Sering Tidak Tidur hingga Waktu Sahur Selama Puasa di Inggris
Waktu buka puasa dan sahur yang berdekatan di Guildford, Inggris membuat Adrian Ghazi Sjahid sering tidak tidur hingga waktu sahur tiba.
Penulis: Ayu Prasandi |
TRIBUN-MEDAN.com - Waktu buka puasa dan sahur yang berdekatan di Guildford yaitu sebuah kota besar di Surrey, Inggris membuat Adrian Ghazi Sjahid sering tidak tidur hingga waktu sahur tiba.
“Karena takut kelewatan waktu sahur, jadi setelah buka puasa dan Salat Isya saya tidak akan tidur,” ujar mahasiswa semester 6 di University Of Surrey tersebut, kepada Tribun Medan, Jumat (24/5/2019).
Memang selama tiga tahun menjalankan ibadah puasa di Inggris tepatnya pada tahun 2016 lalu, hal yang paling terasa baginya adalah masalah waktu berpuasanya yang lebih lama dibandingkan di Indonesia.
“Kalau di Indonesia kayak di Jakarta kan imsyak pada pukul 4.30 dan magrib pada pukul 18.00. Nah kalau di sini itu puasanya mulai pukul 03.30 dan buka puasanya pada pukul 20.30, cukup panjang waktunya,” terangnya.
Karena suasana yang biasa saja saat bulan Ramadan, membuatnya walau berpuasa dengan waktu yang lama tapi tidak terasa seperti bulan puasa.
“Beda juga sih rasanya kalau dibandingkan di Jakarta. Di sini gak terasa kalau lagi bulan Ramadan, soalnya kalau di Indonesia kan benar-benar terasa seperti banyak tradisi khas Ramadan serta ada banyak iklan di televisi dengan tema Ramadan sampai banyaknya penjual takjil,” jelasnya.
Selama menjalankan ibadah puasa di Inggris, yang membuatnya senang adalah tingkat toleransi yang ditunjukkan oleh teman-temannya yang tidak berpuasa cukup bagus.
“Paling tiap kali harus menjelaskan ke teman saya yang orang lokal tentang apa itu puasa, mereka selalu kaget karena sampai minum air putih saja tidak dibolehkan. Mereka pikir kalau puasa, hanya minum air putih tidak jadi masalah dan sayapun menjelaskannya,” tuturnya.
Ia bersyukur karena berkuliah di kampus yang juga banyak memiliki mahasiswa muslim dan di kampusnya tersebut juga ada Islamic Society yang selalu mengadakan buka puasa bersama setiap hari dan tarawih bersama.
“Buka puasa di kampus menyenangkan, apalagi untuk anak kos seperti saya yang tidak harus boros untuk belanja makanan. Jadi bisa dapatkan makanan gratis untuk buka puasa dan bisa buka puasa ramai-ramai dengan teman-teman yang lain,” ungkapnya.
Adanya musala di kampus juga membuatnya lebih mudah menjalankan ibadah puasa dan juga melaksanakan salat sebagai pelengkap dan penyempurna ibadah puasanya.
“Di kampus ada musala jadi mudahlah untuk beribadah. Tapi memang kalau di jalan-jalan susah kecuali harus ke masjid besar yang letaknya jauh,” jelasnya.
Berburu takjil dan menikmati takjil khas Indonesia seperti Kolak, Bubur Sumsum, Es Buah adalah hal yang paling dirindukannya selama menjalankan ibadah puasa di Inggris. Namun selama ini Andrian selalu memasak makanan terutama untuk menu sahurnya.
“Kalau sahurkan harus di tempat saya tinggal dan biasanya masak sendiri. Biar tidak repot, saya sering masak nasi goreng dan ayam goreng saja. Cari restaurant yang menyediakan makanan halal di sini memang cukup sulit,” terangnya.
Lebaran tahun ini, Adrian belum memiliki rencana untuk berlebaran di Indonesia karena lebaran tahun ini bertepatan dengan masa ujian di kampusnya.
“Lebaran tidak pulang ke Indonesia karena waktunya samaan dengan ujian. Jadi harus rela tidak pulang kampung,” katanya. (pra/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/adrian_.jpg)