Jalan Lintas Langkat - Karo Sudah Memasuki Tahapan 50 Persen Pengerjaan

Sudah mencapai kurang lebih 50 persen lah pengerjaan jalan lintas Langkat dan Karo yang menggunakan area Gunung Leuser.

Penulis: Satia |
Jalan tembus Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Langkat-Tanah Karo target akhir tahun 2019 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Satia

TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Izin pemakaian kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sebagai jalan tembus Kabupaten Langkat menuju Tanah Karo, sudah mulai rampung dan memasuki proses persiapan sekitar 50 persen.

Prihal tersebut dikatakan oleh Kepala Bidang (Kabid) Perencana dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sumatera Utara, Iswahyudi.

"Saat ini pengerjaan sedang berjalan ya. Sudah mencapai kurang lebih 50 persen lah pengerjaan jalan lintas Langkat dan Karo yang menggunakan area Gunung Leuser," kata dia, kepada Tribun Medan, dengan sambungan telepon genggam, Jumat (28/12/2018) jelang petang.

Iswahyudi menyampaikan, untuk saat ini jalan belum dapat dilintasi sepenuhnya, karena masih dalam proses persiapan. Ia juga mengatakan pada awal tahun 2019 kemungkinan jalan tersebut dapat dilintasi.

"Sekarang belum kita publikasikan atau informasi untuk jalur umum dulu, karena pengejaan masih. Ada beberapa pengerjaan pelengkap atau pendukung harus kita kerjakan dulu ya," katanya.

Kemudian, ia menyampaikan untuk perlindungan satwanya sendiri, pihaknya sudah mengikuti aturan atau kerjasama (MoU) dengan Menteri Kehutanan dan Balai Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

"Itu ada kita tindaklanjuti atau MOU kerjasama dengan. Ada beberapa ketentuan-ketentuan yang harus kita tindaklanjuti atau kita buat. Termasuk dengan pelindungan satwa di sana itu bagaimana dan itu sudah ada perjanjian kerjasamanya dengan kita mulai beberapa kilo meter pembangunannya," ucapnya.

"Termasuk juga perjanjian dengan BBTNGL tentang perjanjian perlindungan satwanya, ada termasuk perlindungan stawa yang masuk di dalam ini. Ini jalur khusus dan harus ada perjanjian kesepakan dengan dulu. Nantinya akan dibuat portal atau gapura. Portal dan gapura juga akan dijaga oleh petugas dari BBTNGL," ujarnya.

Ia juga memperjelas, bahwa jalur ini adalah laju khusus, mengapa dibilang begitu?

Lantaran jalan ini juga nantinya akan difungsikan sebagai laju evakuasi untuk kepada masyarakat bila sewaktu-waktu terjadi bencana seperti gunung meletus.

Kemudian, akan ada penerapan waktu-waktu khusus untuk masyarakat dapat melintasi jalan tersebut, tetapi ini masih dalam proses perencanaan atau kajian terlebih dahulu.

"Di satu sisi sudah dilihat juga tentang permintaan dari Taman Lauser untuk membuka jalur ini untuk dapat dilintasi. Tapi kita harus ada ketentuan khusus, nantinya akan ada jam-jam khusus yang bisa melintasi, tetapi ini masih rencana dan pembahasan lebih dulu ya. Jadi nanti juga akan dijaga oleh petugas balai Taman Nasional," katanya.

Tidak semua jalur pada jalan ini bisa dilintasi masyarakat, karena masih dalam area hutan lindung, di mana banyak terdapat hewan-hewan yang dijaga. Nantinya, Iswahyudi juga mengatakan, bahwa petugas yang berjaga dari BBTNGL.

"Sekitar 5,4 km itu belum bisa difungsikan dan belum bisa dilintasi, karena akan diuji lagi kelayakan jalanya," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved