Penjelasan Pakar: Makanan Pedas, Mulut Terbakar, Keluarnya juga Panas, Hindarkan Hal Ini

Selain membuat mulut terasa terbakar, makanan pedas juga membuat anus terasa panas ketika buang air besar keesokan harinya.

Editor: Tariden Turnip
wikipedia
Cabai Carolina Reaper yang dinobatkan sebagai cabai terpedas di dunia 

TRIBUN-MEDAN.com – Tidak ada yang bisa menyangkal obsesi orang Indonesia dengan makanan pedas.

Hal ini dibuktikan dengan larisnya macam-macam makanan yang super pedas, mulai dari mie instan, keripik, cabai bubuk, sampai sambal.

Bahkan, makanan dengan pedas berlevel pun kini menjadi tren.

Berbagai rumah makan di Indonesia pun sering menyediakan berbagai jenis sambal untuk memenuhi selera pengunjungnya.

Namun, fenomena penyuka pedas ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja.

Banyak negara punya budaya makan pedas, misalnya saja Thailand, Meksiko, China, India, dan Etiopia.

Baca: Marc Marquez Senang Rasakan Perbedaan Motor Prototipe 2019 Tunggangannya, Beber Keunggulannya

Baca: Bikin Menu Sambal Patah Hati, Luna Maya Beberkan Makna di Balik Nama Sambalnya Tersebut

Baca: Reuni 212, Anies Baswedan Sampaikan Pidato, Rumah DP Nol Rupiah hingga Reklamasi Teluk Jakarta

Baca: Ingin Keluar dari Grup WhatsApp tanpa Ketahuan? Ikuti 3 Langkah Mudah Berikut Ini

Baca: Menilik Sumber Kekayaan Keluarga Jusup Maruta Cahyadi Sang Crazy Rich Surabayan

Baca: Viral Pernikahan Crazy Rich Surabayan, Tonton Video Prewedding di Lima Benua

Baca: Gadis Remaja 13 Tahun Disetubuhi Ayah Tirinya hingga Hamil, Sang Ibu Rela Putrinya Dinikahi Suaminya

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengapa banyak orang suka memakan makanan pedas?

Pertanyaan ini juga sempat membuat penasaran para antropolog dan sejarawan makanan selama beberapa waktu.

Apalagi, negara dengan budaya makan pedas ini sebenarnya memiliki iklim yang cenderung hangat.

Mengurangi Pembusukan

Dirangkum dari BBC, Jumat (16/02/2018), budaya makan pedas ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa beberapa rempah (yang memunculkan rasa panas atau pedas) bersifat anti-mikroba.

Dalam sebuah survei terhadap resep di seluruh dunia, para peneliti mencatat bahwa jumlah penggunaan rempah dalam makanan meningkat seiring peningkatan suhu tahunan rata-rata.

"Di tempat yang panas, di mana makanan yang tidak disimpan dalam lemari pendingin, pembusukan berlangsung sangat cepat. Rempah-rempah mungkin membantu makanan tetap bertahan sedikit lebih lama, atau setidaknya membuatnya lebih enak," tulis laporan BBC tersebut.

Baca: Dewi Perssik Beberkan Honor Fantastis yang Diterimanya saat Manggung dan Ungkap Rahasia Tetap Eksis

Baca: Lina seolah Menghilang setelah Bercerai, Sule Heran kenapa Mantan Istrinya Tak Pernah Hubungi Anak

Baca: Udar Fakta Penjahat Kambuhan yang Dikeroyok dan Tewas, Kronologi hingga Pengakuan Sang Adik

Baca: Hotman Paris Kesal Diberi Cokelat saat Dimintai Tolong Bantu Kasus Penipuan: Lu Kasih Berlian Dong

Baca: Bikin Menu Sambal Patah Hati, Luna Maya Beberkan Makna di Balik Nama Sambalnya Tersebut

Baca: Pertama Kali Lihat Isi Dompet Ruben Onsu sejak Menikah, Sarwendah Terharu Lihat Benda di Dalamnya

Baca: Cristiano Ronaldo Kembali Mengukir Sejarah, Kali Ini Bersama Juventus

Membuat Berkeringat

Seperti yang kita tahu, mengonsumsi makanan pedas sering kali membuat kita berkeringat.

Keringat ini mungkin membantu kita untuk mendinginkan diri di daerah yang panas.

Efek pendinginan eveporatif (penguapan) yang terjadi saat kita berkeringat berguna untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Namun dalam iklim yang sangat lembab, tidak masalah seberapa banyak Anda berkeringat, penguapan tidak akan mendinginkan Anda.

Itu karena udara sudah terlalu banyak air di udara.

Baca: Eka Rahma Dicekik sebelum Diperkosa hingga Tewas, Tak Disangka Pelaku dan Motif Pembunuhan

Baca: Hotman Paris Tawarkan Jadi Asisten Pribadi, Begini Jawaban Selebgram Cantik Billa Barbie

Baca: Ditanya Lebih Cinta Angel Lelga atau Zaskia Gotik, Jawaban Vicky Prasetyo Bikin Raffi Ahmad Terkejut

Baca: Ini Deretan Film Hollywood yang Ditunggu Tayang pada 2019, Captain Marvel hingga Detective Pikachu

Baca: Viral Video King Kobra Kapuas Berdiam 4 Tahun Lamanya, Panji Petualang Berikan Analisisnya

Baca: Hotman Paris Sebut Lelaki Tak Boleh Nyinyir, Tak Pernah Bermasalah dengan Janda dan Rumah Butut

Baca: Bermula dari Aplikasi Perjodohan, Sempat Kencan, Ujung-ujungnya Si Pria Bawa Kabur Mobil Si Wanita

Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan dengan membandingkan minuman yang diminum seusai berolahraga.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minum air panas setelah berolahraga membantu orang mendinginkan badan lebih banyak dibanding orang yang minum air dingin.

Tapi hal ini dengan catatan hanya terjadi saat kelembapan udara rendah.

Peran Budaya

Pedas tak bisa dipungkiri menimbulkan sensasi rasa baru dalam makanan.

Apalagi jika sensasi ini didapat dari berbagai jenis rempah yang beragam.

Sayangnya, keragaman rasa ini di Eropa sekitar tahun 1.600-an dipandang sebagai sesuatu yang tak beradab, seperti yang ditulis oleh Maanvi Singh dalam bukunya The Salt.

Orang Eropa pada saat itu mengubah standar makanan mewah pada yang berfokus dengan esensi paling murni dari bahan dasarnya.

Peran budaya inilah yang menentukan bagaimana suatu masyarakat merespon rasa makanan, termasuk pedas.

Seperti kebanyakan hewan, manusia menggunakan rasa sebagai cara untuk menentukan apa yang aman untuk dimakan.

Begitu kita terbiasa dengan sebuah rasa tertentu, kita cenderung akan lebih menyukainya.

Inilah yang kemudian menjadi alasan kuat mengapa kita sebagai orang Indonesia makin menyukai rasa pedas dari makanan.

Bahkan, ada rasa yang kurang ketika kita tidak mengonsumsi makanan pedas.

Sensasi Tersendiri

Di masa sekarang, kita punya banyak alasan untuk menyantap hidangan pedas.

Mulai dari adrenalin yang terpacu atau hanya karena ingin. 

Selain itu, reaksi fisiologis terhadap makanan pedas juga terjadi dari hasil aktivasi sensor temperatur dalam mulut.

Tubuh akan bereaksi seolah-olah terbakar. Anda akan berkeringat, memerah, bahkan mungkin muntah akibat makanan pedas.

Sensasi ini memicu pengalaman intens yang dianggap bagian dari daya tarik makanan pedas.

Namun, banyak orang mengeluhkan efek dari memakan makanan pedas.

Selain membuat mulut terasa terbakar, makanan pedas juga membuat anus terasa panas ketika buang air besar keesokan harinya.

Luigi Basso, MD, seorang koloproktologis dan pakar bedah laparoskopi di Sapienza University of Rome, Italia, menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh zat yang membuat makanan terasa pedas.

Zat yang disebut capsaicin ini bukanlah nutrisi sehingga ketika dimakan, tubuh tidak menyerapnya.

Alhasil, zat ini keluar lagi dari tubuh bersama kotoran.

“Dan karena bagian akhir dari wilayah anal –dubur dan anus- dilapisi oleh sel yang mirip dengan mulut, makanan pedas bisa terasa sama panasnya ketika keluar dengan ketika masuk,” kata Basso seperti dilansir dari Men’s Health, 29 Oktober 2015.

Kondisi ini, tambah Basso, juga lebih sering dialami oleh orang-orang dengan irritable bowel syndrome, wasir, dan masalah-masalah pencernaan lainnya.

Meski demikian, bukan berarti Anda tidak boleh makan makanan pedas sama sekali bila memiliki kondisi-kondisi di atas.

Ikuti tips-tips di bawah ini untuk meminimalkan rasa anus terbakar usai makan makanan pedas:

1. Hindari makanan pedas yang terlalu berlemak

Profesor pengobatan di University of South Alabama Brooks D Cash, MD, berkata bahwa kombinasi pedas dan lemak yang berlebih bisa membuat buang air besar Anda pada keesokan harinya bak penderitaan.

Pasalnya, lemak dicerna menggunakan garam empedu dan kelebihannya bisa membuat kulit di sekitar anus iritasi.

2. Mencuci dubur usai buang air besar

Anda jangan tertawa. Steven D Wexner, MD, direktur Digestive Disease Center di Cleveland Clinic Florida benar-benar menyarankan Anda untuk menjaga dubur tetap bersih dan kering usai makan makanan pedas untuk mengurangi rasa terbakar dan gatal-gatal.

Cara mencuci dubur yang baik, ujar Wexner dan Arnold Wald MD dari University of Wisconsin Madison, adalah dengan menggunakan sabun yang lembut dan air hangat.

Setelah dicuci, aplikasikan krim yang mengandung calamine pada anus untuk mengurangi ketidaknyamanan Anda.

Meski demikian, Wexner juga menyarankan Anda untuk konsultasi ke dokter bila rasa terbakar usai buang air besar berlangsung terus menerus.

Hal ini bisa menjadi pertanda adanya penyakit yang lebih serius, seperti infeksi atau bahkan kanker.

3. Makan cabai tiga minggu berturut-turut

Hal ini mungkin terdengar gila, tetapi Sutep Gonlachanvit, MD, ketua divisi gastroenterologi di Chulalongkorn University, Thailand, menyarankan Anda untuk terus-terusan makan makanan pedas selama tiga minggu, walaupun mengalami diare dan rasa terbakar.

Latihan spartan ini dilakukan untuk menciptakan efek desensitisasi atau penurunan sensasi dubur.

Dalam penelitiannya, orang-orang yang mengonsumsi 2,1 gram cabai per hari atau sekitar 1,25 sendok teh cabai bubuk selama tiga minggu tidak lagi mengalami rasa terbakar yang luar biasa ketika buang air besar.

Artikel ini dikompilasi dari Kompas.com berjudul "Kenapa Banyak Orang Suka Makanan Pedas?" dan "Makanan Pedas: Kenapa Masuknya Panas, Keluarnya Juga Panas?" 
Penulis : Shierine Wangsa Wibawa

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved