Mbah Arjo yang Tercatat Berusia 193 Tahun Wafat, Mengaku Pernah Temani Soekarno Ritual

Data di balai desanya, mbah Arjo tercatat kelahiran 1825. Saat itu, ia hidup bersama anaknya, Ginem (53), anaknya ke-18 dari istrinya yang keenam.

Tribun Jatim
Mbah Arjo Suwito, manusia tertua di Indonesia asal Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar semasa hidup. 

Mereka melakukan ritual melekan di gubuk mbah Arjo,

"Biasanya para tamunya lapor ke desa, bahkan perangkat kami seringkali yang mengantar tamu-tamunya mbah Arjo. Kalau ada melekan 1 Suro, malah kami yang meminjami genset karena tempat tinggalnya belum terjangkau listrik," tuturnya.

Bahkan, tamunya tak hanya kalangan orang biasa, tak sedikit para pengusaha dan para pejabat.

Salah satunya tamu mbah Arjo adalah Heri Noegroho, Bupati Blitar dua periode 2005-2015. Meski tamunya banyak orang berduit, namun kehidupan mbah Arjo tetap sederhana.

Buktinya, ia tak mampu membeli beras sehingga sering tak makan.

"Bahkan saya tahu sendiri, pernah diberi uang oleh seorang pejabat yang dibantunya. Namun mbah Arjo tak mau. Malah si pejabat itu diberi uang dollar, yang bentuknya masih baru dan asli. Oleh pejabat dollar itu diterimanya," tutur Widodo.

Heri Noegroho, mengaku mengenal mbah Arjo dengan bak dan ia kagum dengan kesederhanan mbah Arjo.

"Dulu (saat masih jadi bupati), saya memang sering ke sana dengan naik sepeda motor.

Selain ada kepentingan tersendiri dengan mbah Arjo, juga sekalian ingin mengenalkan destinasi wisata, yakni candi penemuan mbah Arjo (Candi Wringin Branjang) itu," tuturnya, Minggu (14/1/2018).

Kalau soal usia mbah Arjo, Heri Neogroho mengaku tak tahu pasti, namun ia yakin  mbah Arjo sudah berusia 100 tahun lebih.

Dari sosok mbah Arjo, Heri mengaku banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. Selain sederhana, ia bisa bertahan hidup di lereng pegunungan dengan makanan yang ada.

"Mungkin dengan kondisinya seperti itu, ia jadi awet hidup karena tak berpikiran macam-macam," ujarnya.

Mbah Arjo mengaku telah mengalami Gunung Kelud meletus sebanyak enam kali. Namun ia lupa detail tahunnya. Ia hanya mengingat letusan yang paling dashyat tahun 1990. Saat itu dirinya sudah tinggal di lereng gunung tersebut.

Saat Gunung Kelud meletus, ia tak mau dievakuasi dan tetap tinggal di gubuknya itu bersama anaknya.

"Padahal saat itu ketebalan abunya di desa kami saja sampai 1 meter. Namun, ketika mbah Arjo mau dievakuasi, nggak mau. Malah bilang saya nggak usah dievakuasi karena saya sudah kenal semua dan teman saya di sini banyak. Padahal di gubuknya itu, ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. Namun katanya temannya banyak," papar Widodo.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved