Warga Mengeluh Air Sumur Berbau Seperti Comberan Diduga Berasal dari RS Latersia
Arif warga Kelurahan Sumber Karya, Binjai Timur menitikan air mata di hadapan Anggota DPRD Kota Binjai Jonita Agina Bangun
Penulis: Dedy Kurniawan |
TRIBUN-MEDAN.com - Arif warga Kelurahan Sumber Karya, Binjai Timur menitikan air mata di hadapan Anggota DPRD Kota Binjai Jonita Agina Bangun, saat memperlihatkan kondisi air sumur rumahnya yang berwarna hitam, berminyak, berbuih dan berbau tak sedap layaknya air comberan, Selasa (12/2/2019)
"Kek gini lah Pak air sumur kami, gak sanggup saya kek gini airnya untuk dipakai dan dikonsumsi anak dan cucu saya. Saya tidak apa-apa lah, sudah kebal mungkin gak gatal-gatal lagi, cucu saya terpaksa pakai air isi ulang," ujar Arif sambil mengusap air matanya dengan kausnya.
Arif mengaku sudah sekitar enam atau tujuh tahun kondisi air di lingkungannya tak layak dikonsumsi dan dipakai untuk kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini diduga berasal dari lokasi septitank RS Latersia yang berdekatan dengan rumah warga.
"Sumur kami airnya hitam semenjak ada Latersia berdiri, septitank-nya apa terlalu dekat dengan rumah kami saya gak tahu, dan masih duga-dugaan. Enam bulan itu berdiri air parit pun cokelat dan bau amis. Sampai saat ini air warga bau. Kami sudah cari ada pipa diduga dari Latersia, airnya bawa anyir, ada pipa di rumah warga," ungkap Arif sambil menunjukkan lokasi pipa.
Anggota DPRD Kota Binjai Komisi B, Jonita Agina Bangun yang membidangi urusan ternak, limbah, kesehatan sangat prihatin dengan keluhan masyarakat. Dia pun turun langsung melihat kondisi air dan lingkungan sekitar dimaksud.
"Masalah limbah jangan lagi pengusaha membuat masyarakat resah dan tidak nyaman. Ada Perdanya itu tentang ketertiban umum. Jadi bisa masuk ke pidana kalau dilaporkan.
Jonita bersama sejumlah wartawan terjun langsung ke lokasi mengecek puluhan rumah yang terdampak dugaan limbah.
Amatan Tribun-Medan.com, sumur milik Arif benar berminyak, menghitam, bau, dan berbuih seperti air comberan. Kondisi air juga sama di sumur rumah dan bak kamar mandi Rasmiati.
Tidak hanya langsung melihat air terdampak limbah di sejumlah kamar mandi warga dan sumur, sejumlah parit airnya juga menghitam.
Jonita juga melihat langsung ke parit di belakang rumah warga yang berbatasan langsung dengan RS Latersia. Terlihat dugaan muasal aliran air yang diduga limbah yang bocor.
"Iya ini sudah jelas ini ada dugaannya, itu ada yang bocor. Ini berbatasan langsung dengan rumah sakit," kata Jonita.
Atas temuan dugaan pencemaran lingkungan dan limbah, Jonita ke depan akan memanggil dinas terkait, yakti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Binjai.
Dia akan meminta Dinas terkait dan pihak RS Latersia duduk bersmaa membahas permasalahan yang merugikan masyarakat.
"Seyogyianya dengan RS Latersia yang kata warga sudah berdiri 6 sampai 7 tahun harusnya DLH dan Dinas Kesehatan harus merespon. Sebelum masyarakat terimbas limbah dan polusi RS, harusnya mereka ada kontrol dan evakuasi. Tapi ini tidak dilakukan Pemko Binjai. Ini masalah besar. Air konsumsi kehidupan. Pemko Binjai harus ada evaluasi ini. Kita akan panggil DLH dan Dinas Kesehatan hadirkan pihak RS Latersia. Ini kecolongan Pemerintah Kota Binjai. Ada 35 rumah tercemari selama hampir 7 tahun. Wali Kota harus panggil kepala dinas. Mereka harus turun ke lapangan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/arif-warga-kelurahan-sumber-karya-binjai-timur-menitikan-air-mata.jpg)