Tukar Ilmu di Wahana Berfoto, Belajar Teknik Pengambilan Gambar

Wahana Berfoto adalah suatu acara fotografi yang diselenggarakan oleh Afront Medan di Ghetto Cafe

Nanda dan teman-nya dalam Afront Medan menyelenggarakan Wahana Berfoto. Ini adalah suatu acara fotografi yang diselenggarakan di Ghetto Cafe Jalan Iskandar Muda, Petisah, Medan, Kamis (16/8/2018) (Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang

TRIBUN-MEDAN.com MEDAN- Wahana berfoto adalah suatu acara fotografi yang diselenggarakan oleh Afront Medan di Ghetto Cafe Jalan Iskandar Muda, Petisah, Medan, Kamis (16/8/2018).

Afront Medan adalah sebuah wadah bagi para seniman yang bernaung di empat sub culture, yakni Fotografi, Musik, Visual Art, dan Vidiografi. Komunitas ini sudah ada sejak dua tahun terakhir.

"Kami mau menghidupi ekosistem komunitas-komunitas di 4 sub culture tersebut yang ada di Kota Medan. Jadi siapa saja atau komunitas apa saja yang punya minat ke 4 sub culture itu bisa gabung dengan kami," kata seorang Founder Afront Medan Wirananda Azhari.

Kegiatan komunitas ini lebih banyak mengarah ke sharing season. Tujuannya agar semua orang yang datang, tidak hanya memiliki satu skill, tapi juga bisa belajar skil-skil lain.

"Misalnya ada yang dari fotografi, mereka bisa belajar juga tentang musik, visual art, vidiografi. Begitupun sebaliknya," kata lelaki yang akrab disapa Nanda ini.

Acara kali ini bertemakan 'Maximise Your Photo Stage'. Dalam acara ini banyak membahas tentang teknik pengambilan gambar saat pertunjukan.

Misalnya saat konser, teater, dan sebagainya.

Afront juga menghidangkan tiga orang pemateri yang memang sangat ahli dibilang pengambilan gambar dalam pertunjukan. Mereka adalah Ferdy Siregar, Irfan Maulana, dan Wirananda Azhari.

Dulunya, Nanda adalah seorang musisi yang tergabung dalam sebuah band. Namun selama dua tahun terakhir, dia memutuskan untuk hengkang dari band tersebut dan masuk ke dunia potret memotret.

"Aku masih suka musik, hanya saja sekarang aku lebih menangkap musik dalam bentuk yang berbeda, yakni foto," tuturnya.

Saat ditanya apa yang membuatnya jatuh hati dengan potret, ia menyatakan bahwa foto adalah sebuah momment to movement. Yang artinya, sebuah foto harus bisa mengubah presepsi orang terhadap sesuatu.

"Dalam foto stage, ada empat unsur yang bisa membuat sebuah foto bicara, yakni lighting, ekspresi, crowded atau keramaian, dan moment. Yang paling mudah didapatkan adalah ekspresi. Jadi untuk yang lain-lain harus ada tekniknya lah," katanya

Menurut Nanda untuk bisa mengambil foto pada moment yang tepat adalah dengan mempelajari lagu dan cerita dari sebuah pertunjukkan. Sehingga saat mengambil gambar sudah tertebak apa yang akan mereka lakukan.

Selain mereka, banyak pula komunitas lain yang mengikuti sharing season ini. Mereka adalah Fotografer Jalanan Indonesia, Iphonesia, Anak Kos Punya Cerita, KSF Potret, XVIISUAL, dan Mata Ponsel.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved