Breaking News

Isu Bonus Demografi bagi Pertumbuhan Ekonomi Sumut, Begini Penjelasannya

Bernard Manurung mengatakan bonus demografi ini usia produktif artinya usia layak kerja dibanding dengan usia yang tidak layak kerja.

TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Ketua Peduli Bonus Demografi, Bernard Manurung. Isu bonus demografi dapat dilihat dari struktur kependudukan di Indonesia, sebab lebih banyak usia layak kerja yaitu usia 15 tahun sampai 64 tahun. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Bonus Demografi adalah suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15 hingga 64 tahun) di suatu wilayah atau negara lebih besar dari jumlah penduduk tidak produktif (kurang dari 14 tahun dan diatas 65 tahun).

Proporsi penduduk yang produktif (yang bekerja) lebih besar dari yang tidak produktif (tidak bekerja), sehingga tingkat kebergantungan penduduk tidak produktif kepada penduduk yang produktif menjadi kecil. Dalam kata lain, Bonus Demografi adalah ledakan penduduk usia kerja dalam struktur umur masyarakat di suatu wilayah atau negara.

Ketua Peduli Bonus Demografi, Bernard Manurung mengatakan bonus demografi ini usia produktif artinya usia layak kerja dibanding dengan usia yang tidak layak kerja dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun. Sebenarnya, di Indonesia sudah merata hanya saja, untuk Sumatera Utara (Sumut) perbandingannya seimbang.

"Di Sumut, seimbang usia produktif dan tidak produktif tapi ini membuktikan usia produktif sudah cukup besar di Medan karena itu tidak usah heran bila tingkat penganguran tinggi di Sumut ini," ujar Bernard, Sabtu (16/3/2019).

Bernard menjelaskan isu bonus demografi dapat dilihat dari struktur kependudukan di Indonesia, sebab lebih banyak usia layak kerja yaitu usia 15 tahun sampai 64 tahun. Nantinya di Tahun 2025 hingga 2030 perbandingannya sebanyak 51 persen usia produktif berimbang di Sumut.

"Pada tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumut mencapai 70,57. Angka ini meningkat sebesar 0,57 poin atau tumbuh sebesar 0,81 persen dibandingkan tahun 2016. Bayi yang lahir di Sumut pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 68,37 tahun, lebih lama 0,04 tahun dibandingkan tahun sebelumnya," kata Bernard.

Ia mengatakan anak-anak yang pada tahun 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,10 tahun, lebih lama 0,10 tahun dibandingkan dengan tahun 2016. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 9,25 tahun, lebih lama 0,13 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pada tahun 2017, masyarakat Sumut memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per
kapita sebesar 10,04 juta rupiah per tahun, meningkat 292 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya," ucapnya.

Bernard menjelaskan kelebihan Sumut yaitu Sumut sudah memiliki infrastruktur semakin baik terlihat dari jalan tol, dan bandara yang juga sudah kelas internasional.

"IPM juga cukup tinggi dari nasional yang juga sekitar 70,81 dari indikator pendidikan, perkapita, dan kesehatan," katanya.

Menurutnya, cara memaksimalkan bonus demografi adalah dengan suplai tenaga kerja yang produktif, perempuan juga bekerja, tabungan masyarakat yang hubungannya ke bank,
modal manusia dan tetap menjaga tingkat kelahiran (KB).

"Permasalahan Sumut itu diantaranya tingkat kelahiran anak masih tinggi atau berada di atas angka kelahiran secara nasional rata-rata 2,4 sementara di Sumut 2,9. Tingkat pengangguran juga tinggi sebesar 396 ribu tahun 2018 dan peringkat ke 11 di Indonesia," kata Bernard.

Ia menjelaskan penganguran terbanyak dari SMK sebesar 9,65 persen atau sekitar 37 ribu jiwa.
"Tahun 2018 kebanyakan anak-anak SMK yang usia produktif itu setelah mereka tamat enggak ada lapangan kerja yang bisa menyerap mereka. Karena jumlahnya besar, enggak ada sektor ekonomi dan sektor industri yang mampu menyerap mereka sehingga menjadi permasalahan juga untuk tingkat pengangguran di Sumut," ungkapnya.

Ia mengatakan adapun beberapa solusi dalam menanggapi bonus demografi ini diantaranya menjaga tingkat kelahiran, mengembangkan pariwisata, membangun pusat kajian bonus demografi mulai dari sekarang di kampus atau kajian-kajian dan sosialisasi isu bonus demografi serta edukasi pemamafaatan penjualan daring (online) karena fleksibel dan tidak butuh modal besar.

"Tingkat pengangguran terendah itu di Bali yaitu 1,3 persen, jadi sebenarnya sektor pariwisata ini mampu menyerap usia produktif. Wisata juga salah satu yang dapat menyerap lebih besar penganguran, Sumut juga bisa menarik sektor pariwisata ini," ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved