Menyelami Bisnis Penonton Bayaran yang Bikin Ely Sugigi Dilaporkan ke Polisi
Para penonton atau pemeriah acara di berbagai program televisi tidak datang dengan sendirinya.
TRIBUN-MEDAN.com-Komedian Elly Sugigi dituduh melakukan penipuan oleh penyanyi Tessa Mariska.
Penipuan senilai Rp50 juta tersebut terkait dengan bisnis penonton bayaran yang dikelola oleh Elly.
Dalam laporannya ke SPKT Polda Metro Jaya, Jumat (3/8/2018), Tessa menuduh Elly melanggar perjanjian kerjasama berupa membayar dan membagi keuntungan dari bisnis penonton bayaran.
Tentunya Anda bertanya-tanya, seperti apa sebenanya bisnis penonton bayaran tersebut? Benarkah bisnis tersebut sangat menjanjikan sehingga Tessa berani "berinvestasi kepada Elly?
Untuk menemukan jawabannya, Anda wajib membaca artikel berjudul "Kisah Agensi Pengumpul Alay" yang pernah tayang di Majalah Intisari: Extra Profesi (2012) berikut ini.
---
Para penonton atau pemeriah acara di berbagai program televisi tidak datang dengan sendirinya. Mereka dikelola koordinator profesional yang mencari nafkah dengan mengumpulkan orang.
Pernah menonton acara Dahsyat di layar kaca? Salah satu program andalan RCTI tersebut punya ciri khas, bintang tamu yang beraksi selalu dikelilingi para penonton. Mereka berpolah laiknya pemandu sorak. Berjoget-joget dan sesekali ikut menyanyi.
Beragam program acara dari berbagai stasiun televisi juga punya ciri sama. Mereka kerap mengandalkan pemandu sorak untuk memeriahkan acara.
Ada banyak sebutan bagi mereka yang khusus datang ke stasiun televisi untuk menjadi penonton lalu dibayar. Alay, audiens, atau crowd.
Tugas para penonton tersebut adalah mengikuti skenario yang sudah tersedia. Kadang-kadang hanya duduk manis mendengarkan pengisi acara. Atau, berjoget- joget dengan koreografi seragam. Sampai, kalau dibutuhkan, harus mau berteriak histeris untuk meramaikan acara.
Tak disangka, hal itu menjadi ladang pekerjaan baru. Selain bagi para pemandu sorak bayaran itu, juga untuk para pengelola jasa penyediaan penonton.
Agensi, biasa mereka disebut, bertugas menyediakan sumber daya manusia untuk berbagai genre program televisi, mulai dari acara pengajian, acara musik, acara realitas, hingga gelar wicara.
Sebenarnya ini bukan bisnis baru. Sejak stasiun televisi swasta mengudara di langit Indonesia, mereka mulai bermunculan.
Pada 2004 semakin marak dan terus menancapkan kukunya hingga saat ini. Maklum saja, meski kurang terpikirkan, bisnis ini ternyata menjanjikan keuntungan yang lumayan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ely_sugigi_20180805_104051.jpg)