Benarkah Antibiotik Dapat Dijadikan Obat Jerawat? Begini Penjelasan Dokter

Dr dr Windy Keumala Budianti SpKK menegaskan bahwa Amoxilin memiliki risiko resistensi lebih besar.

Int
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah postingan obat antibiotik viral di media sosial Twitter.

Pasalnya, antibiotik tersebut disebut ampuh menghilangkan dan mengobati jerawat.

Hal ini bermula dari warganet di Twitter yang menanyakan bagaimana cara menyembuhkan jerawat.

Kemudian, pertanyaan tersebut dijawab oleh warganet lain yang telah mempraktikkan Amoxilin dengan air mawar dan disebut manjur untuk mengobati jerawat.

"Liat sebuah tips (Amoxilin dicampur air mawar) di Instagram Story orang hehe aku screenshot, langsung kupraktikkan deh. Dan Asli manjur topcer," tulis seorang warganet.

Hingga kini, unggahan itu telah di-retweet sebanyak 112 kali dan telah disukai sebayak 540 kali, Jumat (21/6/2019).

Postingan soal obat antibiotik yang ampuh untuk jerawat viral di Twitter
Postingan soal obat antibiotik yang ampuh untuk jerawat viral di Twitter (Kompas.com)

Menanggapi hal itu, staf Pengajar Divisi Alergi dan Imunologi Universitas Indonesia (UI) Dr dr Windy Keumala Budianti SpKK menegaskan bahwa Amoxilin memiliki risiko resistensi lebih besar.

"Bakteri yang utama kan Propionibacterium acnes. Dengan Doxycicilin dan Klindamisin sudah cukup. Kalau Amoxilin, risiko resistensi lebih besar," ujar dr Windy saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (22/6/2019).

Menurut dr Windy, pengaplikasian Amoxilin pada wajah tidak akan ada manfaatnya.

Tak hanya dr Windy, staf pengajar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, dr Ismiralda Oke Putranti SpKK juga mengungkapkan bahwa pemakaian antibiotik yang serampangan membuat bakteri/kuman menjadi resisten.

"Itu cara yang salah kaprah. Antibiotik hanya boleh diberikan oleh dokter, karena pemakaian antibiotik yang sembarangan membuat kuman menjadi resisten terhadap antibiotik," ujar dr Oke kepadaKompas.com, Sabtu (22/6/2019).

Menurut dr Oke, penggunaan antibiotik yang tanpa anjuran dokter bisa menyebabkan infeksi yang lebih berat dan bahkan penyakit menjadi kebal dengan obat.

Dr Oke menjelaskan bahwa munculnya jerawat terjadi karena adanya infeksi bakteri Propionibacterium acnes yang sebenarnya normal dalam folikel rambut.

"Tapi karena ada faktor-faktor lain, seperti abnormalitas keratinisasi (yang menyebabkan komedo), kemudian aktivitas kelenjar sebum yang berlebihan dan tidak bisa dikeluarkan sehingga menjadi makanan bagi bakteri P acnes," ujar dr Oke.

Dampak dari banyaknya asupan makanan yang berlebihan bagi si bakteri, menyebabkan kuman dalam folikel rambut mengakibatkan reaksi peradangan dan termasuk salah satu faktor jerawat meradang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved