Walhi Sumut Minta Izin Pertunjukan Lumba-lumba di Siantar Dicabut

Rombongan Wersut Seguni Indonesia (WSI) yang menampilkan atraksi kontroversial lumba-lumba telah tiba di Kota Pematangsiantar.

Walhi Sumut Minta Izin Pertunjukan Lumba-lumba di Siantar Dicabut
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Sejumlah aktivis pecinta satwa melakukan aksi unjuk rasa menolak pertunjukan sirkus lumba-lumba di Medan, Sumatera Utara, Minggu (16/6/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com - Rombongan Wersut Seguni Indonesia (WSI) yang menampilkan atraksi kontroversial lumba-lumba telah tiba di Kota Pematangsiantar.

Di Kota Siantar, WSI rencananya akan beraksi mulai 23 Agustus hingga 29 September 2019 di sebuah lahan di Jalan Melanthon Siregar milik Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PDPAUS).

Rombongan WSI pernah mendapatkan penolakan dari aktivis pecinta hewan saat menggelar pertunjukan di di Komplek MMTC Pancing. Saat itu, selebritas Manohara ikut dalam unjuk rasa.

Manohara turun ke lapangan menolak sirkus lumba-lumba di Komplek MMTC Pancing, Sabtu (22/6/2019).
Manohara turun ke lapangan menolak sirkus lumba-lumba di Komplek MMTC Pancing, Sabtu (22/6/2019). (Tribun Medan/Alija Magribi)

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut Dana Tarigan meminta pemerintah daerah untuk menutup pertunjukan tersebut.

Baca: Manohara: Sirkus Lumba-lumba Bukan Edukasi, Tapi Eksploitasi Satwa

Baca: Kepala Desa Senang Lumba-lumba yang Tersesat di Sungai Kualuh Bisa Diselamatkan

Baca: Viral, Video Lumba-Lumba Putih Biru Muncul di Sungai Kualuh, 9 Fakta Lain Si Ikan Langka Air Tawar

Dana Tarigan yang terkejut rombongan itu bisa melenggang masuk ke Kota Siantar mengharapkan pemerintah daerah mencabut izin pertunjukan yang mengeksploitasi hewan yang dilindungi tersebut.

Dana Tarigan menjelaskan pertunjukan itu sebuah bentuk penyiksaan terhadap Lumba-lumba. Dana membantah pertunjukan itu sebuah bentuk dari edukasi atau pendidikan.

"Padahal di luar negeri dilarang karena penyiksaan. Jangan diklaim itu sebagai pendidikan atau edukasi. Karena itu sama sekali tidak ada edukasinya. Mereka mencari keuntungan dengan memanfaatkan hewan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu," katanya saat dihubungi via seluler, Sabtu (3/7/2019).

Dana mengatakan, masyarakat yang ingin melihat tingkah lumba-lumba bisa datang ke badan konservasi atau langsung ke laut.

"Ini hanya berorientasi bisnis, tidak ada bicara edukasi. Kalau edukasi ada badan konservasi atau lihat di laut. Itu hanya untuk profit saja. Masyarakat menjadi tumbuh stigma bisa dipelihara. Padahal itu menyiksa mereka. Eksploitasi untuk keuntungan. Kami harap pemerintah daerah menutup saja pertunjukan itu. Tidak memberikan izin untuk itu," tegasnya.

Dana menyayangkan Pemko Siantar melanggengkan kehadiran pertunjukan Lumba-lumba hanya karena untuk pemasukan daerah. Padahal, tidak sebanding menjaga keberadaan lumba-lumba dengan pemasukan. Dana menilai solusi yang tepat pemerintah pusat membuat keputusan yang diedarkan ke seluruh daerah untuk melarang atau menolak pertunjukan Lumba-lumba.

"Kami berharap pemerintah pusat menyurati seluruh pemerintah daerah tidak menampung atau memberikan izin kepada mereka. Karena mereka bukan lembaga konservasi. Selama ini kan, Pemda ini merasa enggak ada dilarang oleh pemerintah pusat. PAD juga berapa dibanding dengan stigma masyarakat hewan itu bisa dipelihara?" ujarnya.

Wahana pertunjukan Lumba-lumba dari Wersuit Seguni Indonesia (WSI) telah berdiri di Jalan Melanthon Siregar, Sabtu (3/8/2019). Pertunjukan ini rencananya digelar pada 23 Agustus hingga 29 September 2019.
Wahana pertunjukan Lumba-lumba dari Wersuit Seguni Indonesia (WSI) telah berdiri di Jalan Melanthon Siregar, Sabtu (3/8/2019). Pertunjukan ini rencananya digelar pada 23 Agustus hingga 29 September 2019. (Tribun Medan/Tommy Simatupang)

Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui PD PAUS memberikan izin ke WSI untuk mendirikan pertunjukan di lahan PD PAUS dengan kontribusi Rp 100 ribu per hari.

Amatan tribun-medan.com di lokasi pertunjukan, podium yang menampilkan gambar lumba-lumba melompat telah didirikan. Pada bagian dalam terdapat kolam berbentuk bulat.

Selang yang berasal dari sumur bor masuk ke dalam kolam yang memiliki kedalaman hampir 10 meter itu. Pada sisi kolam terdapat satu karung garam. Seorang pekerja mengatakan pertunjukan ini akan menampilkan dua ekor lumba-lumba. (tmy/tribun-medan.com)

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved