Breaking News

UPDATE Bom di Gereja dan Hotel Saat Paskah, Ternyata Aparat Sudah Tahu Sebelum Terjadi Ledakan

Kabar bahwa aparat punya informasi bahwa terdapat potensi serangan dikuatkan Menteri Telekomunikasi Harin Fernando.

Tayang:
CHAMILA KARUNARATHNE/GETTY IMAGES
Suasana di dalam gereja St. Anthony di Kolombo, Sri Lanka, setelah ledakan bom 21 April 2019. 

TRIBUN-MEDAN.com-Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, mengatakan aparat keamanan telah "mengetahui informasi" adanya kemungkinan rangkaian serangan.

Perkataan tersebut dikemukakan dalam jumpa pers Minggu (21/04), menanggapi rumor bahwa aparat memiliki informasi intelijen mengenai rencana serangan.

"Kita harus mencari tahu mengapa langkah-langkah pencegahan tidak ditempuh. Baik saya maupun para menteri tidak diinformasikan," ujarnya.

"Saat ini prioritasnya adalah menahan para penyerang," tambahnya.

Kabar bahwa aparat punya informasi bahwa terdapat potensi serangan dikuatkan Menteri Telekomunikasi Harin Fernando.

Dia mengunggah beberapa foto yang tampak seperti surat berisi laporan intelijen bertanggal 11 April, atau 10 hari sebelum kejadian.

Sejauh ini belum diketahui pihak mana yang berada di balik serangan, namun kepolisian Sri Lanka telah menahan 13 orang.

Pemerintah meyakini serangan bom bunuh diri digunakan dalam serangan ke sejumlah gereja dan hotel.

Pada Minggu (21/4), Angkatan Udara menyebut bom rakitan telah ditemukan di dekat bandara Kolombo.

"Pipa PVC sepanjang 1,8 meter berisi peledak telah ditemukan," sebut juru bicara AU Sri Lanka, Gihan Seneviratne, kepada media setempat.

Map showing locations of attacks

Pemerintah Sri Lanka menerapkan jam malam di seluruh negeri hingga waktu yang tidak ditentukan menyusul serangan terkoordinasi di sejumlah gereja dan hotel pada Minggu (21/04).

Hingga kini sedikitnya 207 orang meninggal dunia dan 450 lainnya mengalami luka dalam serangan bertepatan dengan perayaan Paskah itu.

Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardane mengatakan larangan keluar pada malam hari diberlakukan "hingga pemberitahuan lebih lanjut".

"Kami akan menempuh segala tindakan yang diperlukan untuk melawan kelompok ekstrem yang beroperasi di negara kami," tegasnya.

Selain memberlakukan jam malam, pihak berwenang juga memblokir sementara akses ke media sosial sebagai langkah mencegah berbagai spekulasi atau informasi menyesatkan terkait serangan tersebut.

Para rohaniawan di depan gereja St Anthony di Kochchikade, salah-satu gereja yang menjadi target serangan.
Para rohaniawan di depan gereja St Anthony di Kochchikade, salah-satu gereja yang menjadi target serangan. (REUTERS)

Jumlah Korban Terus Bertambah

Jumlah korban meninggal dunia akibat serangan bom di tiga gereja dan empat hotel di Sri Lanka bersamaan dengan perayaan Paskah terus bertambah.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved