Pabrik Mancis Terbakar

Tak Kuasa Menahan Tangis, Putri Berlari Kepangkuan Bibiknya

Tidak hanya berlari dan memeluk seorang wanita, ia juga menangis dengan kencang.

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Keluarga korban kebakaran menyerahkan data pribadi kepada tim DVI untuk memudahkan mengidentifikasi jenazah, di RS Bhayangkara, Medan, Sabtu (22/6/2019). Tujuh dari 30 korban kebakaran di Pabrik Mancis telah berhasil di identifikasi dan langsung dipulangkan ke rumah duka. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-Selviana Putri (12) berlari menuju pangkuan bibiknya yang sedang duduk di lantai ruang tunggu Posko Ante Mortem RS Bhayangkara Medan, Minggu (23/6/2019).

Tidak hanya berlari dan memeluk seorang wanita, ia juga menangis dengan kencang.

Suara tangisnya mengundang perhatian keluarga korban lainnya.

Bocah berusia 12 tahun ini diduga takut usai melihat kondisi jenazah saat berada di ruang Identifikasi Jenazah RS Bhayangkara Medan.

Ia menangis tidak karuan, meski telah dibujuk oleh seorang wanita untuk membeli eskrim kesukaannya.

Wanita berhijab merah dengan sabar mencoba menenangkan keponakannya yang menangis di pangkuannya.

"Sabar ya, katanya mau beli eskrim. Sudah jangan menangis lagi. Nanti kita beli eskrim," ucap wanita yang menggunakan baju kemeja bercorak batik tersebut.

Selviana Putri merupakan anak dari Sri Wahyuni yang merupakan salah satu korban kebakaran pabrik perakitan mancis gas di Jalan Tengku Amir Hamzah, Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat pada Jumat (21/6/2019) lalu.

Pada peristiwa nahas tersebut dipastikan 30 orang menjadi korban kebakaran dengan kondisi tewas terpanggang.

Tangisan Selviana Putri atau yang karib disapa Putri dijelaskan sang ayah, Sarimin (38).

Ia mengatakan, Putri nangis karena takut.

"Ia (Putri) bilang aku gak mau lihat. Ia diduga ketakutan saat melihat kondisi jenazah. Karena saat saya dipanggil, rupanya ia ikut di belakang dan mungkin melihat kondisi jenazah yang membuatnya takut dan menangis," ujarnya, Minggu (23/6/2019).

Informasi yang berhasil dihimpun, saat kejadian nahas yang merenggut nyawa ibunda Putri bersama 29 orang lainnya, Sarimin turut serta membantu proses pemadaman api.

"Sri bekerja sudah beberapa tahun yakni sekitar lima sampai enam tahun. Yang saya ingat saat terakhir ia bekerja, istri saya menggunakan merah. Kalau untuk firasat, pada hari itu bawaan saya ya mau tidur saja, entah kenapa," ujarnya.

Saat ditanya bagaimana kondisi terakhir istrinya pasca meninggal dunia, Sarimin mengatakan bahwa kondisi sudah tidak dapat ditandai.

"Ia sudah tidak tanda lagi. Sudah berhasil diidentifikasi, kemungkinan hari ini kami akan membawa pulang jenazah istri saya. Saya memiliki anak dua orang yang pertama Putri dan kedua adiknya Raihan Syaputra (7)," pungkasnya.

Pantauan Tribun Medan di RS Bhayangkara Medan, pihak keluarga korban masih menunggu hasil identifikasi jenazah yang dilakukan oleh petuy6gas.

(mft/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved