Patut Dicontoh, Tiga Mahasiswa USU Berjuang Mengentaskan Angka Putus Sekolah

Guna menunjang pendidikan di kalangan masyarakat pesisir,ketiganya mendirikan komunitas sosial bernma Kapuccino.

Ist
Para anak di Kampung Nelayan Belawan menggambar mimpi mereka pada kegiatan Kapuccino 

Laporan Wartawan Tribun-Medan, Fatah Baginda Gorby

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Tingginya angka putus sekolah anak-anak pesisir pantai di Kampung Apung Nelayan, Belawan, membuat tiga mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), yakni Desifa, Habib, dan Karlin prihatin.

Guna menunjang pendidikan di kalangan masyarakat pesisir,ketiganya mendirikan komunitas sosial bernma Kapuccino, yang merupakan akronim dari Kampung Cita-Cita Nelayan Oceano.

Habib menjelaskan, tekad ketiganya semakin bulat, ingin memotivasi hidup anak pesisir pantai. Ia juga mengaku ingin merubah pola pikir anak-anak tersebut yang menurutnya tidak boleh berpatokan pada pekerjaan turunan orangtua, yakni nelayan.

"Asa dari anak-anak pesisir pantai harus dipupuk di motivasi agar sekolah yang lebih tinggi, agar bisa jadi dokter, pilot, pengusaha ataupun sebagainya, yang terpenting bisa melepaskan mereka dari belenggu kemiskinan," ujarnya, Rabu (19/7/2018).

Ia menjelaskan, keseriusan Kapuccino pun diwujudkan dengan mengikuti kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-M) yang didampingi dosen pembimbing Dina Nazriani, M.A.

Baca: Buaya yang Terkam Warga Berhasil Ditangkap, Tampak Mati Ternyata Pawang Lakukan Ini

Baca: Kadis Pemko Tersangka Korupsi Datangi Penyidik Kejari, Ismail: Anakku Nangis-nangis

"Inovasi ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2018," ujarnya.

Bagi Habib, lewat semangat membawa perubahan , Kapuccino berhasil menjalankan beberapa agenda unggulan untuk memotivasi para anak-anak, seperti pengenalan variasi cita-cita, pembelajaran dan Inspirasi hingga membentuk diskusi urgensi pendidikan bersama orangtua dan anak didik, serta pembuatan Mural Ikon Cita-cita.

"Programnya tidak hanya melibatkan anak-anak tetapi juga orangtua . Di tempat itu kami bersama warga mendirikan pondok cita-cita, tepatnya di wilayah Ujung Kerang, kampung Nelayan Seberang, Belawan," ucapnya.

Dikatakannya, Kappucino akan terus menggelar agenda inspriasi untuk anak-anka pesisir pantai, salah satunya Hari Sejuta Mimpi Kapuccino . Di mana ada puluhan inspirator-inspiator dari berbagai profesi seperti dokter, guru, apoteker, diplomat dan ilmuwan sebagai pembicara.

Baca: Tak Disangka Kecepatan Internet di Pulau Terpencil Afrika, Kalahkan Kecepatan Internet Indonesia

Baca: Tampil Perdana di Asian Games, Heka Sembiring Incar Emas

"Ini sengaja kami lakjukan untuk memotivasi mimpi para anak pesisir pantai untuk memupuk dan merawat mimpi mereka dengan semangat belajar dan kerja keras," ujarnya.

Hal senada disampaikan Pendiri Kappucino lainnya Desifa. Menurut Desifa, pihaknya ingin membagikan mimpi kepada anak pantai tersebut serta berani untuk mewujudkan mimpi itu.

"Untuk itulah kata anggota lainnya Desifa, Kapuccino datang membawa berbagai program, agar adik-adik kampung apung mengenal variasi cita-cita sehingga memotivasi dirinya untuk terus bersekolah. Karena mimpi adalah milik semua orang, " tuturnya.

Desifa mengatakan di negeri ini menjadi tanda banyaknya mimpi dan cita-cita anak negeri yang harus tergadaikan.

Baca: Manajemen Jadi Sasaran Kritik soal Performa PSMS Kian Menurun, Ini Jawaban Julius Raja

Baca: Via Vallen Diminta Untuk Pindah ke Lain Hati Akibat Foto Bareng Ayahnya dengan Jersey Ini

Pada Sumatera Utara, misalnya, angka putus sekolah didominasi oleh masyarakat pesisir. Anak-anak nelayan menganggap bahwa ia hanya akan menjadi penerus ayahnya, sehingga merasa lebih baik mengasah kemampuan melaut dibanding sekolah.

Bagi Desifa, saat Kapucino melakukan survey rata-rata adik didik menyebutkan cita-cita mereka ingin menjadi dokter, guru, pemain bola pilot dll.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved