Jess Melvin Ungkap Dalang Aksi Pembantaian 1965-1966, Beber Bukti Keterlibatan TNI

''Militer memang mengirim perintah, menerapkan kampanye, operasi yang sangat agresif, secara sengaja untuk menghabiskan musuh politiknya."

Editor: Tariden Turnip
BERYL BERNAY/GETTY IMAGES
Pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Sukarno, diikuti Mayjen Soeharto mengumumkan Surat Perintah Sebelas Maret di Istana Bogor. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Misteri figur yang menggerakkan aksi pembantaian setelah kudeta gagal G-30/PKAI diungkap sejarawan. Selama ini publik Tanah Air hanya tahu aksi pembantaian ini berlangsung spontan akibat kemarahan warga atas aksi PKI.

Namun label aksi spontan ini dipatahkan sejarawan dari Sydney Southeast Asia Centre, Jess Melvin, yang dituangkan dalam buku berjudul The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder atau 'Tentara dan Genosida di Indonesia: Tata Cara Pembunuhan Massal'. 

Melalui sejumlah dokumen yang ditemukan Jess, terungkap operasi pembantaian orang-orang di berbagai pelosok Indonesia pada periode 1965-1966 dikoordinir langsung oleh Mayor Jenderal Soeharto, yang kemudian menjadi presiden menggantikan Soekarno.

Menurutnya, berdasarkan beragam dokumen tersebut, dapat diketahui bahwa "militer mengaktifkan rantai komando militer yang telah dibentuk sebelum tanggal 1 Oktober (1965) untuk melakukan apa yang digambarkan sebagai operasi pembasmian".

"Keadaan darurat militer diterapkan di Sumatra, di mana komando ini beroperasi. Tanggal 4 Oktober, sekarang kita mengetahui militer melangkah lebih jauh, memerintahkan warga sipil untuk bergabung. Pada tanggal 14 Oktober, dibuat Ruang Yudha untuk mengoordinasikan operasi penumpasan ini.

"Operasi pembasmian ini diterapkan lewat berbagai rantai komando secara territorial dan struktural seperti Kodam, KOTI, RPKAD dan Kostrad dikoordinir langsung oleh Soeharto di pusat," Jess menegaskan.

Tentara mengangkut sejumlah orang diduga anggota Pemuda Rakyat, 1965.

Tentara mengangkut sejumlah orang diduga anggota Pemuda Rakyat pada tahun 1965/BETTMANN / GETTY IMAGES.

Selanjutnya lewat buku setebal 322 halaman yang diterbitkan Routledge pada tahun 2018 tersebut, Jess Melvin menyatakan TNI melakukan operasi terencana untuk membunuh lawan politiknya.

"Temuan pentingnya adalah sekarang kita memiliki pemahaman tentang komunikasi di dalam militer tentang apa yang terjadi, catatan, dan perintah-perintah mereka. Sebelum saya menemukan dokumen-dokumen baru, satu-satunya bukti yang peneliti dapatkan adalah kesaksian korban selamat, pengumuman dari militer"

"Sampai tahun 2010, tidak diketahui bahwa militer pada kenyataannya mengeluarkan perintah tertulis saat pembantaian, atau merekam apa yang terjadi.

"Sekarang kita mengetahui bahwa, ya militer memang mengirim perintah, menerapkan kampanye, operasi yang sangat agresif, secara sengaja untuk menghabiskan musuh politiknya."

A suspected sympathizer with the Communist-led abortive coup of October 1th is questioned under gunpoint. The Indonesian Army is continuing its careful screening in an effort to uproot dissenters.

Seorang terduga simpatisan G30S diperiksa di bawah todongan senjata/BETTMANN / GETTY IMAGES.

Jess mendapatkan dasar kesimpulannya ini dari temuan sejumlah dokumen di Provinsi Aceh.

"Saya mewawancara orang di Aceh. Korban selamat, saksi mata tetapi juga pelaku kekerasan. Dan kemudian saya mengetahui, terima kasih kepada rekan saya yang mempunyai dokumen KITLV, bahwa militer mengeluarkan berbagai perintah ini.

"Saya kembali ke Banda Aceh dan ke bagian arsip disana. Saya harus melihat dokumen yang mereka miliki. Saya tidak berharap akan diberikan dokumen, mungkin kalau beruntung, saya akan diberikan satu atau dua.

Sumber: bbc
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved