Seminar Anti Radikalisme, Pesan Ustaz: Pemuda Harus Bersatu dan Tidak Saling Menghina
Pemuda Islam yang mendalami ajaran agama harus mampu menjadi benteng pertahanan untuk keutuhan persatuan bangsa Indonesia dan agama Islam.
Penulis: Tulus IT |
Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda F. Batubara
TRIBUN-MEDAN.com, DELISERDANG - Himpunan Mahasiswa Anti Radikalisme bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar Seminar Anti Radikalisme di Pondok Pesantren Jabal Noor Jalan SEI Mencirim, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang, Minggu (28/10/2018).
Panitia menghadirkan Ustaz Sibawaih dan Ustaz Ridwan sebagai narasumber sekaligus memberi tausiah kepada peserta seminar. Tema yang diusung pada seminar ini adalah "Mengenal Bahaya Radikalisme di Indonesia".
Ustaz Sibawaih mengatakan, pemuda Islam yang mendalami ajaran agama harus mampu menjadi benteng pertahanan untuk keutuhan persatuan bangsa Indonesia dan agama Islam.
Ia mengajak umat Islam, khususnya pemuda, untuk bersatu dan tidak saling menyalahkan apalagi menghina. Ia menganjurkan semua pihak agar berlapang dada ketika mendapati perbedaan pendapat.
Kata Ustaz Sibawaih, Islam adalah agama yang mengedepankan lemah lembut serta kasih sayang dan mencintai perdamaian.
Namun demikian, agama ini juga mengajarkan ketegasan untuk hal-hal tertentu.
"Misalnya ketika saudara perempuan kita diganggu orang, maka kita harus melindunginya dan tidak boleh hanya diam saja," tutur Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini.
Sementara itu, Ustaz Ridwan mengingatkan bahwa paham radikal. Menurutnya, paham itu membenarkan cara merebut perubahan dengan kekerasan atau ekstrem.
Menurut dia, radikalisme umumnya datang dari kesalahan seorang murid mencari guru.
"Maka kita harus tahu kapasitas dan kapabilitas guru kita yang akan kita ambil ilmunya sehingga ilmu yang kita pelajari dan yang akan kita amalkan nantinya menjadi ilmu yang berkah," katanya
"Sebagai pelajar Islam kita harus mampu menjadi panutan masyarakat, tempat bertanya masyarakat dalam ketidaktahuan mereka. Jangan menjadi pemecah belah umat," sambung Ustaz Ridwan.
Ustaz Yusriza dari Pengurus Al Washliyah Medan menambahkan, saat ini sebagian golongan sudah salah dalam menilai sesuatu dengan sesat.
Contohnya, beberapa orang kerap menghakimi seseorang yang mengenakan jubah sebagai bagian dari teroris atau menerapkan pahan radikal.
"Bukan pakaian yang membuat orang menjadi radikal. Tapi pemikiran dan tindakan yang sesat. Itu lah radikalisme. Sekarang banyak orang yang menganggap agama Islam menciptakan terorisme. Padahal Islam sendiri tidak pernah mengajarkan untuk membunuh orang kafir yang tidak menggangu kita. Bahkan Islam mengajarkan kasih sayang terhadap binatang, apa lagi manusia," ujarnya.
Lebih lanjut, Ustaz Yusriza mengajak para pemuda untuk meningkatkan keimanan. Hal ini, menurutnya, satu di antara banyak cara untuk menangkal paham sesat.
"Jadi untuk menghindari paham radikalisme kita harus senantiasa meningkatkan keimanan kita. Karena faham radikal hanya akan masuk pada orang-orang yang beriman lemah," pungkasnya.
(nan/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/seminar-anti-radikalisme-yang-digelar-himpunan-mahasiswa-anti-radikalisme_20181031_201205.jpg)