Kisah Seorang Perempuan dari Keluarga Taat Beragama yang Menjadi Lesbian
Miriam mengerti bahwa membuka orientasi seksualnya pada keluarganya akan berujung konflik. Dia mencoba sekeras mungkin untuk menyembunyikannya.
"Ayah saya mengatakan : Kamu paham soal Islam. Kamu pergi ke masjid dan membaca Quran. Kamu tahu kan, hal itu dosa? Sejauh yang saya tahu, saya benar dan kamu salah. Apa yang kamu lakukan bertentangan dengan ajaran Islam."
Miriam mengatakan ayahnya memberinya dua pilihan: meninggalkan pasangannya dan kembali ke rumah atau menyerahkan kunci rumah dan tidak pernah kembali lagi untuk menginjakkan kaki di rumah.
"Intinya, dia mengatakan bahwa dia tidak mau lagi berurusan dengan saya atau mengakui saya sebagai anak."
Ayahnya melarang ibunya untuk menemui Miriam, meski ibunya tetap ingin berkomunikasi dengan anaknya. Mereka bertemu beberapa kali di rumah saudara perempuan Miriam, tapi Miriam mengaku dia sudah tak lagi berusaha mengubah persepsi ibunya soal homoseksualitas.
"Ketika kamu meninggalkan agama dan kebudayaan serta mengabaikan perasaan orang lain, kamu hanya perlu berpikir 'dia adalah ibu saya dan saya adalah anaknya', dan itulah satu-satunya yang kamu punya. Ketika saya masih muda saya berpikir 'Saya benar dan dia salah'. Hanya ada hitam dan putih. Namun, sekarang semuanya abu-abu. Perasaannya benar dan perasaan saya juga benar."

Miriam belakangan ini bertemu dengan ayahnya dalam sebuah pertemuan keluarga, yang dihadiri sanak keluarga yang tidak tahu soal orientasi seksualnya.
"Saya menggunakan kesempatan itu untuk bersikap normal. Ketika ayah saya mau berangkat kerja, saya mendekatinya dan memberinya pelukan. Tubuhnya sangat kaku, tapi saya memeluknya selama 10 detik lebih, hanya untuk bersentuhan dengannya, karena saya sangat merindukannya."
"Saya bisa saja pergi begitu saja meninggalkannya waktu itu seperti yang dia minta, tapi saya bisa terus mencoba (dan itulah yang akan saya lakukan)."
Di agama Islam, Kristen dan Yahudi, homoseksualitas adalah dosa. Ketika banyak kalangan agama mulai menerima homoseksualitas, umat Islam di negara-negara barat bertahan dengan pandangan ortodoks.
Miriam, dan kekasihnya sekarang, seorang warga negara Inggris, berencana untuk menikah di tahun 2020. Dia berencana mengenakan gaun tradisional dan mungkin ditandai beberapa motif Asia. Namun, yang lain bisa berpakaian 'se-gay mungkin'.
Perempuan berusia 35 tahun ini sekarang fokus untuk mendirikan grup yang dinamai 'Bristol Queer Muslims'. Dia berharap grup ini dapat menjadi tempat yang aman untuk komunitas LGBT+ Muslim untuk bertemu tanpa rasa takut akan diskriminasi.
"Saya pikir Islam adalah agama yang sangat tertutup. Jika melihat para pemeluknya yang berusia lanjut, mereka terlihat seperti hidup di abad ke-8, bukan abad ke-21. Namun, sebetulnya sangat mungkin untuk menjadi Islam sekaligus gay."
"Saya sangat percaya, meski saya sering berpacaran dengan perempuan di masa lalu, dulu saya belum jujur dengan diri saya sendiri. Pengalaman-pengalaman saya membuat saya tidak hanya lebih kuat, tapi membuat saya lebih menerima diri saya apa adanya."
*Miriam adalah nama samaran. Ia menceritakan kisahnya kepada Jonathan Holmes
Ilustrasi oleh Katie Horwich
Artikel ini sudah tayang di BBC Indonesia dengan Judul "Kisah seorang perempuan Muslim Inggris yang menjadi lesbian"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ilustrasi-katie-horwich-via-bbc-indonesia.jpg)