Prabowo Terus Tebar Pernyataan Kontroversi seperti Indonesia Punah, ternyata Ini Tujuannya

Kalau ditanya yang mengatakan keberhasilan Jokowi, dari hasil survei ada 70% yang menyatakan Jokowi kinerjanya baik. Tapi yang milih Jokowi hanya 50%

Editor: Tariden Turnip
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto memberikan sambutan usai menyaksikan pengukuhan Relawan Gerakan Nasional Cinta Prabowo (GNCP) Kaltim di Balikpapan Sport and Convention Center (DOME), Minggu (25/11/2018). Prabowo Subianto beserta rombongan menyapa dan memberikan arahan kepada ribuan pendukungnya di Kaltim terkait Pilpres 2019. TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Permana, menyebut pernyataan-pernyataan berbau kontroversi yang dilontarkan Prabowo Subianto dan Joko Widodo, akan terus berlangsung hingga jelang pemilihan presiden April 2019.

Hal itu dilakukan untuk memudahkan masing-masing kubu memetakan suara pemilihnya.

Namun demikian, ia berharap kedua calon segera menghentikan aksi saling berbalas ucapan dan lebih menyodorkan program-program untuk masyarakat.

"Ini (saling balas ucapan kontroversi) akan diciptakan sampai April. Jokowi akan terus bicara soal keberhasilannya dan kemampuannya selama lima tahun. Sementara narasi yang dibangun Prabowo adalah gagal semua pemerintahan Jokowi dan tidak berdampak positif," ujar Aditya Perdana kepada BBC News Indonesia.

"Sekarang pilihannya mereka diarahkan mengajukan program-program, bukan berbalas statement yang menurut saya tidak produktif," sambungnya.

Dalam pengamatannya, baik Prabowo Subianto maupun Joko Widodo meniru strategi kampanye Donald Trump.

Keduanya kerap melontarkan pernyataan kontroversi dengan tujuan agar gampang memilah mana yang menjadi pemilih loyal dan tidak.

Langkah itupun, menurut Aditta, berhasil memecah suara masyarakat.

"Menurut saya, di antaranya dua kelompok pemilih ini sudah ada yang percaya," jelasnya.

"Misalnya pernyataan genderuwo, sontoloyo, tempe setipis ATM, kalau mau dilawan dengan fakta, semua itu bisa dinafikkan. Tapi buat mereka (dua kubu) nggak penting. Yang penting, bagaimana membuat pemilih dalam situasi pertarungan dua kelompok yang saling bertentangan."

Ia memperkirakan narasi yang berkembang di masyarakat tidak akan berubah dari balas-balasan perkataan.

Hal lain, kubu Jokowi-Ma'ruf akan terus menggaungkan keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam hal infrastruktur.

Tapi kemudian ditangkis kubu lawan dengan mengatakan program pembangunan itu tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat.

"Kalau ditanya yang mengatakan keberhasilan Jokowi, dari hasil survei ada 70% yang menyatakan Jokowi kinerjanya baik. Tapi yang milih Jokowi hanya 50%. Nah di situ letak kegalauannya," ungkap Aditya.

"Kegalauan tim Jokowi itu yang dimainkan kubu Prabowo dengan menyambar isu bahwa pemerintah gagal, ekonomi jelek, atau infrastruktur tak berdampak."

Sumber: bbc
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved