Fahri Hamzah Sebut Anis Matta Lebih Layak Cawapres Prabowo Dibanding Abdul Somad, Ini Alasannya!
Fahri Hamzah berencana menemui mantan Presiden PKS, Anis Matta, setelah memenangi gugatannya.
TRIBUN-MEDAN.COM - Politisi PKS Fahri Hamzah berencana menemui mantan Presiden PKS, Anis Matta, setelah memenangi gugatannya.
Fahri menang hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA).
Menurut Fahri, Anis Matta merupakan sosok yang tepat untuk menjadi pelopor perbaikan partai.
"Saya akan konsultasi dengan Pak Anis menyampaikan yang terjadi di dalam dan ini peta yang ada di luar dari kasus saya kan."
Fahri menyinggung kepemimpinan Anis dahulu ketika PKS diterpa kasus korupsi.
Luthfi Hasan Ishaaq sewaktu menjadi Presiden PKS terjerat kasus korupsi impor daging.
Menurut Fahri, Anis saat itu mampu mempertahankan partai.
Perolehan suara PKS di Pemilu 2014 tetap stabil.
PKS bertahan dengan perolehan suara sebesar 6,79 persen.
Namun, sambung Fahri, yang menjadi hambatan saat ini ialah belum ada itikad baik dari Pimpinan PKS untuk berdamai dengannya.
"Ini kan memang upaya pecah-belah yang dilakukan oleh rezim dari awal, nah ini kan masalahnya udah gini."
"Saya ingin konsultasi dengan Pak Anis ini gimana," lanjut Fahri dikutip dari Kompas.com.
Mahkamah Agung (MA) sebelumya menolak gugatan kasasi yang diajukan PKS atas putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta terkait pemberhentian Fahri Hamzah dari partai tersebut.
Seperti dikutip dari situs informasi perkara Mahkamah Agung, permohonan kasasi tersebut diajukan PKS pada 28 Juni 2018, oleh Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi PKS Abdul Muis Saadih.
Kemudian pada 30 Juli 2018, majelis hakim MA yang dipimpin Maria Anna Samiyati memutuskan menolak permohonan kasasi tersebut.
Perseteruan antara pimpinan PKS dan Fahri Hamzah sudah berlangsung sejak awal 2016.
Saat itu, PKS memecat Fahri sebagai kader.
Majelis Tahkim PKS pada 11 Maret 2016 memutuskan memecat Fahri dari seluruh jenjang jabatan di kepartaian.
Pada 1 April 2016, Presiden PKS Sohibul Iman menandatangani SK DPP terkait keputusan Majelis Tahkim tersebut.
Sebut Anis Matta Cocok jadi Cawapres Prabowo
Fahri juga menilai, sosok Anis Matta lebih layak jadi pendamping Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2019.
"Saya lebih mendukung Anis Matta (jadi cawapres Prabowo) karena dia kuat di bawah."
"Dia planner dan manajer politik yang handal."
"Dia bisa membuat partai yang hampir hilang itu jadi ada."
"Itu dahsyat," katanya setelah menyerahkan bantuan pimpinan dan anggota DPR RI bagi korban gempa di Lombok Timur, NTB, Rabu (1/8/2018).
Fahri meyakini bahwa jika Anis Matta menjadi cawapres, maka banyak sekali generasi milenial yang akan memilih dia.
"Sama dengan Ustaz Abdul Somad dengan ceramah-ceramahnya, Anis Matta sudah digandrungi di kampus-kampus," katanya, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Fahri, sebelum figur Ustaz Abdul Somad muncul, Anis Matta sudah terkenal terlebih dahulu.
"Namun Anis Matta itu orangnya enggak mau sok kampanye-kampanyean," katanya.
Tim Anis, lanjut dia, sudah terbentuk lengkap di bawah atau sampai ke tingkat kecamatan sehingga sosok Anis Matta bisa menciptakan histeria.
Namun, menurut Fahri, nama Anis Matta tidak dimasukkan dalam ijtima ulama.
"Itu yang saya aneh juga, kok Anis Matta enggak muncul," katanya.
Terkait Pilpres, Pertimbangkan Absatain
Direktur Pencapresan Partai Keadilan Sejahtera Suhud Aliyudin menyatakan, partainya membuka opsi abstain pada Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019.
Langkah ini akan diambil jika kader PKS tak menjadi calon wakil presiden pendamping Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
"(Abstain) itu salah satu opsi yang mungkin diambil kalau memang situasinya tidak memungkinan"
"Tapi itu tergantung pembahasan pimpinan DPP dan Majelis Syuro'
"Kira-kira sikap resmi PKS itu seperti apa ketika ada nama lain yang diusulkan," kata Suhud saat dihubungi, Rabu (1/8/2018).
Sebab, kata Suhud, saat ini PKS masih berpegang pada keputusan Majelis Syuro.
Keputusan itu adalah menyodorkan sembilan kadernya sebagai cawapres Prabowo.
Adapun sembilan kader PKS itu adalah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden PKS Anis Matta, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.
Kemudian, Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufrie, mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring, Ketua DPP PKS, Al Muzammil Yusuf, dan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.
Belakangan, nama-nama yang akan dipasangkan dengan Prabowo itu mengerucut ke dua nama, yakni Ahmad Heryawan dan Salim Segaf Al Jufri.
Suhud menambahkan, saat ini nama Salim juga masuk dalam rekomendasi Ijtima (pertemuan) Ulama sebagai cawapres Prabowo.
Saat ini, PKS menunggu keputusan Prabowo dalam menentukan pendampingnya di Pilpres 2019.
Nantinya pilihan Prabowo akan dibahas oleh Majelis Syuro PKS. (*)