Komunitas Caferacer, Penunggang Motor yang Beranjak dari Kafe ke Kafe

Para anggota dalam komunitas Caferacer Medan kerap bertemu seminggu sekali pada Jumat Malam. Seperti arisan komunitas motor lain di Medan pada umumnya

Tayang:
Penulis: Alija Magribi |
HO
Kegiatan teman-teman Caferacer yang berkumpul dan touring bersama ke Danau Toba atau sekadar jalan jalan antar kafe di Kota Medan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Lima pemuda asal Kota Medan pemilik motor custom bergenre klasik Caferacer coba mewadahi sesama pecinta motor era perang dunia kedua itu pada 27 Desember 2016.

Dari genre tersebut juga, mereka pun menamai komunitas ini  dengan nama Caferacer.

Dari nama itu juga, Caferacer dapat ditebak kemana dikendarai penunggangnya. Ya, mereka bergerak dari satu cafe ke cafe yang identik dilakukan bangsa barat khususnya Inggris pada tahun 1960-an.

Satu dari lima penggagas Caferacer, Razi (33) mengatakan bahwa dirinya dan teman-teman tertarik membuat perkumpulan lantaran pehobi motor "tempahan" ini tergolong langka di Kota Medan.

Caferacer lebih jarang ditemui, dibanding penunggang motor genre Japstyle, Boober, ataupun Cooper.

"Jadi kita ini kan tergolong jarang juga, bang. Jadi coba deh buat komunitas ini untuk tukar pikiran, tukar sparepart dan sebagainya. Alhasil anggota pun bertambah," ujar Razi.

Dikatakan Razi, anggota tetap Caferacer saat ini adalah 13 orang. Namun saat saat tertentu seperti kopi darat (nongkrong) mereka bisa kedatangan tamu tamu lain sesama pecinta caferacer.

Jumlahnya pun bisa mencapai 30-an orang.

Para anggota dalam komunitas Caferacer Medan kerap bertemu seminggu sekali pada Jumat Malam. Seperti arisan komunitas motor lain di Medan pada umumnya.

"Jadi selain nongkrong dari kafe ke kafe kita itu punya sekretariat sendiri. Sekretariat kita ada di Jalan Seroja, Medan Sunggal. Nah, di sana kita ngumpul tuh, biasanya ngebahas mau ke mana terus kegiatan apa masing-masing." ujar Razi.

Tak jarang, mereka juga meyisikan donasi untuk sesama manusia yang dilanda kesulitan.

Teranyar,ujar Razi mereka mendonasikan bantuan perlengkapan sekolah dan sembako untuk pelajar di Kaki Gunung Sinabung," cerita Razi mengingat program mereka awal 2019 lalu.

Disinggung terkait alasan pria yang bekerja sebagai penyiar radio swasta di Medan ini menyukai Caferacer, Razi mengatakan keistimewaan Caferacer ada pada ujung belakang motor yang cembung.

Adanya itu membuat penunggang Caferacer lebih eksklusif karena tidak bisa ditumpangi.

"Pembeda kita kan di belakangnya itu yang agak cembung. Jadi sejarah mulanya motor ini dipakai untuk balapan pada zaman perang dunia. Masa-masa itu motor balapnya seperti ini, bukan seperti MotoGp. Balapannya itu patokannya dari kafe ke kafe, seperti namanya," ujar Razi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved