Berpuasa setelah Menjalani Operasi? Begini Penjelasan Ahli Gizi Rumah Sakit Pendidikan USU

Yusuf mengatakan terlepas seseorang itu selepas operasi ataupun tidak, puasa sangatlah baik untuk metabolisme tubuh.

Berpuasa setelah Menjalani Operasi? Begini Penjelasan Ahli Gizi Rumah Sakit Pendidikan USU
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Ahli Gizi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Sumatera Utara (USU), Yusuf Satya, S.Gz, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Instalasi Gizi Rumah Sakit USU, Jalan Dr Mansyur No.66, Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan adalah kewajiban bagi seluruh umat Muslim.

Namun beberapa orang yang baru saja operasi kerap kali takut dan bingung apakah dapat tetap menjalankan ibadah puasa atau tidak.

Ahli Gizi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Sumatera Utara (USU), Yusuf Satya, S.Gz berbagi pengetahuan hingga tips dan trik berpuasa sehat selama bulan ramadan terkhusus bagi orang yang baru saja operasi.

Yusuf mengatakan perlu diketahui bahwa pada kondisi umum pascaoperasi, dibutuhkan waktu ± 1 minggu untuk masa pemulihan dan 3-4 minggu pascaoperasi sudah kembali fit. Asupan gizi dan daya tahan tubuh menjadi faktor pendukung pemulihan kondisi pasien.

Sebagai ahli gizi, Yusuf mengatakan terlepas seseorang itu selepas operasi ataupun tidak, puasa sangatlah baik untuk metabolisme tubuh.

"Sangat disarankan berpuasa, sebab puasa itu ibaratnya detoksifikasi tubuh, selain dari sisi agama ya, perlu diketahui sirkulasi tubuh menjadi lebih teratur terutama di bagian Lambung dan Usus, karena penyerapannya lebih baik. Dan puasa tidak mengganggu sistem imun, bahkan memperbaiki Homeostatis, yaitu sirkulasi tubuh jadi lebih baik lagi," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan berpuasa selama Ramadhan tidak membahayakan pasien pascaoperasi, namun dapat memperlambat pemulihan dikarenakan asupan nutrisi yang dikonsumsi terbatas. Untuk kasus operasi besar, misalnya pemotongan usus dianjurkan untuk tidak berpuasa Ramadan dan menggantinya saat sudah sehat kelak.

"Kalau oprasinya ringan seperti caesar bisa, tapi kalau sampai operasi besar, misalnya di duodenum ada masalah pencernaan atau pendarahan tidak disarankan berpuasa," katanya

Kalau operasinya tergolong ringan, Yusuf tetap menyarankan menjalankan pola hidup sehat dan teratur.

"Pertama jangan lupakan air 2 liter perhari, karena bulan puasa kita tidak bisa mengkonsumsi air dengan rutin maka ada tipsnya agar asupan mineral tetap terjaga baik.

"Saat berbuka puasa (1 gelas), Jam 18.30 WIB, Setelah makan takjil (1 gelas), Jam 18.40 WIB, Setelah sholat maghrib (1 gelas), Jam 19.10 WIB, Sebelum sholat isya dan tarawih (1 gelas), Jam 20.00 WIB, Setelah sholat tarawih (1 gelas), Jam 21.00 – 21.30 WIB, Sebelum tidur (1 gelas), Jam 22.00 – 22.30 WIB, Bangun tidur (1 gelas), Jam 03.00 WIB, Saat Sahur (1 gelas), Jam 04.00 – sebelum Imsak," katanya.

Yusif juga menyarankan agar jangan mengkonsumsi makanan asam, seperti lemon dan nenas namun merekomendasikan buah pepaya dan alpukat. selain itu ia juga menyarankan untuk tetap menjaga aktifitas fisik selama puasa, jangan terlalu letih atau pun jangan menghabiskan waktu seharian bermasalah.

"Selama puasa boleh olah raga, tapi disarankan saat menuju berbuka puasa, seperti lari sore, sebab kalau pagi terlalu banyak menguras tenaga dan bisa rehidrasi, antara sejam atau dua jam sebelum berbuka, bisa juga olahraga santai seperti tenis meja, atau raket," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved