Begini Harapan Pengamat dan Warga soal Eksistensi Lapangan Merdeka Medan

Bangunan di kanan dan kiri sudah memagari visual. Baiknya, harusnya terbuka. Jadi, terasa sebagai ruang terbuka kota dan menjadi orientasi kota.

TRIBUN MEDAN/NANDA RIZKA NASUTION
Masyarakat Kota Medan yang memanfaatkan Lapangan Merdeka untuk berolahraga dan beraktivitas lainnya pada sore hari. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rencana Gubernur Sumatera Utara dan Pemerintah Kota Medan untuk mengembalikan fungsi Lapangan Merdeka mulai serius dari adanya sayembara menjadi desain inti kota tersebut. Mereka melibatkan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Pengamat Perkotaan sekaligus Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Medan Boy Sembiring mengatakan sayembara desain Lapangan Merdeka sudah dilakukan pada periode sebelum ia menjabat.

"IAI dan Pemerintah Kota (Pemko) Medan, di priode kepengurusan yang lalu bekerja sama dalam hal penataan Lapangan Merdeka. IAI memberikan masukan dalam hal strategis secara sayembara," ungkapnya.

Lapangan Merdeka, katanya, sebagai ruang terbuka kota harus menjadi ikon ruang terbuka Medan. Seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal.

"Sekarang, dapat dilihat, kalau bukan orang Medan, dibalik Merdeka Walk itu banyak yang tidak tahu ada lapangan. Bangunan di kanan dan kiri sudah memagari visual. Baiknya, harusnya terbuka. Jadi, terasa sebagai ruang terbuka kota dan menjadi orientasi kota," ujarnya.

Boy menambahkan, sah-sah saja bisa menampung kuliner, kegiatan anak-anak muda serta olahraga. Tetapi, bangunan yang ada harusnya dibuat lebih transparan atau diatur sedemikian rupa sehingga kesan luasan masih bisa didapat.

Hal tersebut bertujuan agar tidak membatasi visual. Semuanya disatukan dalam satu sisi dan penggunaannya secara efektif. Termasuk keberadaan kantor karena sebenarnya itu bukan tempat bangunan.

"Saya juga belum mengikuti desain mana yang dimenangkan dan dipakai untuk dibangun. Tetapi, IAI tidak terlibat langsung dalam proyek. Apakah si pemenang dilibatkan, kita tidak tahu, kita hanya terlibat dala. pengadaan sayembaranya," ungkapnya.

Sementara, begini harapan masyarakat yang acap menggunakan Lapangan Merdeka.

Misalnya Ayu, ia dan teman-temannya mengaku sering berkumpul di Lapangan Merdeka karena lokasinya di tengah kota.

Rumah mereka yang berjauhan, membuat seringkali kebingungan menentukan tempat berkumpul.

"Istilahnya vital karena di inti kota. Kalau kita ada yang di Tembung, ada yang Padangbulan, ada yang Johor rumahnya. Nyarinya kan pasti di tengah-tengah. Yaudah, di Lapangan Merdeka aja lah," katanya Minggu (23/6/2019). 

Mengenai rencana menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Alun-alun, ia mengaku tidak mengerti bagaimana tata ruang seharusnya mengatur itu.

"Jujur, sebenarnya tidak terlalu paham. Tetapi, jika memang mau diperbaiki lebih baik, tentunya senang dan mendukung," ujarnya.

Sama halnya dengan Ayu, masyarakat lainnya, Yesi mengatakan sangat bagus jika Lapangan Merdeka dijadikan sebagai RTH.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved