Belum Ada Solusi untuk PKL Pasar Sukaramai, Pedagang Menolak Masuk Pasar
Pemko Medan masih berupaya menertibkan pedagang pasar yang berjualan di area luar dan pedagang kaki lima (PKL).
TRIBUN-MEDAN.com - Pemko Medan masih berupaya menertibkan pedagang pasar yang berjualan di area luar dan pedagang kaki lima (PKL).
Para pedagang membangkang dan tidak mematuhi aturan pemerintah meski sudah diusir beberapa kali oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Seorang pedagang buah di Pasa Sukaramai, Ida, mengaku berjualan di pinggir jalan lebih laku.
"Bukan kami tidak mencoba jualan di dalam, cuma kurang laku. Di luar, saya menjual Alpukat 150 kg, di dalam saya coba cuma 40 kg sampai sore. Jadi kami makan apa?" katanya, Kamis (25/4/2019).
Menurutnya, mesi distribusi harus dibayar terus. Seperti cukai, sampah, jaga malam. Cukai sebesar Rp 4 ribu, sampah Rp 2 ribu dan uang jaga malam Rp 2 ribu setiap harinya.
Baca: Dirut PD Pasar Kota Medan Akui Benahi Pasar Sukaramai, Ini Kata Rusdi Sinuraya
Baca: PK5 Pasar Sukaramai Ditertibkan, Warga: Baru Terasa Lebar Jalan Ini
Baca: Ricuh Penertiban Pasar Sukaramai, Seorang Pedagang Dilarikan ke Rumah Sakit Madani
"Itupun meja kecil dan bukan kios. Waktu kami coba di dalam enam bulan, uang yang disimpan ditarik terus untuk modal. Lakunya hanya 20 kg. Tidak tahulah bilangnya, stres lah," lanjutnya.
Ia bersama pedagang pasar yang lain sudah pernah mengeluh kepada Perusahaan Daerah (PD) Pasar. Namun, mereka diminta untuk bersabar dan akan dicarikan jalan keluar.
"Orang di dalam semua pindah keluar. Sebentar lagi yang di dalam pindah juga keluar di lokasi parkir ini," katanya warga Medan Amplas ini.
Ia juga menceritakan bagaimana mahalnya harga sewa meja.
"Rp 100 juta kami menyicil ke bank, kalau beli dua meja, 3 juta sebulan. Kalau saya cuma satu, Rp 1,5 juta kurang lebih," ungkapnya yang sudah 32 tahun berjualan.
Sukaramai ini karena sudah semrawut, katanya. Ia pun sudah tidak mengerti masalahnya di mana. Jalan dipenuhi oleh pedangang liar semua. Sementara, yang berjualan di dalam harus berkutat dengan harga sewa mahal dan kurang laku.
"Pahit lah memang. Ini banyak yang menggadaikan surat rumah, tanah, karena mengambil sewa. Tidak ada cerita bohong. Memang itulah nyatanya. Kami disuruh masuk. Jadi, menjerit lah semua. Tidak usah untuk anak sekolah, untuk makan pun berat," ceritanya.
Para pedagang pun sudah banyak yang tidak berjualan karena tidak sanggup, habis modal dan tidak sesuai uang masuk dan uang keluar.
"Yang bertahan yang dekat tangga, yang basement. Kami di ujung sana. Saya jualan jauh di dalam. Sedih juga kami memang. Istilahnya kan kami pedagang resmi. Tetapi, tidak tahunya beginilah," terangnya.
Ia memohon kepada pemerintah bagaimana solusi yang bagus agar biar maju pajak ini dan mereka aman berjualan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pasar_sukaramai.jpg)