benar berkelas," kata Wak Razoki.
"Iyalah, kita kalok ngomong itu, ya, pakek pakta lah. Jangan pulak asal libas. Macam baru nonton bola sehari dua hari aja," ujar Ane Selwa menimpali. Katanya pula, Inggris berkembang dalam senyap. Lantaran sejak mula diremehkan, tidak banyak yang mencermati betapa dari laga ke laga, mulai dari fase kualifikasi, kekuatan Inggris tumbuh dan makin membaik.
Mereka tidak pernah kalah di kualifikasi. Rekornya, 10-8-2-0, mencetak 18 gol dan hanya kebobolan tiga gol. Tak mengesankan memang apabila dibandingkan dengan Jerman. Namun di Rusia, Inggis membaik --terlepas dari lawan-lawan mereka, di luar Belgia, yang kurang sepadan.
"Itu baru satu pakta. Yang lain, lawan Inggris nanti, kan, Kolombia. Paktanya, lawan Kolombia orang tu lebih sering menang. Ada tiga kali menang kalok tak silap. Dua kali seri. Kalah enggak pernah. Terakhir di Piala Dunia 2002, Inggris menang 2-0," katanya.
"Ingat aku itu, Ne," sahut Sudung. "Nonton aku siaran langsungnya di kampung. Si Beckham nyetak satu gol di situ, dari tendangan bebas cantik kali."
"Iya, satu lagi dicetak Darren Anderton. Kolombia sepanjang pertandingan keteteran melawan Inggris. Tak telap mereka melawan determinasi gelandang-gelandang Inggris," kata Ane Selwa.
"Makjang, determinasi, bah!" sergah Jontra Polta. "Terpelajar kali cakap Ane. Macam komentator di tipi-tipi itu kutengok."
"Kurasa kalok agak rapi Ane ini, kalok pakek jas, Binder Singh pun putus," ucap Sudung.
Keduanya lantas tertawa terbahak-bahak dan baru berhenti setelah Ocik Nensi yang sedang menonton sinetron 'kisah nyata' berjudul "Merebut Istri dari Selingkuhannya yang Tampan". Namun berbeda dari Ocik Nensi, para pendebat pro-kontra Inggris sama sekali tak terpengaruh pada intermeso ini.
"Justru di sini letak persoalannya, Ne," ujar Mak Idam. "Pas Inggris mau main lawan Panama, aku bilang kalok Inggris, maksudnya liganya, menghasilkan banyak pemain bagus untuk negara lain, tapi enggak untuk mereka sendiri. Beda dari tahun 2002, atau tahun 2006. Inggris sekarang mirip skuat orang tu di Piala Dunia 2010 dan 2014."
Sebagai kompetisi paling semarak di muka bumi, Liga Inggris yang pertandingan-pertandingannya saban pekan dipancarluaskan ke banyak negara, termasuk Indonesia, menghasilkan pemain-pemain yang nama dan wajahnya familiar. Orang yang tak awam-awam amat niscaya akan hapal setidaknya satu nama pemain.
"Jadi, terkenalnya aja yang ada. Meyakinkan enggak. Cak lah kelen tengok dulu pemain-pemainnya. Gelandang-gelandangnya lah. Jordan Henderson, Ashley Young, Raheem Sterling, Delle Ali, terus siapa itu yang pemain MU?" tanya Mak Idam.
"Rashford," jawab Sudung.
"Bukan, satu lagi."
"Lingard."
"Nah, itu. Jesse Lingard. Lima nama enggak ada yang betul-betul meyakinkan. Di bangku cadangan jugak sama.
Ibarat kata, ya, cumak nama-namanya aja yang terkenal. Kalok kualitasnya aku bilang medioker."
"Cieh..., medioker. Makin sedap jugak cakap Mamak," sebut Jontra Polta sembari mengunyah kue kacang pemberian Sangkot yang sempat singgah sebentar di kedai Tok Awang dari perjalanan membawa tamu pergi-pulang Tebingtinggi-Medan.
"Di belakang pun enggak kalah genting itu, Dam," kata Pak Udo menyambung. "Betul memang Walker dan Stone itu bek-bek mahal. Ah, salah, termahal pun orang tu dua di Inggris. Cetak rekor transfer. Tapi, ya, itu, belum teruji."
"Iya, apalagi kipernya. Cak lah kelen pikir. Sekelas Inggris, kipernya Jordan Pickford, Nick Pope, dan Jack Butland. Ini kiper Everton, Burnley, dan Stoke City. Stoke ini degradasi. Macam mana ceritanya kiper klub yang degradasi bisa masuk timnas? Kalok enggak pelatihnya bengak, tentu karena enggak ada pilihan lain. Dan aku pikir, alasannya kerena memang enggak ada pilihan lain."
"Salah kelen kalok cumak lihatnya dari sisi itu," ucap Lek Tuman. "Mungkin, iya, secara kualitas gelandang-gelandang Inggris sekarang tidak sementereng di Piala Dunia 2002 dan 2006. Tapi jangan lupa, pelatih Inggris, Si Southgate, masih punya Harry Kane. Tajam kali dia tu."
"Itu pulak lah masalahnya, Pak Kep," kata Pak Udo. "Gampang kali tebaca permainan Inggris ni. Sama kayak Argentina dan Portugal yang terpusat ke Messi dan Ronaldo, Inggris juga sentralistik ke Kane."
"Oi, tinggi-tinggi kali cakap kelen. Macam betul aja," sergah Ocik Nensi sembari meninggikan volume suara televisi. Dia telah berpindah ke stasiun televisi lain yang menayangkan FTV berjudul "Nenekku Kecolok Cinta Kakek Pacarku."
"Memang betul-betulan ini, Cik," sahut Ane Selwa. "Serius kami ini."
"Iya, selo aja Ocik di boncengan," kata Sudung menyambung.
"Boncengan siapa? Memang beselemak kali cakap kau. Kusuruh bayar utang kau, bangkit sakit bengek kau itu."
"Aduh, ampun lah, Cik. Kalok udah soal utang ini payah cakap awak."
"Makanya bayar biar bisa kau becakap."
"Kejam kali Ocik ni jang."
Perdebatan terus berlanjut. Ocik Nensi terus merepet. Sementara televisi mengalirkan lagu yang jadi sountrack FTV itu. All I Ask dari penyanyi Inggris, Adele. Tentu saja versi Via Valen. (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kane1_20180624_181102.jpg)