TRIBUNWIKI

Mengulik Sejarah Lapangan Merdeka Medan sebagai Destinasi Wisata

Lapangan Merdaka Medan yang kini sering disebut masyarakat Medan dengan sebutan Merdeka Walk atau Lamerk.

Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Kondisi Lapangan Merdeka Medan, Rabu (24/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kota Medan memiliki banyak tempat bersejarah, dan sebagian tempat tersebut menjadi destinasi wisata.

Salah satunya, Lapangan Merdeka Kota Medan. Lapangan ini merupakan tempat bersejarah dan juga menjadi tempat destinasi wisata Kota Medan.

Lapangan Merdaka Medan yang kini sering disebut masyarakat Medan dengan sebutan Merdeka Walk atau Lamerk (singkatan Lapangan Merdeka).

Lapangan Merdeka Medan ini merupakan sebuah alun-alun di Kota Medan, yang terletak di area Kesawan, tepat di pusat kota, dan merupakan titik nol Kota Medan seperti ditetapkan pemerintah kota Medan. Secara administratif, lokasinya berada dalam Kecamatan Medan Petisah.

Uniknya Lapangan Merdeka ini juga dikelilingi berbagai bangunan bersejarah dari zaman kolonial Hindia Belanda, di antaranya Kantor Pos Medan, Hotel De Boer (Dharma Deli), Gedung Balai Kota Lama dan Gedung de Javasche bank (Bank Indonesia).

Di sekelilingnya juga ditanami pohon trembesi yang sudah ada sejak zaman Belanda.

Lapangan Merdeka ini direncanakan pembangunannya sejak 1872, sejalan dengan kepindahan Kesultanan Deli dan pusat administrasi bisnis 13 perusahaan perkebunan dari Labuhan Deli ke Medan.

Kemudian, saat itu lapangan ini aktif digunakan sejak 1880. Pada zaman Belanda, namanya adalah de Esplanade.

Berbagai peristiwa bersejarah berlangsung di Lapangan Merdeka, termasuk upacara penyambutan pilot pesawat yang mendarat pertama kali di Medan pada 22 November 1924.

Pada tahun 1942, nama Esplanade berubah menjadi Fukuraido yang juga bermakna “lapangan di tengah kota”.

Fungsinya tetap sama, sebagai lokasi upacara resmi pemerintahan.

Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, pada 6 Oktober 1945 dilaksanakan rapat raksasa di Fukuraido yang menyiarkan secara resmi berita proklamasi Indonesia, yang dibacakan Gubernur Sumatera Muhammad Hasan.

Pada 9 Oktober 1945, nama Fukuraido berubah menjadi Lapangan Merdeka dan disahkan Wali Kota Medan, Luat Siregar.

Hingga sekitar tahun 1950, di Lapangan Merdeka juga terdapat Monumen Tamiang yang didirikan pemerintah Belanda untuk memperingati tentara Belanda yang menjadi korban dalam Perang Tamiang (1874-96). Di sebelahnya terdapat sebuah geriten (jambur Karo) yang kini juga telah tidak ada.

Saat ini sebagian areal Lapangan Merdeka telah dialih fungsikan, di antaranya sisi barat yang telah menjadi pusat kuliner Merdeka Walk, sisi timur yang berubah menjadi areal parkir bagi Stasiun Medan, sisi selatan yang menjadi kantor polisi dan lapangan parkir motor bagi pengunjung pusat jajanan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved