Kedai Tok Awang
Seindah Apapun, Mimpi Mesti Berakhir
Deschamps tahu betul dia punya pemain-pemain cepat yang bisa diandalkan untuk serangan balik
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
BAHKAN bagi negara-negara semacam Brasil, Jerman, dan Italia, bisa bertanding di partai puncak Piala Dunia tetap merupakan harapan yang levelnya mendekati mimpi. Brasil, walau sudah pernah juara lima kali, tetap saja tak bisa slonong boy, suka-suka di Piala Dunia.
Lengah sedikit, malapetaka akibatnya. Seperti tahun ini, tatkala strategi yang serba tanggung dan serba canggung dari Adenor Leonardo Bacchi atawa Tite, membuat mereka bertekuk lutut di hadapan Belgia.
Jerman pun begitu. Datang ke Rusia sebagai favorit, tanpa siapapun pernah menduga, mereka porak-poranda. Bahkan gagal untuk sekadar lolos dari babak penyisihan grup dan keluar dari kompetisi sebagai juru kunci. Di pertandingan terakhir, Jerman, juara empat kali dari delapan keberhasilan menembus final, ditekuk Korea Selatan.
Italia, sebagaimana Jerman, pernah empat kali juara. Dua kali runner up masing-masing di tahun 1970 dan 1994. Tahun ini, Italia tidak ikut ke Rusia. Di fase kualifikasi, Italia berakhir di belakang Spanyol. Posisi yang membuat mereka harus mengadu nasib di kualifikasi lanjutan melawan para runner up dari grup-grup lain, dan undian, mempertemukan Italia dengan Swedia.
Kalah 0-1 di pertandingan pertama di Stockholm, Italia berharap dapat balik menggulung Swedia di Milan. Harapan yang wajar, tidak sampai level mimpi, tetapi kenyataannya pahit. Waktu 2x45 menit di Milan tak cukup untuk mengejar ketertinggilan. Swedia terbang ke Rusia, menebus kegagalan mereka di edisi 2014, sedangkan Italia mengulang kegagalan 60 tahun sebelumnya.
Jika mimpi bisa setega itu pada pemegang-pemagang gelar terbanyak Piala Dunia, konon pula terhadap Kroasia. Edisi ini merupakan kali kelima mereka menjadi kontestan. Pertama di tahun 1998. Waktu itu, sebagai "anak kemarin sore", Kroasia justru menyentak. Di luar perkiraan peramal bola yang paling jitu, mereka melaju kencang hingga babak empat besar dan baru berhenti setelah ditekuk dengan susah payah oleh Perancis.
Namun, kedigdayaan Kroasia tak berlanjut. Pada edisi-edisi Piala Dunia berikutnya, mereka lolos untuk sekadar menjadi partisipan. Tahun 2002, 2006, dan 2014 terhenti di fase penyisihan grup. Tahun 2010 malah tak lolos.
Inilah mungkin yang menjadi sebab Kroasia dipandang sebelah mata sebelum Piala Dunia 2018 digelar. Orang-orang hanya membicarakan Brasil, membicarakan Jerman, juga Spanyol, Argentina, Belgia, dan Portugal. Orang-orang membicarakan Perancis dan Inggris dan bahkan Mesir yang diperkuat pemain yang jadi sensasi besar di Liga Inggris dan Liga Champions, Mohamad Salah. Maka kecuali orang-orang Kroasia sendiri, serta segelintir kecil suporter Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, dan Liverpool, tak ada yang membicarakan tim ini.
Lalu, cerita 1998 terulang. Kroasia lolos dari adangan Argentina, Islandia, dan Nigeria untuk memuncaki klasemen Grup D. Lawan selanjutnya, Denmark, dilibas. Menyusul Rusia dan Inggris, dan skuat 2018 ini pun melewati pencapaian skuat 1998 yang kedigdayaannya telah diabadikan lewat lembar perangko bernilai 4 Kuna.
"Kurasa, apapun hasilnya, orang ni udah jadi pahlawan. Entah cemanalah nanti, entah pemerintah Kroasia di bawah pimpinan ibuk cantek itu nerbitkan perangko baru atau apa lah, yang jelas, nama-nama orang ni udah dicatat dengan tinta emas. Apalagi Si Perisic tu. Dia yang nyetak gol, dia pulak yang bikin gara-gara dan bikin Perancis dapat penalti," kata Wak Razoki.
Usai menonton siaran langsung final Piala Dunia, satu per satu pengunjung meninggalkan kedai Tok Awang. Tinggi beberapa orang saja tersisa.
"Maksud Wak Razoki dia enggak layak disalahkan?" tanya Zainuddin.
"Pastilah, Pak Guru. Bagaimanapun dia tetap pahlawan dan harus diberi penghargaan."
"Jadi kayak Si Zohri jugak lah nanti, ya, Wak," ujar Sudung menimpali.
"Zohri siapa?"
"Ah, yang tak gaul kali lah Wak Razoki ni. Makanya, Wak, sesekali tengok-tengoklah ke pesbuk. Si Zohri, orang Lombok. Itu, lho, pelari Indonesia yang menang lomba seratus meter junior tingkat dunia."
"Oh, iya, iya, yang diributkan soal bendera dan rumahnya yang reyot itu? Kenapa pulak kau banding-bandingkan dia dengan Si Perisic dan Kroasia? Yang kau pikirnya orang-orang Kroasia yang udah capek perang itu sama kayak alay-alay pesbuker yang kebanyakan nyedot micin."
Untunglah percakapan soal Zohri dan alay-alay penyedot micin tidak berlanjut. Percakapan kembali ke soal mimpi dan harapan. Menurut Wak Razoki, Kroasia boleh bermimpi dan berharap, tetapi mimpi, juga harapan, sesedap dan seindah apapun itu, memang mesti berakhir. Kroasia terjaga dan mendapati kenyataan bahwa tropi Piala Dunia menjadi milik Perancis.
"Sekaligus ini jadi bukti pula, sepakbola memang bekawan dengan nasib, bekawan dengan keberuntungan, dan yang bernasib baik, yang beruntung, tidak selalu tim yang mainnya lebih mantap," kata Zainuddin.
"Jadi ini ceritanya Pak Guru lagi-lagi mo bilang Perancis menang karena beruntung, seperti dua puluh tahun lalu?" tanya Jek Buntal sembari mencomot godok-godok yang sudah agak keras. "Di mana letak nasibnya, Pak Guru? Di mana letak beruntungnya? Skornya 4-2, Pak Guru!"
"Jangan kau tengok dari skor aja lah. Sekarang kita jujur-jujuran. Kelen tengoknya cemana main Kroasia, cemana main Perancis. Dua gol Perancis, yang satu bunuh diri, yang satu lagi penalti setelah wasit nengok VAR. Beda sama gol Kroasia yang kelas kali."
"Bukan cumak dari golnya," sahut Tok Awang dari balik steling. "Main orang tu pun memang lebih mantap. Si Modric, Si Rakitic, juga Perisic, betul-betul bikin Perancis cengap-cengap."
"Lho, dua gol Perancis yang lain, kan, kelas kali, Tok. Golnya Pogba dan Mbappe. Lagipula, kalok memang mau bicara nasib, gol si Mandzukic itu yang sebenarnya gol nasib," ujar Sudung.
"Itu bukan nasib, Lek," sahut Jek Buntal. "Itu karena Si Lloris ajanya yang paok kali. Kek gitupun bisa gol. Padahal enggak ada bahaya-bahayanya, kok, bolanya. Ikut-ikutan Si Karius kiper Liperpul itu pulak dia."
"Kalok pendapat awak lain pulak," kata Pak Ko. "Ini bukan karena awak suporter Perancis, ya. Tapi memang, dominan di lapangan, enggak selalu jadi jaminan menang. Perancis sengaja main kayak gitu. Dibiarkan orang tu pemain-pemain Kroasia pegang bola lama-lama. Ini karena Si Deschamps tahu betul dia punya pemain-pemain cepat yang bisa diandalkan untuk serangan balik."
"Pragmatis kali, ya, kayak Jose Mourinho aja," kata Tok Awang.
Pak Ko tertawa. "Pragmatis tak pragmatis yang penting juara dunia, Tok. Main cantek pun kaloknya tebuntang apa lah gunanya. Brasil harusnya belajar dari Perancis."
"Makjang, jangan bawak-bawak Brasil lah, Pak Ko," ujar Jek Buntal menimpali. "Udah tenang orang tu di alamnya. Jangan Pak Ko ganggu Si Neymar yang sedang memperdalam ilmu diving. Sedang ngambil S-3 dia."
Untungnya Tok Awang tak terpancing dan sekali lagi kedainya selamat dari percakapan ngawur yang berpotensi sampai pada gontok-gontokan.
Fokus tetap pada Perancis dan Kroasia, dan hingga menjelang pagi, saat para pengunjung terakhir beranjak pergi dan kedai jadi sepi, semua bersepakat bahwa segenap drama yang berujung pada tropi juara bagi Perancis, memang telah menjadikan Piala Dunia 2018 sebagai satu di antara turnamen paling aduhai sepanjang sejarah penyelenggaraannya.
Bagi orang-orang di kedai Tok Awang, Piala Dunia, setidak-tidaknya telah menyelamatkan mereka dari segala silang sekarut politik nasional, yakni apa yang disebut Ocik Nensi sebagai cakap-cakap tak guna yang bikin umur jadi makin pendek.(t agus khaidir).
Telah dimuat Harian Tribun Medan
Senin, 16 Juli 2018
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/final4_20180716_184014.jpg)