Sungai Ini Hasilkan Emas Berkadar Nyaris 100 Persen,Jika Beruntung Bisa Temukan Emas Sebesar Kerikil

Kemudian, material tersebut diproses mengunakan alat yang menyerupai piringan yang terbuat dari kayu. Mereka biasa menyebutnya 'dulang'.

Tayang:
Tribun Medan / Nanda F. Batubara
Seorang penambang saat mendulang emas di Sungai Batang Natal, Mandailing Natal, Sabtu (19/1/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Sungai Batang Natal bukan satu-satunya lokasi penambangan emas ilegal di Mandailing Natal. Di sejumlah lokasi lainnya juga terdapat aktivitas serupa.

Contohnya di Kecamatan Hutabargot. Bedanya, para penambang ilegal di sana mendulang emas dengan cara mengeruk tanah di lereng-lereng perbukitan. Bukan di aliran sungai.

Kemudian, material tersebut diproses mengunakan alat yang menyerupai piringan yang terbuat dari kayu. Mereka biasa menyebutnya 'dulang'.

Alat ini berfungsi memisahkan antara emas dan material lainnya seperti pasir dan kerikil atau bijih besi. Sedangkan proses pemisahan unsur emas menggunakan dulang biasa mereka sebut 'mangalimbang' atau 'menggore'.

Namun jangan salah, proses ini tidak semudah seperti yang dibayangkan. Perlu penguasaan teknik serta ketangkasan agar berhasil menggunakan alat tersebut.

SUAMI TIKAM ISTRI Hingga Kritis karena Menolak Hubungan Intim, Begini Suratnya saat Ditangkap

Viral Paket Berisi Kata-kata Kasar pada Persib Bandung, JNE Apungkan Permintaan Maaf

LUHUT Panjaitan Marah, Ultimatum Penyebar Hoax Minta Maaf, Ini Tanggapan BPN Prabowo-Sandiaga

Beralih ke Hutabargot, para penambang di sini menggali tanah di lereng perbukitan yang diperkirakan mengandung emas.

Hasil penggalian itu kemudian akan dibopong para pekerja ke tempat pengolahan. Artinya, prosesnya tidak langsung dilakukan di lokasi tambang. Mereka membawanya ke tempat yang biasa disebut "gelondongan'.

 

Di gelondongan inilah bebatuan atau tanah yang sebelumnya diangkut dari lubang tambang di lereng perbukitan tersebut diproses.

NEWS VIDEO: MALAM INI Jembatan Sidua-dua Parapat Kembali Diterjang Lumpur

Ina Antimurti Diperkosa lalu Dibunuh dan Dibakar di Springbed, Pelaku sang Pacar, Ini Kronologinya

Untuk memisahkan emas yang menempel pada material itu, para penambang biasa menggunakan zat mercury atau biasa mereka sebut quick.

Perbedaan yang paling menarik antara dua lokasi pertambangan ini adalah kandungan atau kadar emasnya. Kadar emas yang dihasilkan dari Sungai Batang Natal lebih tinggi ketimbang kadar emas hasil penambangan Hutabargot. Bahkan, kadar emas di sungai tersebut mencapai 95 persen hingga 100 persen.

 

Sedangkan di Hutabargot biasanya hanya berkadar 60 persen sampai 70 persen.

"Emas di sini lebih bagus. Kadarnya 99 persen sampai 100 persen. Kadarnya lebih baik dari di Hutabargot, kalau di Hutabargot paling 60 persen sampai 70 persen," kata seorang mantan penambang, K Nasution, saat ditemui di Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Mandailing Natal, Sabtu (19/1/2019).

 

Tidak seperti di Hutabargot, emas yang berasal dari Sungai Batang Natal berbentuk serpihan. Jika beruntung, para penambang akan mendapat bijih emas yang berukuran lebih besar. Bentuknya bisa seperti kerikil bebatuan sungai.

"Kalau di sini tidak ada istilah digembos (proses pembakaran sebelum menjadi emas) atau pakai air raksa. Karena di sini itu sudah langsung emas murni yang kita dapat," kata Nasution.

 

Seorang pengusaha toko emas yang sengaja tidak dituliskan namanya, membenarkan ucapan K Nasution. Katanya, kandungan emas dari Sungai Batang Natal jauh lebih bagus ketimbang emas yang berasal dari Hutabargot.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved