Kedai Tok Awang

Penuntasan Rasa Penasaran 20 Tahun

Perancis dan Kroasia, barangkali ini menjadi final Piala Dunia yang paling tidak terprediksi.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/JEWEL SAMAD
SUPORTER membentangkan bendera nasional Kroasia di kawasan Lapangan Merah, Moskow, jelang laga final Piala Dunia 2018 antara tim nasional Perancis dan Kroasia di Stadion Luzhniki, Moskow. 

PERJALANAN panjang Piala Dunia 2018, sejak laga pertama babak kualifikasi antara Timor Leste melawan Mongolia di Dili, 12 Maret 2015, akan berakhir malam nanti di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia. Dari total 210 tim yang berlaga di enam zona konfederasi, menyisakan dua saja, Perancis dan Kroasia.

Barangkali ini menjadi final Piala Dunia yang paling tidak terprediksi. Saat peluit kick off pertandingan perdana Rusia kontra Arab Saudi ditiup, bursa calon finalis masih belum bergeser. Jerman di peringkat pertama, disusul Brasil, Spanyol, Argentina, Belgia, dan Portugal. Perancis berada di posisi berikutnya, bersama Inggris. Kroasia? Sebagaimana pada 1998, tahun tatkala mereka untuk pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia, tak masuk hitungan.

FOTO combo pemain-pemain serta pelatih tim nasional Perancis dan Belgia yang akan berlaga di babak final Piala Dunia 2018
FOTO combo pemain-pemain serta pelatih tim nasional Perancis dan Belgia yang akan berlaga di babak final Piala Dunia 2018 (AFP PHOTO)

Pun di kedai Tok Awang. Boleh dikata semuanya mengabaikan Kroasia. Saat mereka menekuk Nigeria pada laga pertama, keriuhan yang menyeruak justru lelucon-lelucon dengan objek seputar Luka Modric dan Ivan Rakitic yang melibatkan suporter Real Madrid dan Barcelona.

Bahkan, ketika Kroasia secara meyakinkan melumat Argentina sekalipun, orang-orang di kedai Tok Awang tetap masih memandang sebelah mata. Jontra Polta membuka kembali file-file para pemburu keberuntungan.

"Waktu itu, banyak yang yakin Kroasia enggak akan lewat dari 16 besar. Karena di Grup C ada Perancis dan Denmark. Kalokpun masuk 16 besar, Kroasia lolos runner-up dan jumpa Perancis. Ternyata, Argentina yang justru runner-up. Kroasia jumpa Denmark," kata Jon.

Keberhasilan jadi juara grup membuat Kroasia bergabung ke lajur yang potensial mempertemukan mereka dengan Spanyol pada babak perempatfinal. Namun, lagi-lagi perkiraaan meleset. Rusia memulangkan Spanyol.

"Sampek di sini, bursa mulai hubar-habir. Spanyol pulang, abis tu Argentina dan Portugal ikut pulang. Sebelum tu, Jerman jugak pulang. Piala dunia makin enggak jelas, tapi bagi awak, tentu makin paten," ujar Jontra Polta seraya menambahkan, sampai di sini, pola unggulan berubah. Favorit empat besar bergeser ke Perancis, Brasil atau Belgia, Kroasia, dan Inggris.
"Kali ini pas. Perancis lawan Brasil atau Belgia, di semifinal lain, Kroasia lawan Inggris. Di semifinal pertama, siapapun dari Brasil atau Belgia yang menang akan ke final. Di semifinal satunya lagi, Inggris yang maju."

"Akhirnya tebuntang semua, Jon," ucap Sangkot. Jontra Polta tertawa ngakak. Entah gembira entah berduka, hanya dia yang betul-betul paham. "Jangankan kelen. Awak jugak kali ini ikut tebuntang," katanya.

Begitulah, bahkan setelah mengerucut ke empat tim, dari sekian variasi prediksi, sekali lagi, Perancis kontra Kroasia memang tidak muncul sebagai komposisi final ideal. Inggris selalu jadi pilihan untuk kontestan final, sedangkan dari lajur sebelah Brasil menjadi yang terfavorit, lalu Belgia dan kemudian baru Perancis.

Prediksi tinggal prediksi. Inggris hanya berhasil mengulang memori 1990 dan gagal melangkah lebih jauh ke 1966. Brasil takluk di tangan Belgia, dan Belgia ternyata tak berdaya di hadapan Perancis. Permainan ciamik skuat Roberto Martinez lesap. Gelandang-gelandang kreatif Belgia mati kutu. Eden Hazard kehilangan sihir. Kevin de Bruyne tak berkembang. Romelu Lukaku cuma bisa lari-lari kambing.

"Saya kira pragmatisme Perancis ini akan berlanjut di final," kata Zainuddin usai menyeruput kuah mi instan yang belum lama diantar Ocik Nensi. Masih berkepul-kepul uap dari mi itu. "Seperti waktu mereka lawan Belgia, si Deschamps enggak akan berani main terbuka lawan Kroasia. Bisa-bisa, situasi pada 1998 terulang, dan mungkin, sekarang orang ni enggak seberuntung waktu itu."

"Jadi menurut Bapak Guru, itu Perancis, waktu juara 1998 itu, cumak beruntung kah?" tanya Pace Pae.

Zainuddin menggeleng. "Secara keseluruhan enggak lah, Pace. Mereka cumak beruntung di semifinal."

Dua puluh tahun lalu, 8 Juli, di Stade de France, menit 46 Davor Suker menjebol gawang Perancis. Sebanyak 75 ribu penonton, dua pertiga lebih merupakan suporter Perancis, juga jutaan lainnya di luar stadion dan di berbagai tempat di tiap penjuru negeri itu, menahan napas. Benar- benar situasi yang mencekam bagi Perancis. Tertinggal 0-1 dan lini tengah sepenuhnya dikuasai Kroasia.

MOMENTUM krusial pertandingan babak semifinal antara Preancis kontra Kroasia, Lilian Thuram dibayangi Zvonimir Boban, sesaat sebelum melepaskan tendangan yang menjadi gol pertama bagi Perancis di laga tersebut.
MOMENTUM krusial pertandingan babak semifinal Piala Dunia 1998 antara Perancis kontra Kroasia, di Stade de France, Saint-Denis, Lilian Thuram dibayangi Zvonimir Boban, sesaat sebelum melepaskan tendangan yang menjadi gol pertama bagi Perancis di laga tersebut. (FIFA.COM)

Tak dinyana, sepelepasan hempasan napas gol Suker, Perancis menyamakan kedudukan lewat pemain yang juga sama sekali tak disangka-sangka, Lilian Thuram. Padahal, sebelum laga itu, Thuram telah memainkan 36 pertandingan untuk Les Bleus --julukan tim nasional Perancis-- dan tidak pernah mencetak gol. Artinya, dibanding pemain-pemain lain, Thuram adalah pemain yang paling tak terharapkan untuk bikin gol.

Ajaibnya, bukan cuma satu. Berselang 23 menit, Thuram melesakkan golnya yang kedua. Golnya yang terakhir untuk Perancis sampai pensiun pada 2008 dengan caps 142.

"Kan, sial kali Kroasia tu. Gawang mereka dijebol pemain yang sebenarnya enggak becus nyetak gol," ujar Zainuddin.

Pak Ko yang ikut nongkrong di kedai setelah mengantarkan buah potong pesanan Ocik Nensi, menceletuk.

"Justru di situ strateginya, Guru. Jacquet sadar betul kalok Zidane, Djorkaeff, Deschamps, apalagi Si Guivarch enggak dapat ruang. Dicariknyalah alternatif," katanya.

PEMAIN tim nasional Perancis, Didier Deschamps (kanan), membayang-bayangi pemain tim nasional Kroasia Goran Vlaovic, pada pertandingan babak semifinal Piala Dunia 1998 di Stade de France, Saint-Denis, 8 Juli.
PEMAIN tim nasional Perancis, Didier Deschamps (kanan), membayang-bayangi pemain tim nasional Kroasia Goran Vlaovic, pada pertandingan babak semifinal Piala Dunia 1998 di Stade de France, Saint-Denis, 8 Juli. (FIFA.COM)

"Betul, Pak Ko," sahut Sangkot. "Yang agak-agak enggak masuk akal itu, kenapalah alternatifnya si Thuram. Kok, bukan si Henry, atau Trezeguet, atau siapa namanya itu yang kawannya Henry di Arsenal?"

"Pires, Kaka Sangkot," sebut Pace Pae. "Ini pemain kelas punya orang. Cuma kalau sa tra salah, dia orang malah jadi cadangan abis di itu pertandingan."

"Nah, ini maksudku. Intinya aku sepakat dengan Pak Guru. Pas di laga itu, Perancis memang beruntung. Apalagi, enggak lama setelah gol si Thuram itu, kan, stopper orang tu, yang sukak nyium kepala botak Barthez, kenak kartu merah."

"Blanc, Lauren Blanc, kenak usir wasit keluar lapangan," kata Zainuddin menimpali. "Kalah pemain bikin mereka terus diserang. Kroasia dapat banyak peluang tapi enggak satupun yang masuk."

Diserang kiri kanan, Pak Ko, satu-satunya suporter Perancis tulen di kedai Tok Awang, cuma bisa membisu. Dia memang bukan tipikal pendebat yang sanggup beradu argumen sampai tegang urat leher.

"Kalok aku lihatnya begini," ucap Jontra Polta menengahi serangan bertubi itu. "Kalah dua puluh tahun lalu bikin Kroasia penasaran, dan nanti malam akan jadi penuntasannya. Aku ada baca-baca, tahun 1998 itu, Zlatko Dalic, pelatih Kroasia sekarang, nonton di tipi dan enggak bisa tidur seminggu gara-gara Kroasia kalah."

"Jangan jugak kelen lupa, sepakbola bukan cumak perkara strategi dan semangat. Kondisi fisik jugak enggak kalah pentingnya. Perancis, faktanya, lebih segar dari Kroasia. Perancis enggak pernah main penalti. Kroasia dua kali penalti, ditambah satu pertandingan sampai perpanjangan waktu. Bukan tak capek kali tu," ujar Zainuddin

"Kalok menurut, Kaka Jon, bagaimana? Tuntaskah itu rasa penasaran?" tanya Pace Pae.

"Atau jangan-jangan makin penasaran, ya," ujar Pak Ko yang barangkali merasa sedikit mendapatkan angin.

Kalimat ini seyogianya potensial memperpanjang dan bahkan memperpanas debat. Namun pupus lantaran tiba-tiba, dari balik steling, Ocik Nensi melesatkan lagu dari Sang Raja Dangdut. Sungguh mati aku jadi penasaran... Sampai mati pun akan kuperjuangkan... (t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Minggu, 15 Juli 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved