Hanya dengan Sebuah Stiker Berikut Ini, Buah Bisa Segar dan Bertahan sampai 2 Minggu
Hanya dengan Sebuah Stiker Berikut Ini, Buah Bisa Segar dan Bertahan sampai 2 Minggu
Ada beragam jenis buah yang tersebar di dunia, namun sayangnya buah pun memiliki kelemahan cepat membusuk atau rusak jika salah menyimpannya.
Hanya dengan Sebuah Stiker Berikut Ini, Buah Bisa Segar dan Bertahan sampai 2 Minggu
TRIBUN-MEDAN.com - Buah-buahan merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia karena kaya akan vitamin dan nutrisi yang baik bagi tubuh.
Ada beragam jenis buah yang tersebar di dunia, namun sayangnya buah pun memiliki kelemahan cepat membusuk atau rusak jika salah menyimpannya.
Melihat kondisi demikian, sebuah perusahaan Malaysia yang bernama Stixfresh membuat terobosan baru untuk membuat buah tidak cepat busuk dan mampu bertahan hingga dua minggu yakni dengan sebuah stiker.
Stiker ini mampu menghilangkan etilen yang merupakan hormon pematangan yang ditemukan dalam buah seperti apel, pir, alpukat, buah naga, kiwi, mangga, jeruk, dan masih ada banyak lagi.
Selain itu, stiker yang dikembangkan oleh Stixfresh ini mampu mencegah pertumbuhan jamur yang bisa merusak kualitas buah-buahan.
Dilansir dari Globalcitizen.com, Pendiri Stixfresh, Zhafri Zainudin mengungkapkan jika dibutuhkan tiga tahun untuk mengembangkan stiker ini.
Ia menambahkan jika stiker ini tidak bisa melawan pembusukan melainkan bisa memperlambat pembusukan dengan memanfaatkan kekuatan alam.
Stiker ini merupakan produk revolusiner di mana bisa digunakan untuk mengurangi limbah makanan terutama pada buah-buahan.
Organisasi Pangan dan Pertanian mencatat, sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang dengan sia-sia, dan buah-buah serta sayuran menjadi makanan yang paling dominan.
Jika dikelola dengan lebih baik, makanan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan membantu memberi makan sekitar 925 juta orang yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi secara global.
Limbah makanan tidak hanya menandakan hilangnya sumber nutrisi yang sangat baik, namun juga berarti sumber daya termasuk air, tanah, energi, dan tenaga yang digunakan untuk memproduksi makanan sia-sia.
Lebih lanjut, gas rumah kaca yang dipancarkan selama proses produksi tetap berada di atmosfer dan berkontribusi terhadap perubahan iklim, apakah makanan benar-benar masuk ke piring seseorang atau tidak.
Bahkan, limbah makanan sebenarnya meningkatkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan melalui makanan karena membusuk di tempat pembuangan sampah dan di tempat lain.