Masjid Nurul Islam, Simbol Toleransi Warga Tiga Generasi di Ujung Pulau Samosir
Masjid ini dulu dibangun sendiri oleh tetua setempat yakni Tumbur Samosir. Lalu dikerjakan bersama dengan keluarga dan warga lainya.
Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR -Berdampingan dengan rumah ibadah lainnya, berdiri satu Masjid Nurul Islam di Jalan Siti Aminah Samosir, Desa Tambun Sukkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir.
Berada jauh di pelosok Tanah Batak, di Tepi Danau Toba dan di garis minoroitas, namun adzan tak pernah berhenti berkumandang saat waktu salat seperti ditemui Tribun, Senin (13/5/2019) Petang.
Masjid ini dulu dibangun sendiri oleh tetua setempat yakni Tumbur Samosir. Lalu dikerjakan bersama dengan keluarga dan warga lainya.
Oppu Benry boru Samosir (87), mengatakan ajaran Islam dibawa ke Samosir pertama sekali oleh ayahnya, Tumbur Samosir. Tumbur Samosir belajar di Aceh selama dua tahun, kemudian pulang ke Bona Pasogit, Samosir membawa Islam sekitar tahun 1947.
"Bapak kami ini dulu belajar Islam dari Aceh, selama dua tahun. Awalnya pergi, dulu ada masalah di kampung, sejak itulah. Saat kembali, sudah membawa Islam",ujar Putri bungsu Tumbur Samosir itu.
Katanya, Tumbur dan rekan-rekanya mengerjakan masjid tersebut dalam jangka waktu enam bulan. Sebelum masjid tersebut berdiri, terlebih Tumbur telah membangun dua Suroh di Tepi Pantai Danau Toba.
Berdirinya, masjid tersebut bukan serta merta rampung tanpa kendala. Ada sejumlah tantangan yang mesti dilewati, baik penyesuaian dengan warga hingga akhirnya diterima dengan baik oleh penduduk.
Dulunya, kata Oppu Benry bahan-bahan yang dipakai mendirikan rumay ibadah tersenut, batu padas yang dikumpulkan dari tepian Danau Toba. Secara bergotong royong, mereka mengangkut material dengan perahu tradisional "solu".
Sebelum masjid rampung, mereka salat di luar masjid yang hanya 10 meter dari tepi pantai Danau Toba tersebut. Lokasi masjid juga sangat strategis, dan gampang diakses.
"Enam bulan dulu pengerjaannya, mengantar batu memakai solu. Batu "rase-rase". Sekitar empat tahun, berdiri suroh lau didirikanlah Masjid,"kata wanita yang telah bercucu dan cicit 33 orang ini.
Berbekal belajar Islam di Aceh, Tumbur pun berhasil mendekati warganya hingga masuk Islam. Tidak hanya di Onan Runggu, Tumbur spergi berdakwah hingga ke Kawasan lain di Tepi Danau Toba, seperti di Kecamatan Harian dan Desa Sihotang. Lalu diteruskan anak-anaknya, walau Tumbur meninggal ada usianya yang ke 75 tahun dan dikuburkan di Kampung Halamannya, Onan Runggu.
Saat ini, umat Islam di Onan Rungu sebanyak 45 KK. Namun, umat Islam Onan Runggu banyak yang sudah merantau, dan biasanya kembali ketika Lebaran tiba.
Meski eksistensi Umat Muslim berada pada garis Minoritas di daerah itu, toleransi tetap terjaga hingga tiga generasi saat ini. Mereka bebas menjalankan ibadah masing-masing, dan rumah ibadah pun terbilang berdiri berdampingan dengan Gereja Umat Kristiani juga rumah ibadah Parmalim.
"Tidak ada yang berkelahi, dan yang penting saling menghargai. Kami disatukan adat istiadat,"sebutnya.
Indahnya lagi, kata Oppu Benrry bila ada perhelatan pesta adat, penyelenggara pesta selalu menyediakan tukang potong hingga masakan khusus untuk yang berasal dari Agama Islam. Istilah mereka biasa disebut dengan "Parsolam", yang berarti tidak bisa makan daging B2.
Kegiatan masjid beragam, mulai dari perwiritan, pengajian anak-anak. Lalu buka puasa bersama dan menyembelih kerbau untuk makan bersama saat para perantau pulang kampung.
(jun/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/masjid-nurul-islam-di-desa-tambun-sukkean.jpg)