BI Sumut Sebut Stabilitas Sistem Keuangan dan Sistem Pembayaran Ada Perbaikan
pada di triwulan I tahun 2018 jika dibandingkan triwulan I tahun 2017 menunjukan peningkatan yang cukup baik.
Penulis: Ayu Prasandi |
Laporan Wartawan Tribun Medan/Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaram di Sumatera Utara (Sumut) dilihat dari empat indikator menunjukkan adanya perbaikan.
Hal tersebut dikatakan Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sumut, Andi S Wiyana kepada Tribun, Kamis (30/8/2018).
“Kita lihat dari stabilitas sistem keuangan, ada empat hal di Sumut. Dan keempat indikator yang kita lihat menunjukkan perbaikan. Yang pertama dari dunia usaha itu terlihat perusahaan yang berlokasi atau yang beroperasi di Sumut, dari 80 perusahaan terbuka, itu menunjukan peningkatan di profit margin,” ujarnya.
Ia menerangkan, indikator yang kedua yaitu peningkatan juga di rasio hutang terhadap modal. Kemudian yang ketiga di rasio pengembalian dari modal dan yang keempat dari tingkat likuiditasnya.
“Empat indikator ini menunjukan adanya iklim usaha di Sumut yang pada ujungnya meningkatkan kekuatan stabilitas sistem keuangan karena memperbaiki kemampuan membayar hutang atau kemampuan menciptakan laba yang dibutuhkan untuk meningkatkan keyakinan dari lembaga keuangan,” terangnya.
Ia menjelaskan, secara umum, korporasi tersebut pada di triwulan I tahun 2018 jika dibandingkan triwulan I tahun 2017 menunjukan peningkatan yang cukup baik.
“Kalau kita lihat dari sektornya, ini yang membaik itu kalau profit margin tahun lalu 8,3 persen sekarang 8,4 persen. Kalau Return On Equity (ROE) tahun lalu di triwulan yang sama 12 persen, tahun ini 12,2 persen,” jelasnya.
Ia menuturkan, demikian juga likudisi rasio, jika di tahun 2017 lalu 1,5 persen, tahun 2018 ini juga masih 1,5 persen dan ini semua meningkatkan kinerja perbankan di Sumut.
“Kita lihat memang kinerja perbankanya kalau dilihat kondisi seperti itu dana pihak ketiga (DPK) naik, DPK individu juga naik sebesar 5,75 persen dan pertumbuhan kredit naik sekitar 9,5 persen,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, Non Performing Loan (NPL) juga membaik dibandingkan dengan 2017 sehingga secara umum ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
“Jika kombain dengan data inflasi Sumut yang juga lebih bagus dari nasional, ini kita memiliki potensi ekonomi yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, jika dilihat system pembayarannya ada sedikit perkembangan yang menarik di Sumut, dimana nominal transaksi Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS) turun 7 persen dibandingkan tahun 2017 Tapi kalau dilihat rata-rata hariannya masih meningkat di 5,2 persen.
“Mengapa demikian, karena di bulan lalu libur agak panjang dari biasanya. Dengan demikian sebetulnya BI RTGS mengalami peningkatan dari Rp 1,44 triliun menjadi Rp 1,52 triliun di triwulan II,” sebutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bank-indonesia_20180830_185728.jpg)