Ulama Perantau asal Banten Tinggalkan Masjid Bersejarah di Kota Binjai

Sekilas masjid ini dari luar masih mempertahankan ciri atas masjid di Pulau Jawa

Ulama Perantau asal Banten Tinggalkan Masjid Bersejarah di Kota Binjai
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Masjid Abdul Karim di Binjai Selatan merupakan masjid tertua kedua di Kota Binjai setelah Masjid Raya Binjai. 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Seorang ulama asal Banten, KH Abdul Karim merantau jauh ke Pulau Sumatera Utara. KH Abdul Karim Dalam misinya menyebarkan agama dan pendidikan Islam bertemu dengan saudagar kaya Toke H Matsech.

Dari persahabatan ulama dan saudagar ini, Masjid Jami' KH Abdul Karim yang dibangun pada 1930 atau 1351 Hijriah adalah bukti peninggalan bersejarah yang mereka bangun bersama.

Masjid ini masih berdiri kokoh di‎ Kelurahan Rambung Dalam, Binjai Selatan dan masih menjadi pusat ibadah dan pengajian Islam.

‎Sekilas masjid ini dari luar masih mempertahankan ciri atap masjid di Pulau Jawa, sebagaian besar bangunan sudah seperti bangunan masjid era modern. Namun, ketika menilik ke dalam masjid, terdapat bangunan khas mimbar yang mirip dengan masjid-masjid Kesultanan Melayu.

Masjid sudah beberapa kali dipugar. Oleh HM Kamil Karim yang dipercaya untuk mengelola mesjid ini melakukan pemugaran pertama pada tahun 1965, dan konon ada pesantren di sekitar lokasi sebagai sejarah adanya salah satu pusat pendidikan Islam di Binjai.

"Sekarang ini tinggal masjid ini yang masih berdiri kokoh. Dahulu di sini ada pesantren juga. Kami enggak sempat bertemu dengan atok kami. Kamil Karim ini atok kami yang merupakan perantauan dari Banten," ujar Hj Riswani Hanim (68)‎ pengelolah masjid generasi kedua.

Amatan tribun-medan.com, sejumlah daun jendela masjid masih mempertahankan bangunan pertama, jendela kayu yang mengatup ke kanan dan kiri terlihat khas bangunan klasik. Di sisi halaman masjid terdapat makam dari H Matsech dan Cik Sum, KH Abdul Karim dan makam adiknya.

"KH Karim makamnya ada dekat T Matsech dan istrinya. Pesan atok kami gak boleh makamnya dibangun terlalu tinggi, makanya hanya sebatas petak saja. Sebelah kanan itu adeknya, namanya Toke M Aqib," ujar Nek Riswani.

Sambil mengitari sejumlah sudut masjid, Riswani mengisahkan, bahwa Kyai Karim merupakan salah satu tokoh ulama besar di Kota Rambutan pada zaman itu. Oleh Toke Matsech, menyerahkan masjid tersebut kepada Kyai Karim agar dapat dikelola hingga dimakmurkan.

"Dulu tokoh besar atok kami, muridnya ada menyebar kemana-mana. Pernah ada muridnya datang ke mari lihat makamnya, mau dibangun, tapi gak bisa karena ada pesan atok jangan dibangun. Mahasiswa-mahasiswa yang fokus di bidang studi sejarah, sudah cukup banyak mampir ke Masjid Jami' KH Abdul Karim," katanya.

Masjid Abdul Karim tercatat sebagai masjid tertua kedua di Kota Binjai setelah masjid Raya Binjai di Jalan KH Wahid Hasyim Pekan Binjai, Binjai Kota, yang dibangun tahun 1.887. Selain itu, terdapat bedug yang sama tuanya saat pertama kali masjid Abduk Karim dibangun.

"Keistimewaannya mimbar dan bedug. Ada nilai sejarahnya. Makanya nama jalan di sini diberikan nama sama dengan nama masjid. Bukan nama Toke Matsech," ujar dia.

Terjadi pemugaran kedua pada masjid ini, perbaikan dilakukan oleh HM Aswin Kamil tahun 1998. Lalu, pada tahun 2003, masyarakat bersama Pemerintah Kota Binjai kembali melakukan renovasi‎.

"Terakhir renovasi kembali dilakukan tahun 2015 sekaligus juga membangun menara masjid. Wali Kota Binjai, H Muhammad Idaham berkesempatan melakukan peletakan batu pertamanya," pungkasnya.

(dyk/tribunmedan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved