Breaking News

Dilarang Pakai Daster Pukul 07.00 hingga Pukul 19.00, Bila Dilanggar Segini Dendanya

"Tidak masalah mengenakan daster di rumah, tetapi memakainya di luar rumah dapat menarik perhatian dan membuat pemakainya menghadapi masalah."

Editor: Tariden Turnip
instagram/kolase
Deretan pesohor pakai daster Ririn Dwi Ariyanti, Sarwendah, Via Vallen 

Bisnis jutaan dolar

Tetapi kepopuleran pakaian ini tidak berkurang.

Daster adalah sebuah bisnis jutaan dolar dan pasar dipenuhi berbagai rancangan siap pakai. Yang paling digemari terbuat dari katun dengan motif cap bunga dan dapat dibeli dengan harga semurah 100 rupee atau Rp20 ribu, sementara yang termahal dapat mencapai ribuan rupee.

Perancang Rimzim Dadu mengatakan daster begitu populer di antara para ibu rumah tangga karena sari, pakaian tradisional perempuan, bukanlah pakaian yang paling nyaman saat melakukan tugas rumah tangga. Daster, katanya, membuat orang bebas.

Disainer lain David Abraham menambahkan, "Ini bukanlah pakaian yang paling elegan tetapi ini telah menjadi seragam sejumlah perempuan karena kemudahannya dan praktis.

Pakaian ini memenuhi sejumlah persyaratan - pakaian dari satu bagian yang Anda bisa langsung kenakan, panjangnya selutut dan menutupi seluruh tubuh jadi juga dipandang sopan."

Baik Dadu maupun Abraham menolak keras larangan. Dadu mengatakannya sebagai "berlebihan" sementara Abraham menyatakannya "konyol".

Daster diyakini pertama kali dikenal India saat masa penjajahan Inggris sebagai pakaian tidur malam perempuan Inggris. Daster kemudian dijadikan pakaian malam perempuan kelas atas India.

"Belum jelas kapan daster berpindah dari tempat tidur ke jalan, tetapi Shefalee Vasudev mengatakan saat dia besar di tahun 1970-an di kota kecil Gujarat, dirinya melihat "ibu-ibu dan tante-tante" mengenakannya pada siang hari dan kadang-kadang memakainya saat mengunjungi pasar setempat atau toko.

Perempuan berdaster mengendarai motor.Perempuan berdaster mengendarai motor/PRIYA KURIYAN

Daster "pakaian pembebasan" dari sari

Di tahun 90-an, ketika dirinya pindah ke Delhi, dia terkejut melihat ibu muda mengenakannya saat mengantar dan menjemput anak mereka atau membeli sayur di jalan.

Ini menyakitkan mata, katanya, ketika perempuan memakainya dengan "rok dalam yang tidak selaras jika pakaian itu terlalu tipis dan memakai skarf agar terlihat sopan".

Vasudev mengatakan dirinya memahami kepopuleran daster di antara ibu rumah tangga kelas menengah - sebagai "pakaian pembebasan" yang membebaskan mereka dari sari yang membatasi gerakan.

Tetapi dia tidak bisa memahami "polisi moral patriarki" yang menggambarkan daster "tidak sopan" dan berusaha melarangnya.

"Daster tidak bisa dikatakan seksi atau tidak senonoh," dia menegaskan. "Pada kenyataannya, ini adalah salah satu pakaian buruk yang paling tidak seksi yang dapat dipakai perempuan."

Sumber: bbc
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved