Tribun Wiki

Titi Gantung Kota Medan, Bukan Sekadar Jembatan Penyeberangan

Kolonialis Belanda sering bersantai pada sore hari untuk menikmati sore di Kota Medan.

Titi Gantung Kota Medan, Bukan Sekadar Jembatan Penyeberangan
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Warga berkunjung ke Titi Gantung Kota Medan di Jalan Kereta Api No.2 B, Kesawan, Kec. Medan Bar., Kota Medan, Sumatera Utara, hari Senin (24/6/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com-Titi Gantung di Stasiun Besar Kereta Api Kota Medan.

Selain sebagai Tak hanya menjadi objek wisata. Namun, masyarakat Medan juga sering menjadikan tempat berswafoto, tempat muda-mudi bersantai sambil menikmati pemandangan Kereta Api yang melintasi bawah titi tersebut.

Titi Gantung dibangun pada tahun 1885, setelah dibukanya Perusahaan Kereta Api Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Titi Gantung ini dibangun dengan arsitektur yang unik dan khas Melayu.

Titi Gantung ini diperuntukkan sebagai jalan lintas dan penyebrangan jalan kaki bagi calon penumpang Kereta Api, maupun pengunjung, dan penonton berbagai kegiatan yang ada di Tanah Lapang Merdeka. Seperti pasar malam dan kegiatan lainnya.

Selain sebagai sarana penghubung, ternyata jembatan yang bergaya klasik Victoria ini merupakan tempat favorit kolonial Belanda pada masa Hindia Belanda.

Kolonialis Belanda sering bersantai pada sore hari untuk menikmati sore di Kota Medan. Bahkan pada malam hari, banyak orang Belanda yang bersantai di jembatan ini sambil menghisap cerutu.

Saat ini telah memperoleh status sebagai cagar budaya. Seiring berjalannya zaman, jembatan ini juga pernah berfungsi sebagai pusat penjualan buku bekas.

Namun pada tahun 2013 lalu, sejumlah pedagang buku bekas yang biasa berjualan di sekitar jembatan sudah direlokasi dari Jembatan Titi Gantung. Kini fungsi jembatan tersebut telah dikembalikan seperti awalnya yaitu untuk penyeberangan dan wisata.

Prasasti Titi Gantung.
Prasasti Titi Gantung. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Pada malam hari, banyak pengunjung yang datang ke Titi Gantung untk mengagumi indahnya ornamen khas kolonial Belanda yang masih tampak jelas. Tidak sedikit juga yang datang untuk mengagumi lokomotif yang lalu lalang hingga terparkir rapi.

Selain itu suasana di sekitar Jembatan Titi Gantung juga semakin cantik saat sore hingga malam hari. Lampu jalan semakin menambah keindahan jembatan, begitu juga degan tampaknya bangunan Vihara Setiabudi atau yang disebut Kuan Te Kong.

Bagi para pengujung yang sedang menikmati pemandangan di atas Titi Gantung Kota Meda. Jangan bingun dan takut kejauhan, karena pusat jajanan atau pusat kuliner tak jauh dari Titi Gantung tersebut.

Tinggal hanya pengunjung yang memilih, mau membeli makanan dan minuman pedagang kaki lima yang berada di Titi Gantung, atau ingin membeli makanan dan minuman di stand-stand kuliner Stasiun Kereta Api, dan tempat pusat Kuliner Kota Medan di Tanah Lapang Merdeka. (cr22/tribun-medan.com)

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved