Rupiah Menguat tak Seperti Krisis 1998, Ulasan Kwik Kian Gie dan Pengamat Ekonomi di Video Ini
Seperti apakah proyeksi rupiah dan kondisi perekonomian Indonesia ke depan? Apakah menyerempet ke situasi Krisis ekonimi 1998 lalu?
Denni juga menerangkan apa yang terjadi dengan perekonomian Indonesia di masa lalu.
“Dulu kita mengalami twin deficit sejak 1980-an baik ketika harga minyak jatuh pada sesi pertama, kemudian terjadi devaluasi 28 persen, kemudian terjadi lagi penurunan harga minyak yang lebih drastis karena kita bersandar penuh pada ekspor minyak, jadi tahun 86 indonesia mengalami devaluasi lagi sebesar 38 persen” Jelas Denni
“Kalau kita melihat rupiah semakin lemah, ini adalah konsekuensi logis,” Kata Deputi III Kantor Staf Presiden itu.
Denni mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi sudah berusaha dengan melakukan structure adjustment seperti membangun infrastruktur, membuat iklim usaha menjadi lebih bagus, dan kualitas sumber daya manusia yang lebih bagus juga sehingga krisis yang terjadi pada tahun 1998 tidak akan terjadi di 2018.
Rupiah Menguat
Sempat melemah sejak awal pekan, nilai tukar rupiah berhasil menguat di penutupan akhir pekan ini, Jumat (7/9/2018).
Namun, analis memproyeksikan sentimen global masih akan menghantui rupiah dalam sepekan depan.
Mengutip Bloomberg di pasar spot, rupiah tercatat menguat 0,49% ke Rp 14.820 per dollar Amerika Serikat (AS). Sementara, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah tercatat menguat 0,04% ke Rp 14.884 per dollar AS.
Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, awal pekan ini pelemahan rupiah disebabkan pengaruh penguatan dollar AS yang dipicu kekhawatiran akan perang dagang AS dengan China.
Kebijakan AS yang kembali mengenakan tarif baru antara 10%-20% terhadap US$ 200 miliar produk impor China menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
Sementara, dari dalam negeri rupiah melemah di awal pekan karena investor khawatir defisit neraca perdagangan tembus ke 3%.
Namun, hari ini rupiah berhasil membalikkan keadaan. Faisyal melihat rupiah menguat karena intervensi BI cukup besar.
Sementara, dollar AS juga tak bertenaga, dipengaruhi dari melemahnya dollar AS terhadap yen di tengah potensi perang dagang yang terjadi antara AS dengan Jepang.
Sepekan depan, Faisyal mengatakan pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh hasil data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam nanti. Jika data yang dirilis positif, maka bisa membuat rupiah kembali tertekan.
Selain itu, investor juga menanti perkembangan perang dagang AS dan China, pasalnya China akan membalas tarif impor baru AS. Jika perang dagang masih memanas, maka hal ini juga menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rupiah_20180908_042214.jpg)